Prisma

Dialog: Wanita dalam Suara Hati Wanita

Pengantar

Persoalan wanita bagaikan tak pernah habis sebagai bahan pembahasan orang di mana-mana. Berbagai penelitian, konferensi dan diskusi tentang kehidupan dan peran wanita berlangsung sejak dulu sampai sekarang. Pengulangan pembahasan memang seringkali membosankan, apalagi banyak pembicara tak bisa melepaskan diri dari lingkaran masalahnya. Soal wanita sebagai obyek, peran ganda, kelemahan dan kelebihan wanita, bidang pekerjaan dan masalah lain dibahas dari sisi pengamat luar sehingga penjelasannya pun menjadi subyektif.

Tapi, apa dan bagaimanakah persoalan wanita itu? Beberapa wanita dengan latar belakang yang berbeda di Jakarta dan kota-kota lain mencoba menyuarakan hati mereka. Soal karier, profesi, peran ganda, keluarga, organisasi, perkawinan, suami dan anak-anak disampaikannya secara terbuka berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing.

“Dialog” Prisma kali ini menampilkan pengalaman dan pandangan Sunarti, janda dari penyair kenamaan W.S. Rendra, yang kini lebih sering terlihat dalam kegiatan religius di Yogyakarta; Pia Alisjahbana, dosen dan wartawan yang telah berkecimpung dalam tugasnya selama tiga puluh tahun di Jakarta; Tuti, wanita dari desa yang kini bekerja sebagai baby sitter di Jakarta; Rae Sita Supit, bintang filem dan manajer hubungan masyarakat pada sebuah hotel berbintang empat di Jakarta; dan Ny. Nuryati, isteri salah seorang kepala desa di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang memperoleh penghargaan Kalpataru 1985. Mereka menyampaikan pengalaman dan pendapat yang beraneka macam tentang persoalan wanita yang tampaknya juga kompleks, tetapi tak pernah tuntas.  Redaksi.

Poligami, Bentuk Keserakahan Manusia

Sunarti, sejak tahun 1980 bercerai dengan suaminya, penyair dan dramawan, W.S. Rendra. Dia merasa dirinya tak punya pekerjaan tetap. Namun dengan beberapa kali main filem dia mampu menghidupi kelima anaknya. Bagi Sunarti, kehidupannya sekarang sangat ditupang oleh karunia Tuhan. Mukjizat! Sunarti adalah wanita yang dibesarkan di lingkungan kehidupan keluarga Jawa di Yogyakarta.

Mubazir, Bila Potensi Wanita Tak Dimanfaatkan

Pia Alisjahbana, pengasuh beberapa majalah wanita dan staf pengajar pada Fakultas Sastera, Universitas Indonesia, Jakarta, tergolong sebagai wanita profesi. Lebih 30 tahun lamanya dia berkecimpung di dunia pendidikan, dan sekarang juga seorang wartawati. Tahun 1985 ini, dia mengikuti Konferensi Wanita Internasional di Nairobi, Kenya, yang terdiri dari 1.500 lokakarya tentang berbagai masalah wanita dari seluruh penjuru dunia. Profesinya sebagai redaktris dapat ditekuninya dan kreativitasnya berkembang karena punya waktu lebih banyak setelah anaknya besar. Salah seorang puterinya kini menuntut ilmu di Amerika Serikat. Pia Alisjahbana berbicara tentang profesi, peran ganda wanita, keluarga, anak dan masalah kewanitaan.

”Tugas Baby Sitter Seperti Guru TK”

Tuti adalah wanita desa kelahiran Jawa Timur. Dia dibesarkan di Lampung setelah ikut orangtuanya bertransmigrasi spontan pada tahun 1960-an. Ketika dia merampungkan pendidikan tingkat SMP keluarganya ditimpa musibah. Ayahnya tiba-tiba terserang kebutaan tanpa diketahui penyebabnya. Kata orang, sang ayah terkena “guna-guna” orang yang iri akan kemajuan usaha (dagang) keluarganya. Tuti, puteri sulung dari empat bersaudara, dilanda kepedihan yang mendalam. Dia tak dapat melanjutkan pendidikannya, dan menganggur.

Ketika masih bersekolah dulu, sebenarnya Tuti sering berlibur ke rumah saudaranya di Jakarta. Jarak Lampung—Jakarta memang tak seberapa sehingga bukan merupakan halangan baginya untuk mencari pengalaman di Ibukota. Jakarta pulalah yang menjadi tumpuan harapan Tuti setelah ayahnya kena musibah dan dia tak bersekolah lagi. Desa Sidomulyo, Lampung Selatan, ditinggalkannya pada tahun 1979 dengan tekad untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Tapi apalah artinya secarik ijazah SMP untuk mengadu nasib di kota besar di mana ribuan pencari kerja lainnya yang berijazah perguruan tinggi juga sulit mencari pekerjaan?

Tapi nasib baik tampaknya berpihak kepada perempuan desa ini. Di depan rumah saudaranya terdapat sebuah yayasan penyalur baby sitter. Iseng-iseng Tuti mengikuti les selama tiga bulan dengan uang pendidikan Rp. 40 ribu. Lulus dari pendidikan dan pemeriksaan sinar rontgen melaporkan badannya sehat, mulailah kehidupan Tuti sebagai seorang baby sitter. Kini dia menjadi baby sitter pada sebuah keluarga pegawai bank yang tinggal di Pondok Karya, Jakarta Selatan.

Wanita Itu Menghemat Energi

Rae Sita Supit, 40 tahun, telah bekerja sebagai Public Relation Manager, Hotel Sahid Jaya, Jakarta, selama 7 tahun. Sesungguhnya wanita berdarah “Indo” ini tak punya latarbelakang pendidikan hubungan masyarakat. Tapi katanya, dia betah dan mencintai pekerjaan itu karena cakupan tugasnya amat luas serta menantang. Pengetahuan bidang interior design yang diperolehnya di New South Wales University, Australia, ternyata dalam tugasnya ini juga berguna, misalnya untuk renovasi interior hotel.

Selain sebagai wanita profesional, Rae Sita juga dikenal sebagai artis. Tatkala menjadi mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) dulu, dia ditawari bermain film oleh Usmar Ismail (almarhum). Itulah saat pertama kali Rae kenal dunia layar putih. Sampai sekarang ibu dari tiga puteri ini masih sering ditawari bermain filem, meski hanya “numpang lewat” di layar perak sebagai figuran. Suaminya tak melarang dia ikut kegiatan ini. Tapi justeru untuk bidang pekerjaan PR, suaminya – yang hanya setahun lebih tua dari Rae – pernah menyindir secara berkelakar, karena Rae terlalu sering berada di luar rumah. Lalu apa kata Rae Sita tentang profesi, keluarga dan soal kewanitaan?

Wanita Desa Butuh Contoh Nyata

Ny. Nuryati, 50 tahun, isteri kepala desa Suparno Atmowidodo, pada suatu hari menangis menyaksikan kemiskinan penduduk desa Gombong, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Berbagai penyakit, seperti desentri, typhus dan busung lapar menjadi langganan penduduk desa di kaki Gunung Slamet ini. Tingkat pendidikan mereka rendah sekali. Mereka tak mampu mengatasi kesulitan hidupnya. Keadaan tanah pertanian sungguh memprihatinkan, tandus dan berbatuan. Tanah pertanian tadah hujan di desa ini hanya cocok ditanami jagung. Air minum menjadi masalah utama penduduk karena upaya mencari sumber air tak pernah berhasil.

Karena di desa ini tak ada sumber penghidupan yang layak, sebagian besar laki-laki terpaksa mencari nafkah di luar kota. Kaum wanita tetap tinggal di desa bergulat untuk mempertahankan hidupnya. Selain mengurus anak-anak, kaum wanita desa Gombong juga sibuk mengolah tanah.

Sebagai isteri kepala desa, Ny. Nuryati, ibu dari lima anak dan nenek dari tiga cucu ini, tak berpangku tangan. Lewat organisasi Wanita Tani Utama dia bekerja keras untuk memerangi kemiskinan desanya. Setapak demi setapak usaha ini membuahkan hasil. Desa yang sebelumnya kering kerontang, kemudian mulai bersinar. Jerih payahnya mengantarkan desa ini memperoleh penghargaan Kalpataru 1985.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan