Prisma

Dialog: Yang Muda Yang Beragama

Pengantar

Orang-orang tua mengkhawatirkan agama orang-orang muda. Yang muda mempertanyakan cara orang-orang tua beragama. Adakah yang salah dan siapa yang salah? Di mana letak kesalahan? Mungkin tidak perlu kita mencari siapakah yang bersalah dalam hal ini, karena agama sungguh sangat tergantung dari cara menghayatinya. Justru di situlah muncul masalah yang menyangkut orang-orang muda. Apakah mereka masih beragama? Kalau masih, mana jenis penghayatannya? Dalam hubungan itu tidak mudah menentukan kadar hidup religi seseorang. Kesulitan terutama karena kita tidak memiliki ukuran yang positif untuk menentukan itu. Orang bisa berpura-pura sangat religius dalam suatu hati yang keropos. Sebaliknya kebinalan hidup orang lain tidak harus mengundang vonis tanpa ampun bahwa dia jahat.

Begitulah dalam “Dialog” Prisma kali ini ditampilkan mereka yang mencoba mencari jalannya sendiri, mencari alternatifnya sendiri.

Ismed Natsir, 25 tahun, adalah seorang Islam mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Asnawi Latief, Islam, 36 tahun, adalah anggota MPR, dari Partai Persatuan Pembangunan.

Julius R. Siyaranamual, 32 tahun, Kristen Protestan, adalah seorang sarjana muda Sekolah Tinggi Teologia, Jakarta. George Yunus Adicondro, Kristen Katolik, 32 tahun, adalah wartawan majalah TEMPO.

Mereka semuanya masih cukup muda. Namun mereka tidak menuntut bahwa pendapatnya mewakili pendapat yang muda yang lain. Tetapi kalau pendapat mereka mampu mengawali dialog buat suatu pencaharian lebih lanjut, maka mereka sudah menyumbangkan sesuatu. Redaksi.

Orang bahkan membutuhkan sebatang kretek untuk bertemu Tuhan, Julius R. Siyaranamual, Pemimpin Usaha majalah Kawanku

T. Tigapuluh tahun adalah masa yang cukup lama untuk beragama. Selama itu apa pengalaman beragama yang terpenting dalam kehidupan anda? Dan apa yang masih sisa dari agama dalam diri anda?

J. Saya sadari bahwa satu-satunya yang sisa dalam diri saya adalah ketakutan. Ketakutan untuk melakukan sesuatu.

T. Atau ketakutan untuk tidak melakukan sesuatu?

J. Sama saja! Ketakutan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tidak ada bedanya. Kalau sekiranya kau mau memprotes tentang sesuatu maka sebenarnya kau takut bahwa apa yang kau protes itu sebenarnya bertentangan dengan perintah Tuhan. Tapi kau dipaksa protes, sehingga kesan saya adalah bahwa agama itu cuma terdiri dari ancaman-ancaman. Agama hanya menjadi kaidah moral semata-mata. Sedangkan buat saya, sebenarnya agama bukanlah masalah moral saja. Yang terutama buat saya dalam agama adalah soal kepercayaan terhadap sesuatu yang abadi, mutlak dan sempurna. Di sana tercakup hubungan saya dengan yang abadi. Sifatnya intim, pribadi, dan bukanlah didominir oleh ketakutan-ketakutan.

Kebutuhan akan “rasa aman” mendorong anak muda beragama, Asnawi Latief, Anggota MPR RI.

Secara kwantitatif orang muda merupakan kelompok terbesar dari jumlah penduduk. Kwalitatif, mereka memegang peranan, setidak-tidaknya diharapkan demikian di masa depan. Secara psikologis, mereka sering dikatakan sedang mengalami masa peralihan. Tetapi tidak hanya secara psikologis; secara sosiologis pun mereka sedang menyaksikan masa peralihan itu, di mana tata-nilai sedang mengalami pembaharuan dan perubahan akibat perkembangan keadaan. Kesemuanya ini bagaimana pun juga, punya pengaruh terhadap gaya beragama orang muda. Ada beberapa hal yang saya pikir agak menonjol pada mereka ini. Masa peralihan ini menimbulkan semacam rasa tidak puas terhadap masa kini. Mereka benar-benar menaruh perhatian dan meletakkan harapan pada masa depan. Ada semacam kegelisahan, dan banyak di antara mereka mencari pegangan dan “pengayom” dalam agama. Ini terlihat dari respons yang sangat besar dari anak muda terhadap kegiatan keagamaan yang saya saksikan sendiri. Di beberapa kampung ada kelompok-kelompok pemuda mesjid. Mereka menyelenggarakan pengajian, diskusi keagamaan dan berbagai kegiatan serupa lainnya.

Agama lebih bersifat “ke dalam” daripada “ke atas”, George Yunus Adicondro, wartawan

Saya memeluk agama Katolik belum puluhan tahun, karena baru pada usia 16 tahun saya dibaptis. Katolik saya pilih secara sadar. Saya tidak di fait accomplit karena dibaptis sejak bayi. Karenanya, jika sekarang saya hendak meninggalkan pilihan itu, haruslah dengan alasan-alasan yang sangat kuat. Misalnya, kalau saya melihat ada agama lain yang lebih cocok secara rasional dan emosional. Tetapi secara rasional pun saya melihat masih banyak yang harus digali dari agama itu.

Agama dan kaum muda

Sering dikatakan bahwa orang muda sudah tidak lagi beragama dan semua kekalutan sosial yang berlangsung adalah karena itu. Penilaian semacam ini sebetulnya dibuat orang dengan memakai ukuran-ukuran fisik, misalnya kepatuhan akan seremoni. Bagi saya, yang penting dalam agama bukanlah seremoninya. Saya merasa jenuh dengan semua aspek seremonial. Sakramen-sakramen sebenarnya sudah tidak banyak maknanya, demikian juga aspek yuridis formalnya. Saya berpendapat demikian, karena agama tidak lain daripada semacam komunikasi antara kita dengan hati nurani. Sehingga buat saya agama akan lebih bersifat “ke dalam” daripada “ke atas”.

Di Eropa pun ada anggapan demikian. Orang muda di Eropa katanya, sudah tidak lagi beragama, karena gereja-gereja kosong atau hanya dikunjungi oleh orang tua-tua dan wanita. Tetapi di pihak lain, semangat pengabdian pada Dunia Ketiga di sana sebenarnya cukup besar. Itu terjadi bukan semata-mata karena adanya guilty feeling sebagai bekas penjajah. Tetapi kalau mau ditinjau dari aspek agama maka semangat tersebut berdasarkan

George Yunus Adicondro

motif dan inspirasi keagamaan. Dan bagi saya, motif atau inspirasi keagamaan itu jauh lebih penting dibandingkan dengan jumlah orang yang pergi ke gereja. Secara paralel banyak aktivis yang merasa bahwa kebutuhan intelektual, emosional dan lain-lain tidak terpenuhi lagi dengan pergi ke gereja dan mendengarkan khotbah yang tidak relevan misalnya. Khotbah akhirnya sudah bisa kita hafal. Menjelang pesta ini, kita tahu apa yang harus dikatakan, menjelang Natal apa khotbahnya dan seterusnya. Bagi saya, kebutuhan saya akan bisa terjawab dengan sebuah konfrontasi dengan dunia. Bentuk pergumulan dengan dunia itu tergantung pada profesi kita masing-masing. Buat orang sekarang, makna hari Minggu misalnya bukan terletak dalam pergi ke gereja. Ia bermakna sebagai hari istirahat buat kegiatan kekeluargaan. Mungkin ke gereja hanyalah suatu bentuk dari hari kekeluargaan tersebut, dan hanya itu saja relevansinya hari Minggu misalnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan