Prisma

Diskursus Seksualitas

KEKUASAAN membutuhkan sasaran, obyek dalam ruang dan waktu. Paling tidak sebelum Freud, orang memahami bahwa jenis kelamin terberikan oleh alam atau oleh kekuatan supra-natural, di luar discourse manusia. Kemudian pengetahuan alam — entah biologi, fisika, atau pun psikoanalisa — dengan legitimasi ilmiah, menjelaskan dan mendefinisikan seks sebagai sesuatu yang inheren dalam manusia. Pembedaan heteroseksual, antara pria dan wanita, dijelaskan secara biologis. Baru kemudian di abad 20 ilmu sosial berbicara tentang “konstruksi sosial atas seksualitas”. Artinya, seksualitas disusun oleh masyarakat. Manusia memahami dunia, menciptakan sendiri sejarahnya, dan mendefinisikan dirinya.

Jadi serentak dengan berubahnya pengetahuan kita, berubah juga realitas manusia. The history of sexuality is the history of our discourses on sexuality, ujar Foucault. Seluruh pemahaman kita tentang dunia dan diri kita dibongkar. Pengetahuan tidak jatuh dari langit, ia tidak bisa mengatasi ruang dan waktu. Dengan kata lain, pengetahuan terbentuk dalam kondisi sosial historis yang konkrit. Pengetahuan dalam artinya yang abstrak, termasuk diskursus kita tentang seksualitas, memiliki basis materialnya.

Lantas instansi apa yang menghubungkan aparatus pengetahuan dengan realitas konkrit, yang oleh Foucault disebut discourse, yakni sejumlah gagasan dan argumen yang langsung berkait dengan teknik-teknik kontrol demi praktek sosial? Tak lain adalah “kuasa” (power). Tidak penting dari mana sumber kekuasaan berasal, tapi kekuasaan lah yang mendefinisikan pengetahuan, melakukan penilaian apa yang baik dan yang buruk, yang boleh dan tidak boleh, mengatur perilaku, mendisplinkan dan mengontrol segala sesuatu (termasuk seks), dan bahkan menghukumnya. Artinya, subyek manusia sebagai individu, termasuk subyektivitas seksualnya juga dibentuk dan diatur oleh rejim kekuasaan.

Dengan pemahaman terhadap konsepsi diskursus dan rejim itu maka kita akan sampai pada pengertian yang “baru” tentang seks, misalnya konsepsi gender yakni pembedaan seks yang dibentuk secara sosial, atau konsepsi seksualitas yang mengandung pengertian “diskursif”. Dan seperti halnya kekuasaan, seksualitas juga bersifat relasional. Kuasa dan seks adalah dua sisi dari satu realitas manusia dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Prisma kali ini, dengan redaktur tamu Julia I. Suryakusuma, menyajikan sebuah nomor tentang seksualitas. Tulisan yang dihimpun memperlihatkan pelbagai pemahaman dan sudut pandang kita tentang seksualitas, baik pada tingkat teoritis maupun di tingkat praktek diskursif. Redaksi

Pemimpin Umum: Arsnal Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktor Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SIUPP: No.072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5; Pencetak: PT. Tempint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan