Buat perempuan dusun seperti Pariyem, emansipasi kedengarannya seperti omong kosong lainnya. Lahir di desa miskin, dia cukup merasa beruntung dapat bekerja sebagai pembantu rumah tangga priyayi. Apalagi ketika tuan muda ternyata menaruh minat kepadanya. Maka, tatkala dia kemudian hamil akibat minat itu, dengan pasrah dia pulang ke dusun, melahirkan anaknya di sana. Anehnya, dia kembali juga ke rumah tuannya, kali ini membawa serta seorang bayi, tanpa minta dinikahi atau mengajukan usul perubahan nasib. Dia pulang pada kedudukannya yang lama, mengulang peranan lama, tanpa sedikitpun merasa ternoda. Di benak Pariyem, hidup dengan tuan muda sudahlah merupakan rahmat, sekalipun dia tetap pada derajatnya yang lama dan terus dengan kerja kerasnya. Tentu saja Pariyem hanyalah seorang tokoh dalam novel Linus Suryadi.
Namun jika Pariyem begitu sumarah, perempuan dusun yang lain mengubah nasibnya dengan melawan ketidakmungkinan. Nyai Ontosoroh mengawali nasibnya juga sebagai gadis desa yang malahan terlalu muda ketika dipaksa jadi gundik Mellema. Tetapi gabungan antara politik ethis tuannya dan ambisi serta dendam perempuan itu sendiri telah menghasilkan seorang penguasa usaha partikulir yang besar. Bukan itu saja, perempuan dusun ini bahkan memberontak terhadap asal-usulnya sendiri, dan tak jera melawan realitas kolonial yang terus-menerus mengalahkannya. Tak kenal menyerah dalam kungkungan kolonial yang berkepanjangan, Nyai Ontosoroh hampir-hampir menjadi proyeksi dari Sang Ibu Pertiwi sendiri. Tentu saja, dia pun hanya bisa hadir dalam roman Pramoedya Ananta Toer.
Tetapi kalau keduanya terlahir sebagai perempuan dusun, mengapa citranya kemudian begitu jauh berbeda, malahan demikian berlawanan? Tentu ada berbagai sebab, dan nasib memang selalu mengusik kita dengan teka-teki. Namun ada satu hal yang agaknya pantas diingat: perjalanan hidup mereka menjadi begitu berbeda, setelah mereka bertemu dengan dunia yang berlainan. Pariyem bertemu dengan priyayi Jawa, dan Nyai Ontosoroh bertemu dengan dunia Mellema.
Bagi Pariyem, barangkali dunia priyayi itu begitu mempesona, sehingga bersentuhan saja dengannya sudahlah merupakan karunia. Dia tak meminta diangkat menjadi anggotanya; tak terlintas di angannya untuk menjadi perempuan priyayi yang anggun dan halus, yang tak tercemari hidup kasar, apakah itu pasar, kerja keras, ataupun hiruk-pikuk dunia luar. Dia agaknya cukup puas hanya dengan ada di sisinya, menjadi pelayannya. Dan sikap marahnya jadilah padanan yang pas untuk menghidupkan kembali mimpi tentang harmoni dan keserasian, yang menyembunyikan pemerasan dalam bungkus yang lembut. Kita bisa berkata Pariyem hidup dalam kesadaran semu, tetapi kesadaran itu alangkah memabukkan.
Kesadaran itu juga begitu memabukkan pada Nyai Ontosoroh. Dendam perempuan dusun yang bertemu dengan alam politik ethis itu seperti melahirkan sikap melawan dan dorongan pembebasan yang tak habis-habisnya, sekalipun harus melewati tapal batas kemungkinan. Di sini kesanggupan asli perempuan dusun untuk bergumul dengan hidup, membuat keputusan besar tentang investasi, produksi dan distribusi, seperti menemukan saluran besar. Maka Nyai Ontosoroh lantas melampaui citra busuk segala nyai, menerobos struktur yang membelenggunya, bahkan melampaui dirinya sendiri. Dia adalah model bagi perempuan yang melampaui batas kemungkinan, dan karena itu hanya bisa hadir dalam imajinasi.
Tetapi, manakah di antara kedua citra itu yang memantulkan sosok perempuan Indonesia? Pertanyaan ini barangkali tak layak untuk sebuah roman atau novel. Tetapi mereka mewakili kecenderungan kita untuk bergoyang antara dua ujung ekstrim bila berbincang tentang perempuan. Cita-cita emansipasi telah menggugat kita semua terhadap apa yang dianggap sebagai derajat rendah dan kedudukan perempuan yang terbelakang. Di sekolah, di pasar, di pabrik, di kantor, kita coba hitung jumlah wanita dan tingkat upah mereka untuk mengukur seberapa jauh mereka telah terlibat dalam “kemajuan”. Sementara itu, kita pun tak mau kehilangan wajah ibu yang sejuk dalam tugas reproduksi alami dan tinggal di rumah untuk memberi cinta kepada anak-anak manusia. Barangkali kita harus terus bergoyang di antara dua ujung itu, karena kita sendiri telah memperbesar jarak antara rumah dan kancah sosial ekonomi, lewat modernisasi, industrialisasi, kemajuan. Dan di titik persimpangan itu, seorang perempuan akan terpaksa tertegun serta bertanya diri: apa yang kau cari, Kartini?