Prisma

Dunia yang Damai, Kemanusiaan yang Sejahtera Menyongsong Tahun 2000

Banyak dimensi yang dapat dibuka untuk mempermasalahkan “perdamaian dan kesejahteraan” jadi lebih mencekam. Tidak sedikit detail yang dapat ditampilkan buat melukiskan kian suramnya gambaran masa depan umat manusia. Sebaliknya, banyak pula kemampuan manusia yang belum dikembangkan untuk menangani masalah “perdamaian dan kesejahteraan”.

Dan manusia adalah makhluk yang paling mampu membuat pemusnahan secara sistematis terhadap kemanusiaan itu sendiri. Dia dihinggapi ambivalensi dan paling tidak-berkepastian tentang masa depannya. Manusia mendambakan perdamaian dan kesejahteraan, tetapi dia juga tidak pernah terhindar dari perang dan sengketa. Dia mengembangkan dirinya menjadi makhluk yang membudaya, namun ia tak sepenuhnya dapat ingkar terhadap dorongan naluri yang animal sifatnya.

.Pendapat ini diketengahkan Prof. Dr. Fuad Hassan, kini Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri, Departemen Luar Negeri dalam “Dialog” kali ini. Bekas Dutabesar RI di Kairo, Mesir, Gurubesar Universitas Indonesia dan bekas Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu mengingatkan, sejarah kemanusiaan sendiri menjadi saksi utama bahwa dunia yang damai, kemanusiaan yang sejahtera, dunia yang bebas sengketa dan tanpa krisis adalah absurditas. Oleh karena itu, kata Prof. Dr. Fuad Hassan, pembangunan sebagai tindakan menciptakan kondisi yang lebih menjamin kesejahteraan kemanusiaan harus tetap dilakukan, meskipun perang tidak dapat dijadikan kemustahilan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan