Prisma

Ekonomi Indonesia: Formasi dan Siklus Industrialisasi

Pengantar

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia amat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi luar negeri; lambannya pertumbuhan ekonomi negara-negara pembeli komoditi ekspor Indonesia dan kebijaksanaan ekonomi negara tersebut terhadap mata dagangan dari negara sedang berkembang, menurut Prof. Dr. Suhadi Mangkusuwondo, ikut mengerem laju pertumbuhan ekonomi nasional. Jatuhnya harga minyak dan komoditi ekspor Indonesia di luar negeri membawa dampak yang panjang dalam seluruh segi kehidupan negara dan masyarakat Indonesia.

Mengecilnya permintaan barang-barang primer dari negara-negara maju, lanjut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan, Departemen Perdagangan RI ini, bukanlah berita baru dan Indonesia sudah mengantisipasinya sejak dulu dengan kebijaksanaan industrialisasi. Tapi ekspor komoditi tradisional tetap dilanjutkan sebab nilainya masih cukup besar mengiringi ekspor industri manufaktur yang mulai tampak hasilnya.

Ekonom yang memperoleh gelar Doktor dari Universitas California, Berkeley (1967) dengan desertasi berjudul Indonesia’s Efforts towards Industrialization, ini menilai Indonesia sudah makin berkembang dalam tahap-tahap industrialisasinya. Makin banyak dan bervariasinya produk industri cukup melebarkan basis perdagangan internasional Indonesia, tidak terbatas pada beberapa komoditi utama saja, seperti minyak bumi pada masa yang lalu. Pola “formasi angsa terbang” dan “siklus produk” dari negara-negara industri maju dan baru bisa dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhannya.

Dalam “Dialog” Prisma kali ini, Prof. Dr. Suhadi Mangkusuwondo membahas beberapa faktor luar negeri terhadap perekonomian Indonesia, beban hutang luar negeri, investasi dalam negeri dan prospek ekonomi Indonesia tahun 1987/88 dan Pelita IV ini. Redaksi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan