Prisma

Ekonomi-Politik Situs Bersejarah

Dua tahun terakhir memperlihatkan penggunaan kata “budaya” kian meningkat, setidaknya dalam perumusan kebijakan ekonomi di Indonesia. Fenomena itu juga menunjukkan keinginan sebagian lapisan masyarakat Indonesia yang terwadahkan dalam politik pemerintahan Jokowi, yang tampaknya menghendaki adanya peran budaya yang semakin besar dalam pertumbuhan ekonomi. Titik balik ekonomipolitik di negeri ini terlihat jelas pada 2015 dengan munculnya semacam optimisme untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan budaya sebagaimana diarahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Banyak institusi mengambil tema-tema budaya sebagai bahan diskusi mulai dari pembahasan tentang kebudayaan di fakultas budaya di berbagai perguruan tinggi, yang kemudian diliput media, hingga ke pelosok desa—tempat lahir dan berkembangnya budaya “autentik” masyarakat Indonesia. Di sisi lain, pembangunan hingga ke tingkat desa diharapkan juga dapat mengurangi ketimpangan antara desa dan kota sehingga akan terjalin simbiosis mutualisme. Bahkan, di berbagai daerah perbatasan muncul harapan agar tradisi dan adat setempat tidak pindah menyeberang ke budaya negeri tetangga.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan