Prisma

Ekonomi Pribumi: Kenapa dan Bagaimana?

Masalah ekonomi pribumi bukan hanya persoalan ekonomi melulu. Di dalamnya juga berbicara faktor-faktor non ekonomis yang turut jadi penentu.

Thee Kian-wie, ekonom dari Lembaga Kebudayaan Nasional (Leknas-LIPI) melihat kaum Tionghoa di Indonesia adalah golongan imigran yang meninggalkan negerinya menghindari penindasan dan kemiskinan, dan berkeinginan hidup lebih baik dari negeri leluhurnya. Di perantauan mereka menjadi orang yang memiliki tekad bekerja keras. Keuletan keturunan Tionghoa juga diakui oleh Ir. R.H.S. Bratanata, Menteri Pertambangan RI dalam Kabinet Ampera, 1966-1967. Keuletan itu, katanya, tak dapat disebut “kesalahan” mereka, jika akhirnya membuat mereka lebih kuat dalam perekonomian dibandingkan dengan kaum pribumi. Usaha menumbuhkan kekuatan ekonomi pribumi, kata Bratanata, harus dilakukan oleh pemerintah dengan suatu keyakinan dan bukan dengan kebijaksanaan yang terlihat hanya sebagai “baju politik” yang dipakai selagi diperlukan saja. Sedangkan seorang pengusaha muda, Ir. Siswono Judo Husodo, Direktur Utama PT Bangun Cipta Sarana, membantah pendapat yang mengatakan bahwa sebagian besar perekonomian Indonesia sebetulnya bukan dalam tangan non pribumi. Namun, Siswono melihat bahwa dalam masa belakangan ini terasa keadaan yang lebih baik bagi pengusaha pribumi itu sendiri.

Pendapat ketiga orang inilah yang muncul dalam “Dialog” kita kali ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan