Prisma

Etos Sosial: Siapakah Kita Sesungguhnya?

Pengantar

Dongeng Abu Nawas versi mutakhir menceritakan kehadiran tokoh yang banyak akal itu di pasar loak yang memperjualbelikan otak bekas. Di pasar itu banyak pembeli, dan jenis otak yang mendapat banyak pasaran adalah otak Jerman dan Yahudi. Abu Nawas tak mau ikut selera mereka. Si cerdik ini membeli otak Indonesia yang tak pernah ditawar. Ada yang bertanya: “Kenapa?” Abu Nawas menjawab, bahwa otak laris yang banyak dibeli orang itu sebetulnya otak yang sudah aus. “Yang saya beli ini,” kata Abu, “masih utuh, karena belum banyak terpakai.” Lelucon ini beredar di Indonesia dan ia menertawakan orang Indonesia sendiri. Si empunya cerita mungkin mau mencemoohkan keburukan yang ada pada bangsanya. Siapakah kita sesungguhnya?

Tentang ini Prisma mengajak bicara seorang sastrawan, Saleh Iskandar Poeradisastra (55 tahun). Wawancara ini dilakukan oleh Masmimar Mangiang, Rustam Ibrahim, Sasmito Djojoradin, Daniel Dhakidae. Dia berbicara tentang pendidikan, cara kita bekerja, kecenderungan untuk korup serta sulitnya menemukan kesediaan berkorban pada diri kita untuk kepentingan bersama-sama. Poeradisastra tahun 1953-1958 bekerja sebagai Redaktur majalah Indonesia yang diterbitkan BMKN, menjadi Anggota Panitia Sensor Filem, dan mengisi rubrik “Tinjauan Budaya” di Radio Republik Indonesia Program III. Selama lima tahun (1960-1965) dia menjadi Dosen Luarbiasa pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dalam rangka kerjasama RI dan Uni Soviet dia menjadi Gurubesar pada Universitas M. V. Lomonosov, Moskow, Juni 1962 sampai dengan September 1964. Kini Poeradisastra sering menulis untuk majalah berita mingguan Tempo, dan sedang menyiapkan beberapa buku, antara lain dua novel dalam bahasa Inggeris dan buku sejarah kebudayaan Indonesia. Dia dahulu terkenal lewat esei-esei yang dia tulis.

Redaksi.

Tanya: Penghargaan masyarakat terhadap sesuatu menunjukkan tingkat atau jenis budaya masyarakat tersebut. Dalam dunia pendidikan kita memiliki persepsi dan sikap tersendiri terhadap ilmu. Dalam hubungan itu, masyarakat kita belum menunjukkan sikap yang sama untuk semua cabang ilmu. Cabang ilmu tertentu dipandang lebih tinggi dari cabang ilmu lainnya, dan mereka yang memilih profesi di bidang yang dianggap lebih ini, oleh masyarakat dianggap lebih terpandang dari yang lain.

Apa yang membuat masyarakat berpandangan demikian?

Jawab: Kita mengukur sesuatu berdasarkan sukses material, dan inilah yang mempengaruhi pandangan kita. Dari sudut ini seorang dokter, arsitek, atau seorang apoteker memiliki sukses material yang lebih kentara di mata masyarakat. Karena itu pula mereka lebih dihargai dari seorang sejarawan, antropolog, sosiolog, matematikus dan sebagainya. Dan karena belum mampu membuat perataan pendapatan, kita seakan-akan tidak mampu merubah pandangan seperti itu.

T: Jika yang menjadi patokan adalah sukses material, kenapa seseorang yang tidak memiliki latarbelakang akademis, tidak selalu lebih terpandang, walaupun sukses materialnya lebih besar dibandingkan dengan orang yang memiliki latarbelakang pendidikan tinggi. Misalnya, seorang pedagang kelas menengah yang sukses tapi hanya tamat SLP, tidak memperoleh penghargaan sebaik yang diperoleh seorang dokter di mata masyarakat.

J: Saya pikir, hubungan antara penghargaan sosial dengan pendidikan senantiasa ada. Yang menimbulkan penghargaan dalam masyarakat kita—yang dipengaruhi tradisi priyayi—adalah pekerjaan yang mendapat landasan pendidikan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan