Prisma

Freeport: Tanggapan untuk G.J. Aditjondro

Saya ingin menanggapi tulisan atau penelitian yang kelihatannya “ilmiah” dengan dukungan kepustakaan yang cukup mengesankan yang ditulis oleh Saudara G.J. Aditjondro, berjudul “Dapatkah Soroako dan Tembagapura menjadi Pusat Perkembangan Daerah?” yang dimuat dalam Prisma edisi No. 8, Agustus 1982.

Tulisan atau penelitian tersebut saya nilai banyak kekurangan-kekurangan yang berpokok kepada: kekeliruan penggunaan data-data; mengambil kesimpulan salah dari referensi kepustakaan; dramatisasi dari kenyataan-kenyataan sebenarnya; serta mengandung banyak prasangka dan bersifat tendensius.

Saya ingin membatasi diri dan hanya memberi tanggapan terhadap hal-hal yang prinsipiil atau cukup menyolok sebagai berikut:

  1.  Dengan mengutip Forbes Wilson, penulis di halaman 48 mengatakan tumpukan bijih tembaga di bawah tanah yang baru-baru ini ditemukan akhirnya akan menghasilkan produksi 3,5 juta ton bijih tembaga setiap tahun. Ini tidak dikatakan oleh Wilson, karena yang ia tulis adalah antara lain: below ground copper deposit were recently dis- Covered nearby that ultimately may turn out to have five or more times as much copper as Ertsberg”.
  2. Penulis mengatakan bahwa sesudah delapan tahun beroperasi singkapan dihabiskan dan karena itu Freeport mulai mengeksploitasi tumpukan baru (halaman 51). Ini mengelirukan, sebab walaupun singkapan sudah dieksploitasi, namun sisa endapannya sekitar tujuh juta ton masih ada dan kini tetap dieksploitasi.
  3.  Di halaman 51 penulis mengatakan bahwa “setiap ton biji diperkirakan berisi 8,24 gram perak dan 0,77 gram emas, dengan mengutip “Tempo” memberi kesan, Freeport kaya dengan emas. Kesan ini diperkuat oleh penulis dengan pernyataan “seorang anggota Serikat Buruh” (halaman 51). Sebagai seorang sarjana, penulis mestinya tahu bahwa anggota tersebut bukanlah seorang ahli. Yang sebenarnya ialah bahwa: 1.000.000 gram biji mengandung 25 kilogram atau 25.000 gram tembaga dan hanya 0,77 gram (kurang dari 1 gram) emas, jadi 1 per milliun!
  4.  Di halaman 52 penulis mencoba memberikan analisanya tentang keresahan di kalangan penduduk pribumi (Amungme dan Tsinga) yang memuncak di tahun 1977 dengan memberi kesan, seakan-akan “perlawanan rakyat” (istilah penulis) ditujukan kepada Freeport. Rupanya penulis tidak ingat lagi bahwa kerusuhan-kerusuhan pada waktu itu timbul sebagai pantulan gerakan pengacau keamanan yang dimulai di Jayapura.
  5.  Ketendensiusan penulis juga terlihat ketika ia mengibaratkan posisi Tembagapura sebagai “daerah kantong Amerika dalam lingkungan Melanesia” (halaman 48). Seyogyanya penulis diharapkan lebih bijaksana dalam menggunakan istilah “Melanesia” yang pada saat-saat belakangan didengung-dengungkan oleh pihak-pihak yang anti RI.
  6.  Di halaman 52 ditulis, bahwa “penduduk Waa digusur berulang-ulang oleh Freeport dari kampungnya halaman mereka di tepi sungai Aghawagong”. Yang dikutip oleh penulis adalah tulisan Sonny Sungkowo berupa surat terhadap redaksi yang dimuat dalam majalah Bina Desa, Desember 1980. Pertama-tama perlu dinyatakan bahwa tidak pernah terjadi penggusuran penduduk Waa yang sebenarnya dengan mudah dapat dicek oleh penulis dengan Pemerintah Daerah Tingkat I dan II Irian Jaya. Ketendensiusan penulis sebagai sarjana kelihatan karena ia tidak merasa perlu mengutip tulisan Freeport di majalah yang sama bulan April 1961, yang menguraikan segala macam bantuan Freeport kepada penduduk sekitar daerah kerja Freeport, termasuk Waa.
  7.  Di halaman 53 penulis menyebut perusahaan menolak memasukkan kesejahteraan pekerjaan setempat dalam Perjanjian Perburuhan Bersama (CLA). Maafkan, pengetahuan penulis rupanya tidak up-to-date, karena pada tanggal 22 Desember di Fak-Fak telah ditandatangani Perjanjian Kerja Bersama Khusus mengenai karyawan setempat antara Freeport dan Serikat Buruh dengan disaksikan oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjen Binalindung Propinsi Irian Jaya.
  8.  Penulis juga rupanya tidak mengetahui bahwa di Freeport tidak ada seorang pun karyawan Korea (halaman 53).
  9.  Dengan menyebut adanya tenaga kerja Filipina tanpa mengemukakan alasan kehadiran mereka di Freeport, penulis juga menunjukkan memiliki prasangka terhadap Freeport. Rupanya penulis belum meneliti bahwa karyawan tambang Filipina diijinkan oleh Pemerintah Indonesia bekerja di tambang bawah tanah Freeport yang baru operasional karena mereka sudah berpengalaman bekerja di tambang tembaga bawah tanah di negeri mereka. Sedang tambang bawah tanah semacam ini baru ada di Indonesia di perusahaan Freeport. Dalam 2,3 tahun mereka akan diganti oleh karyawan tambang Indonesia yang sekarang sedang dilatih.
  10.  Kami agak kecewa bahwa seorang sarjana yang sudah berpengalaman banyak dalam pengembangan lingkungan hidup dan aktif mengikuti seminar di dalam dan luar negeri mengatakan begitu mudah bahwa perubahan iklim pegunungan tinggi yang menyebabkan gletser Gunung Jaya turun sampai beberapa ribu kali disebabkan oleh kehadiran Freeport. Tentunya penulis mengetahui bahwa salju Kilimanjaro juga berkurang setiap tahun. Mungkin penulis juga pernah membaca bahwa Tim Survai Australia di tahun 1969 (jadi sebelum operasi Freeport dimulai) menemukan gletser Gunung Jaya lebih pendek daripada ditemukan oleh Ir. Dozy pada tahun 1936.
  11.  Kami tidak mengira bahwa seorang sarjana seperti penulis telah menerjemahkan istilah “expatriate” dengan “pekerja yang meninggalkan kewarganegaraannya” (halaman 51, 43). “Expatriate” tidak lain artinya “tenaga kerja asing” (yang tetap mempertahankan kewarganegaraannya).
  12.  Kesimpulan kami ialah, judul tulisan atau penelitian penulis kami anggap kurang sesuai dengan isinya yang ternyata lebih banyak melontarkan kritik-kritik kepada perusahaan PMA. Apakah maksud penulis sebenarnya?, FREEPORT INDONESIA, INC. Imrad Idris Manajer Humas

Keterangan Redaksi

  1. Untuk tanggapan no. 1 sampai dengan no. 10 dan no. 12, lihat jawaban Saudara G.J. Aditjondro.
  2. Untuk tanggapan no. 11, kesalahan menerjemahkan istilah “expatriate” bukan terletak pada penulis. Naskah asli tulisan Saudara G.J. Aditjondro adalah dalam bahasa Inggris, dalam penerjemahannya ke bahasa Indonesia, kesalahan tersebut luput dari perhatian redaksi. Redaksi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan