Masyarakat terbuka dianggap sebagai prasyarat bagi tegaknya demokrasi. Namun, keterbukaan bukan berarti memberi keleluasaan sebebas-bebasnya tentang semua hal, terhadap semua hal, dan kepada semua orang. Pembicaraan tentang masyarakat terbuka kerap dibenturkan dengan masyarakat tertutup. Bagaimana seharusnya kita memandang sebuah masyarakat? Apakah masyarakat disebut terbuka lebih baik daripada masyarakat tertutup? Masyarakat terbuka seperti apa dan demokrasi yang bagaimana yang kita butuhkan? Dialog Prisma kali ini menghadirkan budayawan Goenawan Mohamad yang menyaksikan dan mengalami perjalanan tiga era perpolitikan Indonesia: Demokrasi Terpimpin, Orde Baru dan Reformasi. Bagaimana perspektif salah seorang penanda tangan Manifesto Kebudayaan itu, berdasarkan pengalaman kehidupannya, ketika mengupas sebuah konsep masyarakat terbuka di tengah era keterbukaan sekarang ini? Berikut hasil wawancara MA Satyasuryawan dengan bekas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu.

Goenawan Susatiyo Mohamad (GM) ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia terkemuka. Budayawan kelahiran Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini adalah pendiri (1971) dan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo (1971-1993 dan 1998-1999). Pernah bekerja sebagai reporter Harian KAMI (1967-1970) dan memimpin Majalah Ekspres (1970-1971). Belajar psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1960-1964), ilmu politik di Collège d’Europe, Brugge, Belgia (1965-1967) dan mengikuti program Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat (1989-1990).
Menghasilkan berbagai karya sastra antara lain kumpulan puisi dalam Parikesit (1971), Interlude (1976), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998); kumpulan esai dalam Potret Seorang Penyair Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), dan Catatan Pinggir (7 jilid). Buku lainnya adalah Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai (2007), Kali, A Libretto (2008), Tan Malaka (2009), Indonesia/Proses (2011), Marxisme, Seni, Pembebasan (2011), dan Tokoh+Pokok (2011).
GM pernah mendapat beberapa penghargaan di antaranya Professor Teeuw Award (Leiden, 1992), The Louis Lyons Award (Harvard, AS, 1997), The International Press Freedom Awards (AS, 1998), International Editor of the Year Award (AS, 1999), Khatulistiwa Literary Award Indonesia Best Fiction Award (2001), The Wertheim Award (Amsterdam/Leiden, 2005), dan Dan David Award (Tel Aviv, 2006).