Sejauh ingatan saya yang pendek, “Kesaksian Ganja Kering Basah Air Mata” adalah cerpen Martin Aleida yang pertama kali saya baca. Tentu saja saya membacanya ketika pertama kali muncul di laman Harian Kompas di hari minggu, tepatnya 13 Oktober 2003 silam. Kesedihan dan keterlibatan Martin Aleida pada permasalahan bangsa dan merekamereka yang tak beruntung melalui karyakaryanya tak perlu kita ragukan lagi. Martin Aleida, penulis kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943, pada awal 2019 lalu menerbitkan kumpulan cerpen Kata-kata Membasuh Luka melalui Penerbit Buku Kompas. Saya kira, inilah buku termutakhir Martin Aleida setelah pada 2017 dia menerbitkan Tanah Air Yang Hilang: Wawancara dengan Orang-orang “Klayban”, juga diterbitkan oleh penerbit yang sama.
Barangkali kebanyakan dari pembaca mengidentifikasikan Martin Aleida sebagai penulis dengan spesialisasi permasalahan 1965; khususnya keberpihakan pada korban dari G30S 1965 dan kejadian-kejadian setelahnya di dalam konteks itu. Pembacaan demikian, mendapat legitimasinya lantaran Aleida sendiri adalah salah satu dari para korban itu. Bagi saya, jika bercermin pada cerpen-cerpen Aleida di dalam Kata-kata Membasuh Luka, pembacaan seperti ini tidaklah tepat. Memang, cerpen-cerpen di dalam buku ini banyak membicarakan perihal 1965. Namun, kita mesti membaca Martin Aleida lebih luas dari itu. Tentu saja bukan berarti perihal 1965 tidaklah penting. Martin Aleida sendiri pun mengakui bahwa untuk itulah dia menulis. Di dalam Tanah Air yang Hilang—buku tentang kisah para eksil 1965— kita jelas menemukan itu. Aleida (2017) menulis demikian di sana, “kepada mereka ingin saya sampaikan bahwa penguasaan katakata saya jelas tidak memadai untuk menangkap semua gejolak dan dambaan mereka sebagai orang-orang yang terbuang. Namun, simpati, kesetiakawanan, dan keberpihakan saya menjulang buat mereka semua. Karena itu dan untuk itu saya menulis.”
Pembacaan atas Martin Aleida yang lebih luas ini akan saya mulai dengan “Kesaksian Ganja Kering Basah Air Mata” (hal. 161-170). Pemilihan itu bukanlah lantaran di dalam cerpen tersebut sajalah pembacaan atas Martin Aleida yang lebih luas itu bisa kita dapatkan. Alasan saya lebih sederhana dari itu; “Kesaksian Ganja Kering Basah Air Mata” adalah cerpen pertama Martin Aleida yang saya baca dan mungkin karena alasan itu pulalah, cerpen tersebut yang paling terpateri di dalam benak saya.
***