Pengantar
AKADEMI Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia telah memutuskan bahwa Hadian Peringatan Alfred Nobel dalam Ilmu Ekonomi tahun 1979 diterima oleh Profesor Sir Arthur Lewis dari Universitas Princeton, USA dan Profesor Theodore W. Schultz dari Universitas Chicago, USA untuk karya-karya rintisan mereka dalam penelitian pembangunan, dengan tekanan khusus pada permasalahan-permasalahan ekonomi negara-negara sedang berkembang.
Arthur Lewis adalah sosok pemimpin dan perintis dalam penelitian ekonomi mengenai masyarakat di negara-negara sedang berkembang. Studi-studi pokoknya sejak pertengahan tahun 1950-an, yakni Economic Development with Unlimited Supplies of Labor (1954) dan Theory of Economic Growth (1955), telah diikuti oleh serangkaian studi lanjutan dan karya-karya penting lainnya. Yang paling berarti di antaranya adalah Seri Kuliah Wicksell pada tahun 1969 (“Aspek-aspek Perdagangan Tropis, 1883-1965”) dan buku terakhirnya yang cukup penting Growth and Fluctuations, 1870-1913 (1978).
Lewis telah memecahkan permasalahan yang merupakan dasar dari sebab-sebab kemiskinan penduduk negeri-negeri sedang berkembang dan tingkat pembangunan mereka yang tidak memuaskan. Model-model penjelasan teoritis, yang dirancangnya untuk menggambarkan dan menjelaskan permasalahan pokok negeri sedang berkembang, telah memperoleh banyak sambutan hangat. Sambutan itu juga menimbulkan perdebatan-perdebatan ilmiah yang luas dan menghasilkan serangkaian perubahan dan penyempurnaan terhadap dasar-dasar pemikiran Lewis yang asli. Model-model tersebut juga telah menjadi sasaran pengujian empiris yang memantapkan struktur dan kegunaannya model tersebut secara realistis.
Model pertama didasarkan pada sifat ganda (dualistis) dari sistem perekonomian negara sedang berkembang. Ada sektor pertanian yang berfungsi secara tradisional dan terutama didasarkan pada pemenuhan kebutuhan sendiri, yang melibatkan tenaga kerja dari sebagian besar penduduk, dan ada pula sektor modern yang berorientasi pasar, terutama yang bergerak dalam produksi barang-barang industri. Tenaga dorong dalam perekonomian berpangkal dari sektor yang disebutkan terakhir, yang mampu berkembang berkat dukungan persediaan tenaga kerja yang tidak terbatas melalui perpindahan penduduk dari sektor pertanian, dan para pekerja yang menerima upah rendah berhubungan dengan standar hidup dan kebiasaan-kebiasaan di daerah pertanian yang umumnya terbelakang. Keuntungan yang diperoleh di sektor modern (“kapitalis”) menciptakan kenaikan dalam tabungan yang membentuk pembiayaan modal untuk perluasan usaha.
Model dasar Lewis yang kedua berkenaan dengan penentuan nilai tukar perdagangan antara negara-negara sedang berkembang dan sudah maju dalam kaitannya dengan bahan mentah dan produk-produk tropis di satu pihak, dan produk-produk hasil industri di pihak lain. Ini juga merupakan model yang sederhana dalam tradisi teori ekonomi klasik. Dua kelompok negeri — selatan dan utara — kaya dan miskin — masing-masing menghasilkan dua jenis produk, salah satunya adalah hasil yang sama yaitu pangan. Dua produk lainnya — dalam model dikatakan “kopi” dan “baja” — saling diperdagangkan. Lewis menunjukkan bagaimana dalam kondisi-kondisi tertentu, nilai tukar perdagangan ditentukan oleh hubungan antara tingkat produktivitas kerja pertanian dalam negeri sedang berkembang dan negeri sudah maju. Menurut model analitik ini, rendahnya produktivitas pertanian dalam negeri sedang berkembang dibandingkan dengan negeri-negeri kaya merupakan faktor yang menentukan nilai tukar perdagangan yang riil di antara dua kelompok negeri tersebut dan menentukan pula perkembangan jangka panjang dari nilai tukar perdagangan tersebut.
Aspek yang menarik dalam analisis model Lewis adalah, model tersebut menampung alasan penting mengenai masalah-masalah kemiskinan dan pembangunan yang dihadapi oleh negara sedang berkembang. Model tersebut dapat juga dipadukan ke dalam keanekaragaman pola-pola pembangunan historis dan statistik dari berbagai negeri Dunia Ketiga.
Pengalaman yang diperoleh Lewis dari berbagai penugasannya sebagai penasehat ekonomi, dan sebagai administrator suatu bank besar, telah memberinya penghayatan yang mendalam mengenai cara kerja para politisi dan penguasa. Pada karya-karyanya yang lebih awal, yakni The Principles of Economic Planning (1949), dan terutama dalam Politics in West Afrika (1965), Lewis telah membahas secara terinci — dari sudut rasionalitas — masalah perencanaan ekonomi yang sulit dilaksanakan karena sistem perencanaan terpusat itu mengabaikan isyarat-isyarat harga yang berlaku pada sistem pasar. Dalam konteks ini, Lewis telah menekankan perbedaan antara “perencanaan dengan pengarahan” (planning by direction) dan “perencanaan melalui pasar” (planning through the market). Pendekatan ini selalu merupakan karakter dari penelitian Lewis dan terutama timbul dalam studinya yang lengkap mengenai “Pertumbuhan dan Fluktuasi.” Ia menggambarkan interaksi antara pembangunan di negeri-negeri industri dan di negeri-negeri sedang berkembang selama periode panjang 1870-1913. Di sini Lewis lebih merupakan ahli sejarah ekonomi — dengan pengamatan sangat cermat terhadap sumber-sumber statistik dan pengolahan kembali bahan-bahan tersebut secara sangat mengesankan. Dalam berbagai aspek yang sangat penting dia memberikan cahaya baru mengenai proses pertumbuhan dan siklus ekonomi jangka panjang dan pendek yang terjadi dalam inti negeri-negeri industri yang lingkungannya dipengaruhi oleh negeri sedang berkembang.
Theodore W. Schultz mulai sebagai seorang ekonon pertanian. Selama tahun 1930 dan 1940-an, dia menerbitkan serangkaian studi mengenai krisis pertanian di Amerika, dan kemudian mengamati masalah pertanian di berbagai negeri sedang berkembang di seluruh dunia. Karyanya pada periode ini yang paling terkenal adalah Agriculture in an Unstable Economy (1945) dan Production and Welfare of Agriculture (1949). Bukunya yang paling penting adalah Transforming Traditional Agriculture (1964). Karakteristik utama studi-studi Schultz dalam ekonomi pertanian adalah bahwa dia tidak memperlakukan ekonomi pertanian secara terpisah, tetapi sebagai bagian terpadu dari seluruh ekonomi. Perhatian analitis Schultz dipusatkan pada ketidakseimbangan antara kemiskinan relatif dan keterbelakangan pembangunan dalam pertanian dibandingkan dengan produktivitas dan tingkat pendapatan yang tinggi dalam industri dan kegiatan ekonomi perkotaan lainnya. Dia menerapkan pendekatan ini pada negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat dan pada banyak negeri sedang berkembang yang dipelajarinya.
Schultz menerima banyak rangsangan bagi analisisnya yang terkemuka mengenai pentingnya sumberdaya manusia bagi pembangunan ekonomi dan sosial dari hasil studinya mengenai permasalahan produktivitas dalam pertanian Amerika Serikat dan dunia sedang berkembang.
Sebagai model kecerdasan buatan berbasis teks, saya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan manipulasi, pengeditan, atau restorasi file gambar secara langsung (seperti meningkatkan resolusi atau menyesuaikan tone warna).
Namun, saya dapat membantu Anda melakukan transkripsi verbatim profesional untuk teks yang terdapat dalam gambar tersebut, sesuai dengan ketentuan ketat yang Anda berikan. Berikut adalah transkripsi teks dari dua gambar yang Anda lampirkan:
Analisis Schultz mengenai potensi pembangunan pertanian didasarkan pada pendekatan ketidakseimbangan, yaitu kesenjangan antara metode produksi tradisional dengan metode lebih efektif yang sekarang tersedia dalam menciptakan kondisi yang diperlukan bagi pengembangan secara dinamis. Schultz adalah orang yang pertama kali membuat sistematisasi analisis mengenai bagaimana investasi dalam pendidikan dapat mempengaruhi produktivitas pertanian serta perekonomian secara keseluruhan. Dengan menyadari keterbatasan metodenya, Schultz mempunyai perkiraan pertama untuk merumuskan dan mengukur besarnya kapital pendidikan dengan menggunakan jumlah akumulasi investasi pendidikan. Proporsi terbesar ongkos-ongkos investasi pendidikan terdiri atas kerugian pendapatan yang diderita karena tidak bekerja selama periode belajar. Karena itu dia lantas membentuk sejenis ongkos-ongkos alternatif yang dapat diperhitungkan dalam konteks pribadi dan nasional.
Schultz dan murid-muridnya menunjukkan bahwa sudah sejak lama terdapat hasil yang sangat besar dalam “kapital manusia” dibandingkan dengan kapital fisik dalam ekonomi Amerika, dan bahwa ketegangan ini lebih banyak disebabkan oleh perluasan investasi pendidikan ketimbang investasi-investasi lainnya.
Schultz selalu berusaha sedekat mungkin dengan realitas ekonomi dalam karya-karyanya, baik kapasitasnya sebagai peneliti ekonomi maupun sebagai penasehat. Dia telah menunjukkan kebijaksanaan sangat besar sebagai seorang ekonom, dengan kemampuan mengagumkan dalam merumuskan faktor-faktor pembangunan di mana cenderung dilupakan oleh penyusun model lainnya. Keluasan pendekatannya juga dinyatakan oleh sejumlah faktor lain dan dalam pengertian yang berhubungan dengan sumberdaya manusia (faktor manusia). Schultz telah mengerjakan penelitian dalam masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit sebagai faktor-faktor sangat esensial Dunia Ketiga, dan juga tentang penduduk sebagai permasalahan umum.
Sepanjang karier penelitiannya, dia telah menunjukkan keterampilan luar biasa dalam mempersoalkan pertanyaan yang relevan serta membuka kesempatan penelitian baru. Hanya segelintir ekonom yang mampu mengerjakan sedemikian banyak hal yang memberi ilham bagi teman kerja dan murid-muridnya melakukan penelitian berharga.
Analisis Lewis dan Schultz mengenai permasalahan pembangunan mempunyai sejumlah kesamaan. Kita dapat melihat bagaimana sumbangan mereka saling melengkapi satu sama lain. Mereka mempunyai titik tolak yang sama. Pembangunan ekonomi, ketimbang pertumbuhan ekonomi, merupakan pusat penelitian mereka.
Karya Schultz terutama berpusat pada sejumlah persoalan strategis yang berhubungan dengan kondisi-kondisi efisiensi penggunaan sumber-sumber produksi. Di sini, Schultz membubuhkan arti penting kepada keterampilan kejuran, sekolah, penelitian serta penerapannya. Schultz adalah perintis penelitian “kapital manusia,” suatu bidang yang sedang berkembang pesat sejak akhir 1950-an.
Efisiensi dan pembangunan pertanian juga berada dalam pemikiran Lewis yang sangat menentukan kondisi dan pertumbuhan di negeri sedang berkembang. Lewis telah memusatkan perhatiannya pada sifat ganda (dual nature) perekonomian negeri sedang berkembang, ketegangan antara sektor pertanian yang besar, dominan dan tidak berubah dengan sektor industri dinamis yang seringkali agak terasing. Dalam arti lain analisa Lewis mengenai produktivitas pertanian yang rendah merupakan suatu faktor penyebab kemiskinan di negeri sedang berkembang dan suatu hambatan pertumbuhan melalui pengaruh terhadap nilai tukar perdagangan dengan negara industri maju.
Kesamaan lain Lewis dan Schultz adalah arti penting yang mereka lekatkan kepada fakta dan penelitian empiris. Keduanya memiliki pengalaman lapangan yang luas dalam berhadapan dengan masalah pembangunan dan menerapkannya ke dalam penelitian mereka. Mereka sangat tertarik dalam aspek kesejarahan pembangunan berbagai bidang yang berbeda dan masalah kebijakan ekonomi. Keduanya sangat tertarik terhadap kebutuhan dan kemiskinan di dunia dan turut terlibat dalam mencari cara pemecahan yang muncul dari keterbelakangan. Dalam konteks ini, Schultz dan Lewis siap memberanikan diri mengambil kesimpulan dan menyusun rekomendasi untuk mengubah kebijakan ekonomi. Mereka juga sangat kritis terhadap kebijakan pertanian dan kebijakan lainnya yang telah dicapai dalam berbagai tahap. Pengalaman mereka yang luas dan dalam mengenai kebijakan ekonomi dan sistem politik yang melandasi negara sedang berkembang membuat penyajian mereka terhadap masalah pokok menjadi hidup dan tulus.
Karena keterbatasan halaman, dalam edisi ini Prisma hanya dapat menyajikan sebuah tulisan tentang salah satu di antara mereka. Pada nomor berikutnya kami berjanji menampilkan tokoh-tokoh Pemenang Nobel bidang Ilmu Ekonomi lainnya. Redaksi