Pengantar
Kartun dan karikatur dalam media cetak di Indonesia memperoleh tempat yang terhormat karena gambar visual ini senantiasa dimuat untuk melengkapi artikel-artikel di media tersebut. Hal ini berbeda dengan kenyataan di media cetak Jepang, misalnya, yang kurang menghargai kartun atau pun karikatur. Kartun di media pers Dunia Ketiga seperti Indonesia, Thailand dan Philippina, menjadi ciri pers sehingga menarik untuk disoroti.
Pers Indonesia menampilkan kartun dan karikatur sebagai ungkapan kritis terhadap berbagai masalah yang berkembang secara tersamar dan tersembunyi. Pembaca diajak untuk berfikir, merenungkan dan memahami pesan-pesan yang tersurat dan tersirat dalam gambar tersebut. Seringkali gambar tersebut terkesan lucu karena mengandung unsur humor sehingga pembaca tersenyum dan tertawa. Pejabat pemerintah atau tokoh masyarakat yang menjadi obyek kartun dan karikatur pun tidak tersinggung, tetapi justeru sebaliknya merasa senang karena dirinya diangkat ke permukaan oleh kartunis.
Kartun memang memiliki keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan artikel. Ia mudah ditangkap pikiran orang tetapi tidak menjelaskan persoalan secara lengkap dan tuntas. Kartun mengangkat persoalan rakyat kecil sampai tingkah laku pejabat pemerintah. Kemudahan dan daya tembus kartun merasuk ke hati sanubari rakyat yang buta hurup sampai guru besar yang sarat dengan cara pandang yang kritis. Karena sifat kartun sering melakukan kritik tajam, nasib kartunis seringkali dikejar untuk diseret ke meja hijau.
Dalam Dialog Prisma kali ini beberapa kartunis seperti, Priyanto Soenarko, T. Sutanto (Bandung), Bambang Sugeng (Gombong), Koesnan Hoesi (Semarang), G.M. Sudarta, Pramono, Dwi Koendoro dan Alex Dinuth (Jakarta), dan Praba Pangripta (Yogyakarta) mengungkapkan berbagai masalah yang berada di balik kartun/karikatur karya mereka. Beberapa kartun dan karikatur yang pernah dimuat di berbagai media cetak juga melengkapinya. Berikut ini petikan wawancara tersebut. Redaksi
Resep Kartun adalah Ide
Priyanto S. lahir di Magelang 10 Mei 1947; kartunis, disainer, konsultan dan Dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung.

Meskipun kegiatan membuat kartun hanya menyita 10 persen dari waktu saya, namun profesi sebagai kartunis merupakan dunia tersendiri sebab saya merasa sebagai seorang yang merdeka. Intensitas dan ide berkreasi datang dari diri sendiri. Dalam hal ini saya merasakan bahwa dunia menggambar memang menyenangkan. Apalagi kehidupan saya di studio grafis selama ini adalah kesenangan bermain-main dengan satire dan humor.
Namun bila dilacak ke masa lalu, tatkala masih duduk di bangku SMA saya sudah sering menggambar kartun dengan kualitas anak sekolah lanjutan atas, dan berlanjut sampai di perguruan tinggi terus menggambar kartun dan gambar-gambar lain. Ketika ada gerakan aksi-aksi mahasiswa di Bandung saya pun ikut-ikutan bersama T. Sutanto menggambar kartun.
Dorongan menjadi kartunis media cetak lebih dipicu karena majalah Tempo memberikan kapling atau ruang kepada saya sejak tahun 1977. Konon, majalah ini bingung karena tampilannya selama ini terasa kering dan serius. Ia ingin memasukkan kartun-kartun yang lucu. Kartunnya tidak serius. Saya pun menggambar kartun lelucon namun absurd. Pada waktu itu sesuatu yang absurd, tidak jelas dan tidak nyambung, sedang ngetrend. Dalam rubrik Opini saya meng-gambar satire sosial.
Baik wartawan tulis maupun kartunis memang dituntut memiliki kemampuan membaca situasi sosial dan politik yang berkembang. Hal ini tidak saja berlaku di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain. Namun sebagai kartunis saya harus mampu membawa diri.
Di majalah Tempo saya tidak merasa diberikan keharusan dan arahan oleh redaksi. Saya bebas berkreasi. Biasanya saya menggambar beberapa kartun lalu mendiskusikan gambar itu bersama redaksi. Dari diskusi tersebut lama kelamaan saya dapat mencium kartun model apa yang disukai dan kartun seperti apa yang tidak disenangi. Kadangkadang redaksi membiarkan saya menggambar kartun yang agak keras bila situasi politik sedang baik dan redaksi tidak takut. Namun bila iklim politik sedang gawat, jangankan memuat kartun yang keras, memuat kartun yang menyentil pun tidak diizinkan. Kartunis dan redaksi senantiasa melakukan proses penyesuaian diri.
Beberapa hal yang dianggap tidak patut dijadikan kartun, menurut pengalaman saya, adalah masalah SARA. Semua wartawan tahu bahwa untuk hal yang satu ini tidak boleh diungkit-ungkit, termasuk oleh kartunis. Lalu hal-hal yang menyangkut Orang Nomor Satu di negeri ini. Namun tergantung situasi politik yang berkembang, kadang-kadang anggota-anggota keluarga Presiden Soeharto masih dapat diangkat menjadi kartun. Senggol sedikit, tak menjadi soal.
Dengan mempelajari kebijaksanaan redaksi dan belajar di Tempo, lalu saya memiliki keyakinan bahwa kartun tidak boleh menyinggung masalah pribadi. Kartunis memilih persoalan, bukan menyerang pribadi seseorang. Hanya memang tidak bisa dipungkiri, kadang-kadang sedikit menyinggung ke soal pribadi tidak dapat dihindari, sehingga kartunis perlu berhati-hati.
Kartunis menyentil persoalan yang muncul; bukan menyinggung kekuasaan atau penguasa. Kita tidak mempersoalkan siapa yang berkuasa dan siapa yang tidak berkuasa lalu terjadi gencet menggencet. Bukan begitu!

Pamflet Politik Sulit Dihindari
T. Sutanto Dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung.

Kartun di Indonesia dalam hal kualitas penyampaian sekarang sudah meningkat dibandingkan dengan masa lalu seperti dengan era Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Dalam bidang estetika kartun sekarang lebih baik. Dulu kartun cenderung vulgar. Sekarang kartun makin halus. Kenapa demikian? Barangkali situasi politik pada masa kini kurang bebas. Sekarang kartunis harus lebih berfikir untuk menyampaikan pesan-pesan dalam kartunnya, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat, sehingga mereka harus selalu memegang harmoni dalam pembuatan kartun agar diterima masyarakat. Sedangkan kartun karya saya tidak selalu harmonis karena saya memang tidak pandai menggambar dan membuat hal-hal yang lucu. Kartun saya masih seperti masa lalu tatkala saya masih aktif dalam kegiatan aksi-aksi mahasiswa, misalnya tatkala bergabung dengan koran Mahasiswa Indonesia cabang Bandung yaitu bernafaskan pamflet politik.

Saya menilai pada umumnya kartun-kartun sekarang kurang bervariasi dalam hal pesan-pesan yang ingin disampaikan. Orisinalitas dalam ungkapan masih kurang dan belum berkembang. Namun mungkin saya keliru. Kartunis melihat kartun-kartun rasanya kurang obyektif. Para pengamat kartun mungkin lebih tepat menilai dan berbeda pendapat dengan saya.
Kartunis berbeda dengan penulis dalam menangkap kompleksitas persoalan yang berkembang. Penulis artikel lebih memiliki inisiatif untuk menulis berbagai masalah sedangkan seorang kartunis harus memasuki “dunia lain” yang sedang hangat dipikirkan masyarakat. Kartunis sulit untuk berinisiatif, misalnya mulai menggambar kartun tertentu, untuk menunjukkan adanya persoalan di masyarakat, terlepas apakah kompleksitas persoalan itu berkembang atau tidak bergulir di masyarakat.
Saya sulit melakukan inisiatif. Saya tidak mungkin membuat kartun ekonomi kalau pada saat itu persoalan ekonomi tidak bertema. Kartun harus punya relevansi dan pantolan dengan perkembangan keadaan. Saya belum memiliki kebiasaan lain, misalnya menggambar kartun yang sedikit filosofis. Bila saya mempunyai kemampuan yang lebih merenung, mungkin saya dapat membuat kartun dengan tema apa saja. Saya akui banyak kelemahan diri saya.
Kartunis lain mungkin lebih mudah dan leluasa membuat kartun atau comic strip. Dwi Koendoro barangkali lebih gampang mengungkapkan sesuatu persoalan secara halus melalui karya Panji Koming-nya. Dia mengungkapkan masalah dalam tahap-tahap, ada tahap awal dan ada tahap akhirnya. Dwi Koendoro bisa memulai dari mana saja dengan uraian dan dialog yang panjang. Ada pengantar dan arahan ke mana pikiran pembaca perlu digerakkan. GM Sudarta dengan Oom Pasikom-nya juga menampilkan teks dan dialognya bermacam-macam. Sedangkan Bambang Sugeng dengan Mat Karyo-nya menampilkan dialog mengenai hal-hal yang hidup di masyarakat. Saya hanya membuat kartun dalam satu panel atau bilang gambar saja. Satu tembakan dan terarah.
Mengolah Kritik dengan Menghaluskan Kartun
G.M. Sudarta Kartunis tinggal di Jakarta

Sejak lama kita telah subur dengan kartun bernafaskan humor. Di Surabaya ada kartun-kartun karya Bambang Sudjiman, Mas Klombrot atau kisah Den Mas Jangkung. Kartun humor memang berkembang tetapi tidak terlalu banyak berubah. Majalah, surat kabar, atau media lainnya masih menaruh kartun humor sebagai menu karena pada dasarnya gambar lebih menarik daripada kata-kata.

Sedangkan naik-turunnya kartun politik (political cartoon) tampak sangat jelas. Saya membuat kartun sejak awal Orde Baru ketika mereka yang berjiwa Orde Lama masih ada. Misalnya ketika saya menggambar kantong APBN kita yang bocor di sana-sini. Gambar ini kemudian ditiru oleh koran pendukung Sukarno, namun bocor-bocor itu dihapus dan diganti sehingga APBN terlihat rapih. Tampaknya pada zaman Orde Lama merupakan periode di mana kita sebagai bangsa tidak mau melihat kelemahan sendiri. Semua kartun Orde Lama dipakai untuk menghantam kolonialisme imperialisme.
Kartun yang selalu menampilkan Sukarno sebagai pemimpin bangsa dan idola masyarakat, pada awal Orde Baru digambarkan sangat berbeda. Kartun memunculkannya bukan lagi sebagai lambang kebanggaan terhadap bangsa tetapi sebagai manusia tua terseok-seok keberatan beban tanda jasa dan tanda pangkat. Kita sepertinya bebas menyampaikan pendapat lewat kartun dan Kartun seolah-olah menjalani bulan madu. Tetapi ini tidak berlangsung lama. Orde Baru pun lama-kelamaan enggan melihat kelemahannya sendiri. Pada gilirannya, koridor penyampaian ekspresi lewat kartun juga semakin sempit. Tetapi bagi kartunis hal demikian menjadi sebuah tantangan menarik. Justru dalam keadaan yang sulit membuat kartunis menjadi kreatif.
Salah satu kritik waktu itu yang sempat muncul lewat kartun adalah di Mahasiswa Indonesia edisi Bandung. Kartunis T. Sutanto di situ membuat sebuah kartun seorang mahasiswa dan tentara yang berjalan beriringan. Kerja sama antara mahasiswa dengan ABRI mungkin ada sedikit friksi, maka kartun mengisyaratkannya dengan mahasiswa yang membawa panji kebenaran dan keadilan bersama ABRI berjalan tegap ke depan. Tetapi bayonet ABRI menghadap ke belakang persis di muka mahasiswa. Di sini kartun berfungsi sebagai early warning bahwa ada yang tidak beres.
Tema memang akhirnya menjadi salah satu penilaian apakah gambar itu dapat dikatakan kartun politik atau kartun humor. Kartun politik cenderung pada komentar terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Sedangkan kartun humor lebih kepada masalah universal atau human interest yang semua orang dapat mengerti. Meskipun suka menyentil politik, tetapi bobot atau unsur utama kartun humor tetap humor itu sendiri dan tidak ada pesan yang disampaikan. Sementara pesan kritik sosial political cartoon justru yang menjadi bobot. Dengan asumsi pembaca mengetahui masalah yang sedang menghangat, maka political cartoon pun juga sangat memerlukan aktualitas.
Kartun Bukan Sekadar Benda Seni
Pramono Ketua Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI)

Sepanjang perjalanan limapuluh tahun Indonesia merdeka terlihat berbagai perubahan dalam kehidupan kartun di Indonesia yang memuncak ketika terjadi pergantian era Orde Lama ke Orde Baru. Kini tidak lagi terjadi “perang kartun” antara koran satu dengan koran lain. Kehidupan karikatur di Bandung, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia terlihat sangat bergairah. Koran-koran gurem saling bersaing memuat karikatur atau kartun opini. Kualitasnya juga sembarangan sebab berasal dari kalangan kampus yang tingkat berpikirnya lebih maju ketimbang yang sekadar bisa menggambar. Cara pengungkapan pun tidak lagi vulgar.

Karikatur di Indonesia jelas hidup dan tumbuh dengan subur. Perkembangannya sendiri bahkan melibatkan perasaan ketimuran orang Indonesia, selain mengikuti kaidah Pancasila atau tidak menyinggung SARA. Karikatur tidak lagi memunculkan sifat kesukuan tetapi menampilkan nasionalisme Indonesia yang tinggi, sehingga kritik ketimuran yang sudah diasah bisa jadi hanya dapat dimengerti oleh orang Asia lain. Artinya, kita mengkritik ibarat tusukan keris yang berlekuk-lekuk. Berbeda dengan cara Barat yang liberal serta verbal seperti ketajaman pedang bermata dua yang langsung merobek dua sisi.
Menghaluskan Sambal
Seorang karikaturis dari Eropa bahkan berani.” Tetapi yang jelas, surat kabar daerah mengatakan karikatur Indonesia sangat halus bagaikan sutera. Mereka yang di luar lingkup orang Indonesia tidak mengerti apa yang dimaksud karikatur Indonesia. Kritik yang tidak terasa, namun kena sasaran, memang memerlukan imajinasi yang tinggi. Semua kreativitas ini tentu dibalut dengan humor agar tidak terlalu kasar. Meskipun demikian ada titik-titik tertentu di mana si karikaturis tetap dituntut menyingkap kehalusannya menjadi sebuah garis yang tajam.
Local Genius Merupakan Kunci Utama
Dwi Koendoro Br. Kartunis

Secara umum kepandaian bangsa Indonesia adalah membuat bunga menjadi lebih indah, komunikatif, introspektif, dan interaktif. Wayang, berdasarkan sejarah, berasal dari India dan mulai kita adaptasi pada abad ke-8. Bila diambil mentah-mentah tentu ada nilai-nilai asing dan tidak kita kenal, meskipun tetap memakai plot antara baik dan buruk. Supaya mengena maka diciptakan plot yang sesuai dengan budaya kita.
Di sisi lain, hidup akan terasa kering tanpa kehadiran ornamen lucu. Raja-raja, terutama, di Jawa kemudian memasukkan unsur klangenan dalam struktur hirarkhi keraton. Sosok punakawan memang diperlukan dan bagi kita menjadi tidak terasa asing serta tidak melanggar pakem protagonis dan antagonis dalam dunia pewayangan. Kita bisa mengkomunikasikan pakem dengan memasukkan unsur-unsur lain.
Dalam goro-goro selalu terungkap dan tercetus kritik terhadap masalah sosial, budaya, dan politik. Kebebasan dan keleluasaan berbicara sangat terasa bahkan mampu menembus dimensi waktu sertamerta berani melanggar “hak asasi logika.” Begitu pula dengan lakon Petruk Dadi Ratu sebagai kembangan adalah sah saja yang sebetulnya sangat kartunal menampilkan sesuatu yang pantas dan tidak pantas. Bahwa Petruk dari kelas rendah berkesempatan menjadi ratu sesungguhnya merupakan parodi.
Artinya, sejak dulu kita sudah memiliki local genius. Budaya bercanda dalam masalah yang berkait dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara hadir sejak lama. Kartun di Indonesia masuk ke dalam salah satu pengembangannya. Misalnya, orang Jawa yang dibesarkan di Jawa, meskipun tidak mendalami filsafatnya, tetap melihat wayang sebagai proforma sudah cukup menarik untuk dibuat sesuatu yang mirip atau bahkan meneruskannya. Namun selama ini yang muncul adalah proforma bukan isinya.
Begitu pula dengan Mohamad Sobary, Ismail Marahimin, almarhum Arwah Setiawan, Darmanto Jatman, Putu Wijaya, dan lain-lain dengan karya masing-masing. Tulisan mereka sangat berbobot dan menggelitik, tetapi kita tetap diajak untuk tersenyum. Jiwa humor yang menyeluruh di negeri ini memungkinkan kita untuk bercanda dengan enak, berbeda dengan luar negeri yang seringkali memakai etnis sebagai bahan untuk “bertempur.” Kita mempunyai local genius yang mampu mengungkap masalah apapun di negeri ini dalam bentuk lebih populer, enak dibaca dan menyegarkan. Daya pikir, akal, ambisi, dan situasi politik mengalami (Dwi Koendoro Br., Pecandu Humor Bandung) di Bandung, perkembangan dan pergeseran tetapi local genius tetap ada.
Agak sulit bagi kita mengkritik atau bersikap oposisi terhadap segala sesuatu yang sebetulnya tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Situasi sekarang sangat peka, dalam artian pemerintah tidak mudah menerima kritik. Kritik dianggap menghina, merusak kebersamaan, keamanan dan ketertiban yang kadang-kadang sudah tidak kontekstual. Bagi saya, kartun belum dan tidak pernah mengganggu kestabilan politik.
Mat Karyo Mewakili Pembaca
Bambang Sugeng, kartunis dan pegawai negeri tinggal di Sempor, Gombong

Saya berkecimpung dalam dunia kartun sudah lama dan latar belakang awal pekerjaan saya sesungguhnya adalah bidang penerbitan pers. Sampai sekarang sudah lima kali saya berpindah kantor, dari satu media ke media lain, bahkan dulu pernah bekerja di perusahaan swasta, dan sekarang menjadi pegawai negeri golongan IVA. Tatkala pindah dari perusahaan swasta ke instansi pemerintah pada tahun 1975, gaji saya anjlok menjadi hanya 10% dari penghasilan semula; hidup keluarga saya menjadi kacau; namun saya tidak terlalu ambruk karena masih memperoleh tambahan pendapatan dari honorarium menggambar kartun di Suara Karya, Jakarta. Saya masih bisa bertahan hidup secara sederhana di daerah sebagai pegawai negeri yang pada tahun 1997 mendatang akan pensiun sekaligus menjadi kartunis lepas.
Keinginan untuk menjadi kartunis sebenarnya didorong rasa iri dan kagum terhadap kakak saya, Sutopo Widjokongko, yang juga seorang kartunis. Tatkala kami berdua tinggal indekost di Yogyakarta dia sering memperoleh honorarium dari majalah Intisari, Varia, Vista, Selecta dan lain-lain. Wesel dari orangtua hanya pas-pas untuk biaya hidup sehari-hari dan membayar kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, pada tahun 1960-an. Kakak saya mampu mencari uang saku tambahan. Saya ingin tampil seperti kakak.

Sesungguhnya saya tidak memiliki bakat menggambar tapi ingin mencari uang tambahan. Kakak saya menyuruh saya belajar menggambar kartun. Berkali-kali Minggu Pagi Yogyakarta selalu menolak kartun saya dengan berbagai alasan. Saya penasaran. Kenapa redaksi selalu menolak kartun saya? Akhirnya saya nekad “ngeblaad” kartun beruang yang dimuat dalam majalah Uni Soviet. Persis sekali karena saya menjiplaknya pakai karbon. Kartun itu saya kirim dan akhirnya dimuat di Minggu Pagi. Saya gembira sekali. Dua minggu kemudian saya pergi ke kantor redaksi dan mau mengambil honorarium. Ternyata redaksi berkomentar: “Kok, gambar Mas Bambang persis sekali dengan kartun di majalah Soviet?” Mendengar ucapan itu, saya malu, langsung pergi. Honorarium tidak jadi diambil.
Pengalaman buruk itu mendorong saya untuk terus belajar menggambar kartun. Coretan saya memang masih kaku sekali. Kakak saya terus menyuruh saya belajar, berlatih menggambar dan cari pengalaman. Lama kelamaan kartun saya akhirnya dimuat di Selecta, Intisari dan Varia. Mungkin saya berangkat dari tukang jiplak kartun dan kini menjadi kartunis, tidak seperti kartunis hebat lainnya yang mempunyai latar belakang pendidikan seni rupa.
Karena pengalaman mencari pekerjaan tidak dimiliki, meskipun saya telah mempunyai gelar Sarjana Hukum pada tahun 1969, saya tidak tahu ke mana saya harus bekerja. Tidak ada saudara dan teman, juga orang tua, yang memberi nasehat kemana saya dapat bekerja, dan di mana ada lowongan pekerjaan. Satu-satunya perusahaan yang dikenal adalah dunia penerbitan koran. Setelah melahirkan akhirnya saya diterima bekerja di harian Pos Indonesia Jakarta. Saya merintis dari bawah sekali. Jabatan pertama saya adalah korektor. Sejak saat itu saya mengenal lebih mendalam lika-liku dan proses penerbitan sebuah koran.
Saya memang ingin mengembangkan diri dan kesukaan berpindah-pindah pekerjaan tak dapat dihindari. Begitu ada tawaran dari pemilik harian Nusantara, Jakarta, kepada saya untuk menjadi karikaturis, langsung saya setuju pindah. Di tempat yang baru rasanya saya memperoleh tempat untuk mengungkapkan ekspresi saya. Karena pimpinan Nusantara memiliki kebijaksanaan redaksional yang kritis, begitu disuruh menggambar karikatur yang tajam, saya senang sekali.
Kartun sebagai Cermin Intelektualitas
Alex Dinuth, wartawan dan karikaturis tinggal di Jakarta
Karikatur adalah produk suatu keahlian seorang karikaturis baik dari segi pengetahuan, intelektual, teknik melukis, psikologis, cara melobi, referensi, bacaan, maupun bagaimana dia memilih topik isu yang tepat. Kita bisa mendeteksi tingkat intelektual seorang karikaturis dari sudut ini. Juga, cara dia mengkritik yang secara langsung membuat orang yang dikritik justru tersenyum.
Karikaturis harus menguasai beberapa teknik penyampaian kritik yang tidak asal-asalan saja. Dan ingat karikatur bukan “poster.” Dalam teknik penyampaian kritik, misalnya, tidaklah perlu menuliskan nama Soeharto dalam gambarnya Pak Harto. Masyarakat harus sudah tahu, mengerti dan yakin bahwa itu adalah karikatur Pak Harto.
Jadi, selain kemampuan karikaturis dalam melukis wajah Soeharto juga tergantung pada intelektual masyarakat pembaca apakah pernah melihat Pak Harto. Masyarakat harus memahami sebuah karikatur dan mampu menginterpretasikannya secara tepat dan baik. Kritik yang disampaikan bukan sekadar kritik hampa, tetapi “how to influence the people” sehingga orang dapat tertawa, tersenyum, marah, sedih seperti halnya dalam jurnalisme umum, tetapi tentu tidak vulgar. Secara langsung atau tidak langsung, karikaturis mengajak masyarakat untuk mengikuti topik situasi dalam interpretasi karikatur. Dengan demikian salah satu tugas dan tanggung jawab karikaturis adalah ikut mendidik dan meningkatkan intelektual masyarakat.
Untuk diketahui, karikatur setiap bangsa dan negara berbeda-beda. Cara-cara sindirannya, misalnya kritik-kritik ala Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan lain-lain memang berbeda. Bahkan antara Indonesia dengan Malaysia banyak berbeda. Hal Ini sangat tergantung antara lain kondisi kultural dan intelektual bangsa yang bersangkutan.
Karikaturis harus pandai-pandai memanfaatkan pula bentuk tubuh atau kebiasaan seseorang. Karikaturis harus memahami betul karakter orang yang hendak dijadikan tokoh karikatur. Misalnya, mantan Presiden AS, Richard Nixon dengan bentuk hidungnya pernah dimainkan untuk menutupi kebocoran sebuah bendungan keuangan negara.

Penampilan karikatur selain menentukan tingkat intelektual sebuah surat kabar atau majalah, sekaligus menjadi tolok ukur intelektual bangsa terkait. Saya pribadi sering pula menurunkan standar intelektual karikatur saya, karena harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan penyerapan masyarakat pembaca. Intelektualitas counterpart kita, yakni masyarakat pembaca, harus diperhitungkan secara seksama. Jadi, di samping mendidik masyarakat, dalam arti meningkatkan intelektual mereka, karikaturis juga harus merakyat.
Maka dengan perkembangan informasi global serta mutakhir dan adanya variabel intelektual berbagai daerah, terlihatlah secara jelas perbedaan tingkat atau mutu karikatur daerah-daerah bila dibandingkan dengan Jakarta, baik dari teknik melukis, teknik penyampaiannya, hasil analisanya, dan sebagainya.
Sering dilupakan, bahwa karikatur harus pula disesuaikan dengan tingkat “kemauan dan keinginan” birokrat kita. Saya berpengalaman, dalam hal dipanggil dan ditanyakan, tentang karikatur yang telah dicetak. Terasa sekali, tingkat sense of humour oknum birokrat tersebut masih rendah atau malah tidak mengerti. Karena itu, secara ideal si karikaturis dan oknum yang dikritik hendaknya mempunyai wawasan pijak yang sama, wawasan yang tidak sempit.
Tipe dan teknik penyajian karikatur juga beragam. Ada yang kelas coretannya “kampung,” tetapi isinya bagus. Ada coretannya masih kelas “kampung,” tetapi isinya juga “kampung.” Ada juga gambarnya bagus tetapi isinya nol. Jadi, isi, watak, bentuk gambar, dan analisis si karikaturis dapat bermacam-macam dalam penampilannya.
Menjadi karikaturis memang tidak mudah, karena harus memiliki kemampuan dan persyaratan-persyaratan tertentu. Pada tahun 1970-an saya pernah mengumpulkan pelukis-pelukis muda berbakat dari Yogyakarta, dalam rangka membuat semacam syndicate karikatur editorial. Ternyata mereka tetap sebagai pelukis biasa dan sulit dibentuk menjadi karikaturis. Latar belakang pemahaman masalah aktual dan sebagainya memerlukan keahlian tersendiri. Apakah diperlukan bakat atau talent tertentu, bukan sekadar dilatih?
Bagaimana menurut Anda perkembangan kartun di Indonesia selama 50 tahun ini?
Perkembangan kartun di Indonesia sesungguhnya bukan terbatas 50 tahun saja. Dunia kartun di Indonesia sudah ada sejak masa penjajahan dan terus mengalami perkembangan sesuai waktu. Lihat saja dalam koran-koran di tahun-tahun perjuangan sejak 1920-an sampai penjajahan Jepang, banyak sekali memuat karikatur dengan gaya, teknik, kritikan bermacam-ragam. Sejak Revolusi perjuangan sampai dengan sekarang pun, teknik penyampaian kritik serta latar belakang pemikiran para karikaturis berkembang sangat pesat.
Apa perbedaan signifikan kartun zaman Orba dengan Orla?
Untuk mengkritik atau menanggapi isu politik tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi politik zamannya. Saya melihat teknik-teknik karikatur dan penyampaian kritik juga berubah sesuai zamannya. Pada generasi yang lebih muda bahkan telah memakai teknik komputer, warna dan sebagainya. Kartun-kartun Orla terasa lebih tajam dalam agitasi politiknya.
Apakah perubahan itu khusus untuk kartun politik?
Kartun-kartun humor juga berubah. Saya sendiri lebih mengkhususkan diri pada editorial cartoon, seperti tajuk rencana koran. Dengan sekilas melihat sebuah karikatur kita dapat menangkap visi, arah, kebijakan sebuah koran terhadap sesuatu isu yang berkembang.
Bagaimana menurut Anda dengan sindyalemen editorial cartoon yang cenderung mengalami penghalusan?
Semakin tinggi tingkat intelektual seorang karikaturis, cara penyampaian kri-tiknya pun semakin canggih. Hal ini biasanya harus sejalan dan serasi dengan policy surat kabar atau majalah yang terkait. Selain itu harus disesuaikan pula dengan kultur kita, budaya politik kita, sistem politik kita, dan sebagainya.
Upaya Bersama Mengangkat Kartun Indonesia
Praba Pangripta, lulusan Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia, Manajer Produksi PT Muria Baru, dan kartunis yang tinggal di Yogyakarta

Kartunis yang hidup di zamannya harus menyesuaikan diri dengan iklim tempat dia hidup. Di Amerika, misalnya, Jimmy Carter bisa digambarkan menyerupai kuda, tetapi di Indonesia tidak bisa seperti itu. Belakangan ini beberapa pejabat tinggi Indonesia, namun tidak semua, sudah mulai “terbuka,” sadar dan senang bila dirinya dikarikaturkan. Mereka justru mengakui itulah karakter diri yang harus dikenali dan tidak dimiliki orang lain.

Secara umum kita berada dalam iklim bernuansa tepo seliro yang kental. Kritik yang disampaikan sering terasa pedas, meskipun maksudnya adalah untuk membuat semacam perbaikan. Tetapi kritik yang mengena sasaran berdasarkan kenyataan yang tak sesuai dengan nurani tidak perlu dibuat secara konfrontatif atau eksplosif. Mereka yang kurang memahami karikatur dan kartun, biasanya berwawasan sempit dan menganggap terlalu serius, cenderung marah bila dikritik. Kritik yang dilontarkan secara halus memang membuat kartunis dapat bertahan lama dibidangnya.
Untuk menikmati kartun memang dibuhkan kadar inteletual tertentu. Kartun adalah “makanan” orang yang mau berpikir. Setiap orang yang melihat kartun mungkin akan tertawa. Sebenarnya dibalik itu ada masalah tersembunyi, yang tentunya membutuhkan pemahaman dan perenungan mendalam, yang hendak disampaikan kartunis. Kelompok dan kalangan tertentu saja yang dapat “menangkap.” Rata-rata kalangan intelektual menyukai kartun dan menganggap bukan dagelan murahan. Kultur kita, di samping menunjukkan tingkat intelektual dan sosial, memang berlainan dalam memahami sebuah karya kartun.
Saya senantiasa menjaga diri dan mengambil posisi tertentu. Daripada dimasukkankandaftar hitam lebih baik tetap dalam jalurkartun ilustrasi yang “aman.” Bagi merekamyang bergelut dalam bidang karikatur mung-kin lebih banyak mendapat teguran pihak-pihak tertentu. Masih banyak “saluran” lainnyayang dapat dipakai bila kartun dianggap ma- salah membuat kita terhambat dengan batasan, keterikatan, dan penguasaan masalah yangterkandung di dalamnya.
Membuat sentilan melalui kartun jelasmemerlukan proses. Pemikiran dan pemahaman masalah merupakan hal terpentingsebelum dituangkan dalam bentuk kartunatau karikatur. Pemahaman dapat ditempuhdengan melakukan referensi silang. Saya pribadi sering membaca media-massa dalamnegeri karena policy dan “aturannya” senafasdengan nurani kita. Media massa luar negerihanya dipakai sebagai komparasi. Karena itukita harus bijaksana melihat, mendengar, danmembaca narasumber. Jadi, seorang kartunisdituntut mengetahui banyak hal, meskipuntidak sangat mendalam.
Membuat kartun sebetulnya mudah asalkonsepnya jelas. Untuk menggambar diperlukan waktu relatif singkat, tetapi mengenkristalkan dan memformulasi suatu masalahsehingga dapat dipahami memerlukan prosesyang panjang. Karena terbiasa menggambarbisa saja seorang kartunis mengambil jalanpintas dengan ide-ide yang dangkal. Ide harus dicari bukan datang sendiri. Hal-hal yang surprise dan absurd dapat menjadi ide yangbaik. Bahkan kartunis Priyanto mengatakan gambar adalah nomor dua, karena semakinmemikirkan garis malah semakin mengungkung kebebasan. Bagi saya, selain penyampaian yang harus lucu, kartun harus puladidukung oleh drawing yang baik.
Sebutan plagiator sering menimpa kartunis. Hal ini memang sesuatu yang tidakpantas. Bila dicermati secara mendalam, kartunbenar-benar hasil proses kreatif kartunis. Proses kreatif tidak hanya mencari, tetapi mengamati pula kartun-kartun yang pernahdicetak, sehingga jangan sampai menduakalikan. Bisa saja seorang kartunis merenung,memikirkan dan menemukan ide yang samadan persis dengan karya kartunis lain. Keteledoran kartunis pertama “hanya” karena tidak mau mengamati kartun-kartun yangberedar dan pernah dimuat media massa.
Masih Banyak Peluang Bagi Kartunis
Koesnan Hoesi, kartunis harian sore Wawasan dan Ketua PAKARTI cabang Jawa Tengah

Bagaimana Anda melihat perkembangan kartun di Indonesia?
Mereka yang berprofesi dan hidup dari kartun, dibandingkan dengan era 1970-an dan 1980-an, saat ini semakin banyak. Menurut data PAKARTI, sekitar 300 anggotanya betul-betul mencari nafkah dari kartun, walaupun masih terbatas sebagai kartunis-kartunis yang menjadi karyawan di berbagai media massa.
Kualitas kartun buatan kita dibandingkan dengan buatan luar negeri sama saja. Secara teknis mereka memang lebih maju, namun secara intelektual kita tidak kalah. Kita bahkan sering menang dalam event kartun internasional. Tetapi permintaan untuk kartun di dalam negeri saya melihat masih belum begitu tinggi.
Beberapa pihak, terutama di Semarang, menganggap kartun tidak mengalami kemajuan. Mereka memakai ukuran bahwa bila tidak ada pameran berarti kartun tidak mengalami perkembangan. Menurut saya, ukuran perkembangan kartun serta kartunis sendiri adalah bisa ataukah tidak hidup dari profesinya. Saya menganggap perkembangan kartun saat ini sangat bagus dengan semakin banyaknya yang memilih profesi kartunis.
Anda sendiri menganggap kartun sebagai hobi atau profesi?
Sejak tahun 1981 kartun sudah menjadi profesi saya, tetapi masih berupa freelance. Bahkan sejak taman kanak-kanak, saya sudah bercita-cita menjadi kartunis dengan membayangkannya sambil membuat kliping karya-karya kartunis Dwi Koen, Si Jon, dan lain-lain. Kelas 6 SD, sekitar tahun 1974, saya mengirimkan gag cartoon tentang reparasi montor mabur ke Penyebar Semangat. Honornya sebesar Rp 300. Saya hanya tamatan SMA dan tidak mempunyai pendidikan formal di bidang kartun. Agak dewasa sedikit saya melihat peluang untuk berkarya di bidang kartun yang memang belum banyak dirambah. Saingan lebih sedikit.
Bagaimana mereka yang bukan kartunis tetapi mencari nafkah dari kartun?
Biasanya memang dilakukan oleh beberapa kartunis free lance. Saya yakin setiap orang ingin merubah hidupnya dengan cara bagaimanapun. Paling tepat saat ini di Indonesia untuk bisa hidup layak adalah mereka yang berprofesi kartunis profesional juga melakukan free lance menggarap bidang lainnya. Secara profesional murni sikap demikian kurang tepat. Tetapi untuk menyikapi keadaan di Indonesia tampaknya sikap inilah yang masih sesuai. Bagaimana mereka menggantung hidup bila media massa hanya bisa memberi imbalan yang tidak seberapa. Mereka tentu memiliki kiat mengembangkan diri tidak hanya sekedar membuat kartun di koran. Kartun sudah menjadi income yang notabene lebih besar daripada penghasilan seorang kartunis yang bekerja di koran.
Anda juga mengirim kartun untuk media massa yang lain?
Saya sudah 10 tahun bekerja membuat political cartoon murni untuk surat kabar Wawasan. Ada etika tersendiri bila saya hendak mengirim kartun untuk media lain. Tetapi lepas dari itu saya pribadi mengembangkan diri membuat kartun untuk banyak manfaat. Di antaranya membuat kartun untuk souvenir, buku, ilustrasi diary, surat dan kop surat, kaos, dan macam-macam. Saya pernah mendapat pesanan untuk tiga buah buku dari Pak Yono (maksudnya Kasum ABRI Letjen TNI Soeyono, red.) dengan imbalan 86 juta rupiah. Sedangkan model lelang untuk ikut membantu IDT yang menampilkan karikatur wajah Habibie atau Gubernur Jawa Tengah, Soewardi, yang satu gambar bisa laku sekitar 40 juta rupiah, saya mendapat 25%.
Artinya apresiasi terhadap kartun semakin meningkat?
Apresiasi terhadap kartun memang ada tetapi belum seperti lukisan. Saat ini banyak kolektor yang menginvestasikan uang dalam karya lukis. Karena kartun lebih banyak bersifat seni pakai (aplied art), bukan pure art seperti lukisan, saya belum melihat mereka yang memiliki empati mendalam terhadap kartun sebagai investasi. Perilaku konsumen memang terkadang lucu. Kalau berbicara ribuan rupiah mereka enggan melirik, tetapi kalau sudah jutaan mereka baru sangat berminat. Kebetulan konsumen “sampingan” saya adalah dari kalangan menengah ke atas. Bila penghasilan mereka setingkat UMR (Upah Minimum Regional) jelas berpikir berulang kali untuk apa mengkonsumsi kartun.
Bagaimana sebaiknya memajukan kartun di Indonesia?
Kita juga ingin maju seperti kartun-kartun di negara lain, tetapi harus pula dilihat sejauh mana posisi kita sekarang. Kadang-kadang pikiran kita berjalan terlalu cepat hendak merasakan hal-hal yang baru. Tetapi di sisi lain, masih banyak masalah teknis peyajian maupun obyek gambar yang secara kasat mata tidak kita garap secara tuntas. Tahap-tahap perjalanan kartun di setiap negara, termasuk Indonesia, sesungguhnya harus kita cermati dengan tidak meloncat-loncat.
