Pengantar
Secara teoritis humor dapat dipandang sebagai model percakapan yang mempunyai arti sosial selain terkait dengan cara berfikir sosial. Dalam kultur sosial Indonesia humor, lelucon, lawak, dagelan dan lain-lain hidup dan terus berkembang. Dalam kehidupan sehari-hari orang senang dengan hal-hal yang lucu. Lelucon menjadi alat komunikasi antar orang yang membangun keakraban. Ada orang yang dapat menangkap kata-kata yang diucapkan lawan bicara sebagai sesuatu yang bermakna lucu, tetapi ada pula orang yang tidak mampu menilai ucapan itu sebagai sesuatu hal yang punya arti menggelikan. Tingkat intelektualitas orang amat terkait dengan kemampuan mereka memahami makna humor.
Kini seni lawak pun telah menjadi komoditi yang mahal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di berbagai saluran televisi, baik milik pemerintah maupun swasta, pelawak menikmati rezeki yang lumayan besarnya. Mereka menjual senda gurau secara rutin kepada penonton. Banyak orang menggemari lawakan yang tidak saja lucu namun penuh sentilan. Memang humor pun dijadikan alat kontrol dan kritik sosial yang efektivitasnya cukup berarti.
Seni wayang juga sering menampilkan adegan-adegan lucu yang menarik minat penonton, misalnya tatkala muncul panakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Ki dalang menyuguhkan humor-humor segar, baik yang lucu maupun yang bersifat kritis. Adegan lucu juga dapat disuguhkan melalui gerak selain ucapan. Penonton meminati humor dalam adegan wayang sebagai luapan kecintaan terhadap seni tradisional tersebut.
Ludruk dan ketoprak sebagai seni tradisional masyarakat Jawa juga mempunyai berbagai makna sentilan, perenungan dan kelucuan. Namun ada kekhawatiran seni tradisional ini mati di tengah arus modernisasi apalagi melawan arus desakan dan gebrakan teknologi komunikasi. Orang cemas seni tradisional akan hilang. Lalu seniman berupaya menghidupkan dalam gaya baru. Ada kethoprak plesetan yang ingin memasuki kehidupan kelompok masyarakat kota. Mereka menampilkan sesuatu yang lain. Ada kritik dan ada humor. Penonton tertawa dan menertawakan diri serta masyarakatnya.
Dalam Dialog Prisma ini Prisma mengetengahkan pengamat humor Dr. Djamaluddin Ancok dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Bondan Nusantara, pejabat Public Relations dari Harian Bernas dan dalang kondong Ki Manteb Sudarsono. Berikut ini pendapat dan komentar mereka tentang persoalan humor di tengah masyarakat. Redaksi
Humor juga Alat Kontrol Sosial
Djamaluddin Ancok, Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Bagaimana Anda mengamati humor di tengah masyarakat? Apa fungsi dan manfaat humor?
Ada bermacam-macam humor, baik yang serius maupun yang guyonan. Ada yang bertujuan membuat orang tertawa dan senang, tapi di dalam humor itu terdapat pesan-pesan tertentu. Ada pula yang merupakan kritik sosial.
Orang berbicara saru dan jorok memang bisa membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Ekspresi dari ketegangan jiwa terdesak ke luar. Kita seperti terlepas dari sesuatu. Namun di dalam ucapan kotor itu tidak terkandung kritik. Orang membicarakan masalah seks. Orang lain menjadi senang. Tetapi barangkali ada pula yang tidak senang.
Selanjutnya dua sisi yang perlu kita perhatikan untuk menilai manfaat humor. Sisi pertama humor itu dapat menghilangkan stress. Ada studi yang mempelajari bahwa humor dapat menimbulkan gairah baru. Mendengar atau menyaksikan humor, maka segala macam beban, frustrasi dan keluh kesah dapat terkurangi. Pada sisi lain kita juga merasakan adanya suatu proses kreasi baru. Humor merupakan semacam rekreasi lalu timbul kreasi baru. Badan kita pun menjadi lebih enak. Melihat suasana gembira sistem tubuh kita secara fisiologis membuat jiwa kita menjadi lebih enak dan kita bisa berekreasi lebih banyak.
Dalam hal ini humor dapat memacu produktivitas. Tetapi kalau humor tampil terus menerus tidak pada tempat dan situasi yang pas, ia bisa berbalik. Orang yang selalu tertawa karena humor, akhirnya malahan tidak bekerja. Tidak produktif,
Kita berhumor tentang berbagai masalah. Joke politik misalnya, karena kita cemas dengan masalah politik, lalu kita lari ke lelucon politik untuk menghilangkan kecemasan politik. Kita menanggapi segala sesuatu dengan joke. Jadi fungsi lain dari joke adalah sebagai social control.
Mengapa politik itu begitu mencemaskan. Apakah ada hal-hal khusus yang terkait dengan humor?
Karena setiap orang mempunyai norma dan harapan tentang bagaimana sesuatu itu seharusnya dilaksanakan. Dia memiliki norma tentang bagaimana demokrasi itu harus dilaksanakan. Dia punya harapan, bagaimana demokrasi harus ditegakkan. Setiap kali harapannya tidak sesuai dengan kenyataan, lalu timbul semacam perasaan cuek atau kesal. Dia kesal karena harapannya itu tidak menjadi kenyataan.
Lebih dari itu, bukan lagi mangkel tapi cemas sehingga dia mencari upaya-upaya untuk melampiaskan kecemasannya. Karena tidak ada channel yang dapat digunakan, maka channel yang aman adalah joke. Lelucon itu adalah channel untuk kepentingan pelampiasan. Dengan cara itu dia lega.
Apakah politik itu tidak berarti juga humor?
Itu sangat tergantung dari sudut mana kita melihat. Dulu ada orang mengatakan, tatkala Ross Perrot ikut dalam persaingan calon Presiden Amerika Serikat dia disebut sebagai badut politik. Dalam pemahaman kita badut hanya menimbulkan kegelian. Dalam konteks itu dia betul-betul badut yang menimbulkan kegelian. Ada orang kok mencoba-coba masuk dalam kompetisi yang sudah mapan. Ross Perrot kemudian keluar dari pencalonan karena takut. Selanjutnya dia masuk lagi karena dia cemas kalau sampai berada di luar arena persaingan. Karena kelakuan dia begitu lalu keikutsertaannya dalam pencalonan presiden dituduh
Humor Berbeda dengan Dagelan
Bondan Nusantara, lahir di Yogyakarta, 6 Oktober 1953; aktif mengabdi di bidang Seni Kethoprak; kini bekerja sebagai Public Relations Harian Bernas

Humor menampilkan sesuatu yang serius dan berbeda dengan dagelan atau lawakan. Dagelan cenderung memporsikan kelucuan lebih daripada humor. Andaikata memancing tawa, tetapi persoalan yang ditawarkan oleh humor adalah serius. Sedangkan dagelan sekadar mencari tawa saja. Kalau orang-orang sudah tertawa berarti dagelan berhasil. Sedangkan humor tidak mengarah ke sana.
Humor yang ditampilkan Teater Koma bukanlah dagelan melainkan humor. Begitu pula Kethoprak Plesetan. Ketika Didik Nini Thowok bermain bersama Marwoto, pagelarannya disebut dagelan, karena mereka tidak menawarkan persoalan serius tetapi hanya mengeksploitasi hal-hal berkonotasi porno, kasar dan jorok. Setiap orang bisa mendagel atau melawak, tetapi humor tidak bisa dilakukan oleh setiap orang.
Abdurachman Wahid adalah humoris, bukan pelawak, sebaliknya Marwoto adalah pendagel, bukan humoris. Sementara Gepeng almarhum menampilkan dagelan atau kombinasi antara di satu sisi ada humor sedangkan di sisi lain ada lawaknya. Karena penonton itu heterogen, maka tidak semua penonton senang disuguhi humor, sebaliknya pula tidak semua penonton gemar dagelan.
Pada tahun 1991 muncul plesetan yang penuh dengan penawaran nilai-nilai. Saya menawar kembali nilai-nilai falsafah Jawa yang akhir-akhir ini keberadaannya perlu dipertimbangkan lagi. Contohnya falsafah “gegebengan lima” seperti Wismo (rumah), Kukilo (burung), Turonggo (kuda), Curigo (keris) dan Wanito (perempuan). Apakah harus begitu? Turonggo bisa berarti kendaraan, Wismo bisa bermakna rumah, Curigo adalah senjata. Apakah kesaktian keris masih diperlukan? Apakah senjata itu tidak bisa diganti dengan otak? Apakah orang Jawa masih harus beristri lebih dari satu ketika berkuasa, atau sebaliknya kalau orang itu berkuasa harus beristri lebih dari satu? Penawaran kembali terhadap falsafah itu mendorong orang tertawa. Penafsiran baru tersebut menggelikan tetapi benar.
Dulu bila wanita diperistri oleh pejabat dia merasa bangga. Tetapi mengapa Suminten yang ini kok tidak? Lalu ada lakon “Suminten Ora Edan”, karena dia tidak kedanan dengan orang yang punya jabatan. Dulu, konsep ksatria identik dengan orang yang halus budi pekerti, tampan, pembela kebenaran, gagah, dan selalu anak raja. Apakah benar begitu? Saya tidak yakin lagi. Anak raja yang kelakuannya jelek juga ada. Di sini saya ingin menampilkan sosok lain yaitu ksatria yang kelakuannya jelek dan dan berwatak ugal-ugalan dan berwajah buruk. Tokoh sentralnya secara visual berubah. Begitulah humornya. Kenapa mulut Arjuna perot begitu? Mengapa tangan Arjuna “thekle”? Lalu orang bertanya, apakah dia Arjuna atau Gareng?
Humor merupakan suatu hal yang perlu direnungkan, bukan hanya sekadar mengundang efek tawa saja. Kalau hanya mencari efek tawa, panggil saja orang gila ke pentas lalu dia disuruh telanjang, pasti ada orang tertawa. Ketika kita tidak punya alasan yang kuat, tidak ada sesuatu yang serius, orang telanjang itu hanya menjadi dagelan. Kalau diberi alasan yang kuat maka peristiwa itu bisa menjadi humor. Namun ini tidak berarti bahwa dagelan itu bisa menjadi humor. Persoalannya terletak pada penggarapannya, bagaimana sebuah dagelan dapat menjadi humor. Basiyo almarhum misalnya, dia itu humoris bukan dagelannya. Dia ngomong, “punya istri pintar bikin repot, maklumlah saya menganggur, anehnya istri sayang terhadap saya, lalu saya diberi makan dengan kerak nasi gosong.”
Wayang Memesankan Humor dan Kritik
Ki Manteb Sudarsono, dalang di Yogyakarta

Sebagai dalang terkenal di Indonesia pada saat ini, bagaimana Anda dapat menyajikan lakon wayang yang di dalamnya ada nuansa humor dan politik yang begitu menarik?
Dalam melakonkan wayang saya mengaitkan humor dan kritik pada takaran umum, seperti satire dan sanepo. Kita mengaitkan dengan bau politik tetapi tidak menyakitkan hati. Yang penting, mereka yang dikritik tidak sampai merasa sakit hati, tetapi misi tercapai.
Misalnya saya mengulas masalah hukum. Di dunia ada empat macam hukum yaitu hukum alam, hukum adat, hukum negara dan hukum karma. Yang bisa dijawab adalah hukum adat, hukum alam, dan hukum negara. Namun hukum karma tidak bisa dijawab.
Hukum alam seperti panas matahari dapat direkayasa. Panas terik sinar matahari dapat ditutupi dengan kerudung, topi atau payung. Orang bertopi tidak begitu disengat panas sinar matahari. Setiap desa memiliki hukum adat tersendiri. Di desa tertentu ada upacara adat yang harus menggunakan ingkung kebo atau kurban seekor kerbau yang utuh. Kita tahu harga seekor kerbau mahal sekali. Upacara adat itu masih dapat dibohongi. Persyaratan upacara adat tersebut dapat diganti dengan ontong kembange gedang atau bunga pohon pisang, lalu diberi tanduk dan kakinya empat. Wujud ini sudah dapat diartikan sebagai seekor kerbau utuh. Cara ini dinamakan “diwirahati” atau direkayasa.
Hukum negara juga bisa dijawab dengan cara kepandaian berbicara. Terdakwa bisa dibebaskan dari tuduhan dan dakwaan karena kepintaran berbicara, atau bahkan diatur dengan uang. Kasih uang, habis perkara. Penonton wayang pasti tertawa gerrr bila mendengar uraian seperti ini. Inilah kritik yang tidak menyakitkan hati sebab saya tidak menunjukkan siapa orangnya. Namun hal-hal tersebut adalah kenyataan.
Hukum karma tidak bisa diakali dengan cara dan model apa pun. Hukum karma adalah hukum perbuatan. Ini hukumnya Gusti Allah. Barang siapa menanam, dia akan menuai. Siapa berbuat baik, dia akan menerima kebaikan. Begitu pula sebaliknya.
Bagaimana Anda menampilkan hal-hal yang lucu dalam adegan wayang?
Hal-hal lucu dapat juga ditampilkan dalam gerak, tidak hanya dengan ucapan. Budaya suap bisa ditampilkan dalam gerak wayang. Misalnya dalam adegan seorang raksasa perempuan yang gemar memukuli orang yang lewat di depannya. Kebetulan ada tiga raksasa yang melewati dia. Raksasa pertama lewat di depan raksasa perempuan, lalu dipukuli, tetapi dia tidak membalas. Setelah diajak jabat tangan, raksasa pertama disuruh jalan. Raksasa kedua juga demikian. Dia lolos. Kemudian raksasa ketiga lewat. Ternyata raksasa ketiga ini bloom dan tidak mau membayar uang sogok. Dia tidak dipukuli dan tanpa jabat tangan dapat lolos tanpa hambatan. Lha di sini uniknya, penonton malah tertawa. Pasalnya, raksasa terakhir itu ternyata tuna wicara. Kalau disuruh memberikan uang suap, dia tidak punya uang dan tidak biasa main sogok.
Dalam kasus ini saya tentu mencari akal, bagaimana bahasa komunikasi antara orang bisu dan orang waras. Tentu saja orang bisu hanya bisa menggunakan bahasa isyarat, dengan kode seperti menyogok sesuatu. Sedangkan orang waras menangkap isyarat tangan “sogok” orang bisu seperti ajakan bermain seks. Raksasa bloom itu berjiwa jujur dan tidak suka menyuap. Sedangkan wanita raksasa itu tidak doyan lelaki. Di sinilah letak kelucuan itu, karena terjadi misunderstanding antara kedua pihak. Penonton tergelitik karena pikirannya menjadi negatif alias porno.
Saya tidak berbicara, tetapi berdialog dengan gerak saja. Di sana ada komunikasi antara orang bisu, cacat tetapi jujur, dengan orang yang dapat berbicara tetapi tidak jujur. Di situ ada humor sekaligus kritik politik.
Darimana ide semacam itu muncul?
Semuanya serba kebetulan, spontan dan tanpa rencana sama sekali. Dalam lakon yang sama, lelucon saya bisa tampil berlainan. Kalau penontonnya adalah kelompok Paidjo dan Paimin, kritikan saya sekelas dengan mereka. Kalau penontonnya adalah kelas menengah ke atas, kritikan saya juga elitis.
Anda dipesan untuk memainkan lakon wayang kulit yang umumnya memerlukan waktu semalam namun dipersingkat menjadi semenit. Kenapa bersedia menerima tawaran seperti itu?
Saya memainkan wayang kulit ibarat saya menjual obat. Siapa mau beli, silakan; tidak mau beli, tak jadi soal. Kalau ndalang yang benar memang harus dimainkan semalam suntuk, bukan semenit. Kalau orang tidak senang dengan iklan saya di televisi, matikan saja channel-nya. Saya bisa memainkan lakon Wahyu Oskadon Oye semalam suntuk. Anda berani bayar berapa? Saya lakonkan semalam, bukan semenit. Saya bisa mendalang dengan lakon Janaka Banteng kalau PDI mau memesan. Kalau ada permintaan, saya akan buatkan lakonnya. Ada lagi lakon Wahyu Mandira Kencana atas permintaan GOLKAR. Siapa bisa melarang lakon ini dan lakon itu? Mau lakon Lahirnya Prabu Toshiba, saya bisa mainkan. Saya tidak peduli kata orang tentang diri saya yang dinilai melecehkan wayang. Katanya, wayang adalah warisan nenek moyang yang harus dikeramatkan. Kalau begitu lebih baik wayangnya dimasukkan kotak saja.
Saya pernah meminta Taman Mini untuk ndalang dan naik pentas secara padat. Bayangkan lakon semalam saya mainkan dalam tempo 8 menit saja. Itu saya lakukan ketika menjamu Perdana Menteri India Rajiv Gandhi berkunjung ke Indonesia. Kisah Ramayana episode Anoman Duta sampai Anoman Obong. Semula panitia minta waktu 30 menit. Akhirnya dipentaskan dalam delapan menit. Ini memusingkan sekali.
Pokoknya saya mau ditanggap dengan lakon apa saja. Misalnya lakon Murwokolo atau Somba Juwing yang sakral dan keramat itu, asal sepakat tarifnya. Soal pakem atau bukan saya tidak mau pusing. Prinsipnya saya bertekad melestarikan wayang kulit.
Ki Dalang menilai Pendeta Durna itu sebagai tokoh yang baik atau jelek?
Kalau dalam pakeliran saya, Durna itu adalah tokoh baik, sedangkan Patih Sengkuni itu amat jahat. Durna menjadi senopati kemudian gugur sebagai Panglima Perang Astinapura. Dia merasa secara lahiriyah telah dimuliakan oleh Prabu Duryudana seperti mendapatkan sandang-pangan-papan, bahkan memperoleh pangkat dan jabatan. Jadi yang diberikan kepada Kurawa itu hanya tata lahirnya, sedangkan tata batin diberikan kepada Pandawa. Pandawa selalu menuruti ajarannya, sedangkan Kurawa tidak pernah serius menerima ajaran luhur itu. Berarti, Pandawa bisa memberi makan rohani Pendeta Durna.