Prisma

Ilmu Kedokteran dan Olahraga

Biasanya, apabila kita membicarakan hubungan antara dunia kedokteran dan olahraga, yang terpikir oleh kita adalah peranan olahraga bagi kesehatan atau masalah pertolongan kecelakaan di lapangan olahraga. Tetapi kali ini saya ingin membicarakannya dari segi lain. Segi ilmu kedokteran yang juga merupakan teknologi tersendiri yang akhir-akhir ini banyak diterapkan di bidang keolahragaan.

Pengetahuan-pengetahuan tentang anatomi, faal tubuh, perubahan biokimiawi, serta kaitan antara physical effort dengan kerja alat-alat vital dalam tubuh, dijadikan pedoman ilmiah untuk melatih olahragawan, serta meningkatkan prestasi mereka dengan cara mengusahakan agar dengan usaha yang seminimal mungkin dicapai hasil yang maksimal. Pengetahuan tentang kinesiologi, yaitu ilmu yang mempelajari mekanisme gerakan anggota badan, dijadikan pedoman untuk melatih gerakan yang paling efisien, serta dasar untuk memberikan pertolongan pertama terhadap kecelakaan sebaik mungkin, sehingga tidak menimbulkan cedera permanen yang dapat mengakibatkan olahragawan itu harus mundur dari gelanggang untuk selamanya.

Ketika Kolonel John Hunt mempersiapkan anggota tim pendaki puncak Everest tahun 1953, ia memilih orang-orangnya berdasarkan kriteria yang disusunnya sendiri. Yaitu umur, temperamen, pengalaman, dan keadaan fisik. Pemilihan itu dilakukan dengan wawancara. Jadi hanya berdasarkan penilaian subyektif Kolonel Hunt, terutama mengenai temperamen dan keadaan fisik.

Sebenarnya, perkembangan ilmu kedokteran mutakhir telah memungkinkan kita mengadakan pengukuran-pengukuran yang lebih obyektif terhadap kondisi fisik, keletihan, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota team. Cara penilaian berdasarkan pengukuran-pengukuran obyektif ini misalnya dipergunakan untuk memilih calon astronot atau calon awak kapal selam nuklir yang dapat tetap menyelam selama beberapa hari terus menerus.

Pada hakekatnya kriteria yang dikenakan untuk calon astronot dan calon awak kapal selam nuklir tersebut tidak jauh berbeda dengan kriteria Kolonel John Hunt. Dan dengan prinsip-prinsip yang sama, kriteria dan teknik pemilihan calon astronot atau awak kapal selam nuklir tadi dapat pula dikenakan pada pemilihan calon olahragawan. Meskipun tentu saja tidak perlu terlalu canggih seperti calon astronot atau awak kapal selam nuklir. Karena untuk menjadi olahragawan yang baik diperlukan juga kemampuan untuk berjuang sendirian, sanggup bertahan lama, sanggup pula berjuang bersama team.

Dalam masa latihan, ilmu kedokteran diperlukan untuk mengukur kemampuan, perkembangan selama latihan, pengawasan gizi, dan juga pertolongan terhadap kecelakaan. Dengan demikian, tugas seorang dokter team olahraga tidak lagi sekedar sebagai petugas PPPK. Tetapi benar-benar seorang ahli yang diharapkan pengetahuannya untuk menyusun team yang tangguh sejak masa pemilihan, pengarahan latihan, penjagaan keamanan terhadap cedera, sampai ke usaha peningkatan prestasi di tempat pertandingan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan