Prisma

Ilmuwan Jangan Seperti Pohon Pisang

Pandangan Sartono Kartodirdjo

Penulisan sejarah merupakan hal yang tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa tanggung jawab ilmiah yang ketat. Di sisi lain, studi sejarah pun menuntut adanya metode yang melampaui batas-batas sejarah konvensional. Kaidah historiografi konvensional di Indonesia, dengan titik berat bidang politik, perlahan-lahan bergeser menuju historiografi gaya baru dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Perintisan sejak 1950-an itu menjadikan sejarah sebagai medan perdebatan tentang nilai dan makna peralihan ke arah sejarah sebagai usaha untuk merekonstruksi hari lampau secara lebih kritis. Sejarah ditampilkan bagai potret yang jauh dari gambaran mitos dan dongeng.

Menyinggung pergeseran historiografi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari seorang yang sangat berperan melakukannya. Sartono Kartodirdjo, ilmuwan tersebut, diakui sebagai pencetak landasan historiografi moderen Indonesia. Melalui sebuah wawancara yang berlangsung ditempat kediamannya, sejarawan Indonesia yang mendapat predikat “Sejarawan Ratu Adil” dan “Pelopor Penelusuran Sejarah Secara Multidisiplin” itu menanggapi berbagai persoalan secara lugas. Berikut wawancara Prisma (P) dengan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo (SK) dilengkapi profil akademis “Sejarawan Terbesar Indonesia Abad Ini.” Redaksi

Sartono Kartodirdjo dilahirkan di Wonogiri, Jawa Tengah pada 15 Februari 1921. Bapaknya, Tjïtrosarojo, adalah pegawai pos tingkat menengah zaman Hindia Belanda. Sebelum ibunya meninggal, Sartono telah memperoleh dua orang kakak perempuan. Ayahnya kemudian menikah kembali dan memberi Sartono dua orang adik. Sebagai seorang bumiputera yang berpikiran maju masa itu, Tjïtrosarojo mendorong anak-anaknya mengumpulkan ilmu sebanyak mungkin. Pendidikan dilihatnya mampu memberi bekal bagi mereka. Sartono Kartodirdjo, satu-satunya anak lelaki di keluarga, memenuhi keinginan orang tuanya dengan berhasil menamatkan pendidikan HIS serta melanjutkan ke MULO di Surakarta. Pendidikan dasar dan menengah sekolah Belanda dilewatinya dengan lancar. Di setiap tingkat Sartono menonjol dalam pelajaran sejarah dan seringkali mendapat nilai tinggi. Sartono meneruskan sekaligus mengawali karirnya memasuki Hollands Inland-sche Kweekschool, sekolah guru SD, di Salatiga, dan lulus tahun 1941.

Setamat dari sekolah guru, Sartono menjalankan tugas sebagai guru SD di Salatiga dan SMP di Muntilan, sebuah kota kecil dekat Yogyakarta. Akhir Juli 1947 sampai 1950 Sartono menetap di Yogyakarta. Di Salatiga Sartono berjumpa dengan Sri Kadaryati yang kebetulan juga seorang guru. Di sela-sela suasana Revolusi Kemerdekaan, keduanya melangsungkan hajat pernikahan dan kelak dikaruniai dua orang anak.

Sartono berniat belajar di Universitas Gadjah Mada, namun sulitnya buku bacaan membawanya terbenam dalam kegiatan-kegiatan sosial politik yang sesungguhnya sudah dimulai sejak di Salatiga. Sartono sempat bekerja di Departemen Luar Negeri di Yogyakarta. Kerja yang lebih banyak mendengarkan siaran-siaran radio tentang Indonesia dijalaninya tidak lama, meskipun beberapa teman di lingkungan tempat kerjanya banyak yang menjadi diplomat bahkan duta besar. Sartono sendiri merasa terpanggil untuk belajar dan menjadi pengajar. Setelah “menanggalkan” seluruh aktivitas politik, kecuali tetap sebagai sekretaris umum dan mengelola majalah Persatuan Guru Katolik, dia berangkat ke Jakarta.

Pada umur 29 tahun, sementara sebagian besar rekannya berusia sepuluh tahun lebih muda, Sartono tercatat sebagai mahasiswa angkatan pertama Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Selain belajar, Sartono juga bekerja sebagai guru SMA sementara istrinya mengajar di SMP. Hampir seluruh pengajar di Sastra UI adalah orang “Barat” yang dalam setiap kesempatan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, bahasa yang sangat fasih dikuasai Sartono. Dengan bahasa itu pula Sartono sering kali menulis dan mengirim artikel untuk majalah sekolah guru di Negeri Belanda. Mata kuliah filsafat diberikan oleh Prof. Berling, sejarah kuno dan arkeologi oleh Prof. Bernet Kempers, dan sejarah Indonesia adalah Prof. Resink.

Setiap tingkat dilewati Sartono dengan lancar, kecuali mendekati ujian sarjana. Bulan November 1955 Sartono lulus ujian lisan dan hendak mempertahankan skripsi, tetapi profesor yang hendak mengujinya cuti ke Negeri Belanda. Sartono terpaksa menunggu dan ujian skripsi berlangsung pada Februari 1956. Mempertahankan skripsi tidak menjadi masalah karena tidak membutuhkan banyak persiapan. Setelah lulus, Sartono menjadi pengajar sejarah di Universitas Gadjah Mada, sebuah tugas yang kemudian dirangkapnya di Fakultas Hukum UGM dan IKIP Bandung.

Sartono mendapat grant dari Rockefeller Foundation untuk studi selama empat tahun di luar negeri. Dengan ditemani istri, Sartono berangkat dan belajar sepuasnya dua tahun di Amerika Serikat dan dua tahun di Negeri Belanda. Anak-anak ditinggal di Indonesia dan dititipkan pada R.M.E. Kadarisman Pusposudibjo, mertua Sartono. Di Universitas Yale, Amerika Serikat, Sartono tidak memilih jurusan sejarah melainkan disiplin ilmu politik, antropologi, dan sosiologi yang masuk ke dalam Southeast Asian Studies. Sejak awal Sartono terlihat ingin menyerap lebih banyak metode interdisipliner dan beruntung mendapat kesempatan mengikuti kuliah ilmuwan terkemuka masa itu di Universitas Yale dan Universitas Chicago yang memberi tambahan sejumlah alat dan konsep kerja antarcabang ilmu-ilmu sosial. Pada 1964, dua tahun setelah tiba di AS, Sartono menyelesaikan program MA.

Sartono masih ingin melanjutkan promosi ke tingkat doktor. Harry J. Benda, guru besar sejarah dari Yale yang membangkitkan minat Sartono dalam pokok masalah yang kemudian menjadi disertasinya, menghubungi W. F Wertheim untuk menerima Sartono. Rekomendasi Benda memperkuat lamaran yang diajukan dan Sartono langsung diterima di Universitas Amsterdam, Negeri Belanda. Sartono tidak mempunyai kewajiban apapun terhadap Wertheim selain konsultasi berkala setelah satu bab selesai ditulis. Sedangkan Wertheim sendiri, yang bertindak selaku sponsor di Negeri Belanda, memupuk pertumbuhan disertasi Sartono melalui serangkaian pembahasan. Pendekatan sosiologis Wertheim terhadap sejarah Indonesia tampak mendasari sebagian besar pekerjaan Sartono. Dua tahun setelah tiba di Negeri Belanda, gelar doktor diperoleh Sartono dengan judicium cum laude.

Seusai promosi, Sartono membulatkan tekad membimbing mereka yang lebih muda di Indonesia, meskipun Benda menawarkan untuk mengajar sejarah di Jerman. Sartono, yang merasa komitmennya tetap untuk Indonesia dengan misi merintis studi sejarah Indonesia, pulang ke Indonesia dan tiba di Yogyakarta pada Februari 1967. Satu tahun kemudian Sartono dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Sastra UGM.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan