Prisma

Iman, Amal dan Pembangunan Sebuah Memorandum Pengantar

Agama merupakan faktor utama dalam mewujudkan pola-pola persepsi dunia bagi manusia. Persepsi-persepsi itu turut mempengaruhi perkembangan dunia itu sendiri, dan dengan cara demikian juga mempengaruhi jalannya sejarah. Persepsi-persepsi itu menentukan pula cara manusia mendudukkan dirinya di dunia ini. Sebaliknya sejarah juga memaksakan perubahan dan penyesuaian terus menerus daripada pola-pola persepsi itu tadi. Lebih-lebih dalam suatu masyarakat yang sedang berubah dengan pesat. Di dalam negara-negara yang sedang berkembang, perubahan-perubahan masyarakat itu dua macam sifatnya. Yang pertama ialah, perubahan-perubahan sosial yang disebabkan oleh usaha pembangunan negara itu, termasuk efek-efek yang disengaja maupun efek-efek sampingan yang sering tidak disengaja. Yang kedua ialah, proses-proses perubahan sosial jangka panjang yang berjalan hampir-hampir otonom, seperti yang diakibatkan oleh tambahan penduduk, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, pengaruh komunikasi dengan dunia luar, peningkatan kecerdasan bangsa serta peningkatan harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi masyarakat.

Dalam kita melaksanakan usaha Pembangunan Nasional di Indonesia, tampak dengan jelas suatu perubahan dalam menilai tempat serta peranan agama di dalamnya. Sejalan dengan berbagai teori tentang modernisasi dan pembangunan, maka semula di Indonesiapun para “modernizer” umumnya cenderung untuk menghadapi-agama sebagai obyek, dan diperlakukan secara manipulatif. Agama terutama dilihat sebagai sumber berbagai hambatan sosial dan mental yang perlu diatasi untuk mensukseskan pembangunan. Perubahan dalam pandangan ini untuk sebagian diakibatkan oleh suatu pengertian yang lebih mendalam mengenai proses pembangunan itu sendiri. Pengertian yang lebih mendalam itu misalnya juga tercermin di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang tidak membatasi usaha pembangunan pada peningkatan kesejahteraan materiil semata-mata, melainkan memandang pembentukan manusia seutuhnya sebagai suatu tujuan utama pembangunan. Pula, sekarang lebih difahami, bahwa hakekat pembangunan itu bukan semata-mata pelaksanaan proyek-proyek, melainkan dinamik dan gerak majunya suatu sistem sosial dalam keseluruhannya. Di dalam konsepsi pembangunan semacam ini, maka manusia dan motivasi manusia dalam ia bertindak di dalam masyarakat, dan dengan sendirinya juga agama sebagai salah satu sumber motivasi sosial—baik pada tingkat pribadi maupun pada tingkat kolektif—dan sebagai sumber pola-pola persepsi realitas sosial, mengambil suatu tempat yang sangat penting. (Sudah barang tentu di samping agama ada juga sumber-sumber motivasi sosial lain: seperti dorongan untuk mencari keuntungan, untuk maju di dalam masyarakat, dan patriotisme atau nasionalisme. Namun bukan inilah yang kita perbincangkan sekarang). Juga dalam suatu aspek lain lagi, kita dapat melihat suatu perubahan yang mendalam. Sekarang lebih disadari bahwa usaha untuk menentukan tujuan-tujuan pembangunan serta urutan prioritasnya bagi suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari ruang lingkup moril yang merupakan tempat berpijak bangsa itu dan yang untuk sebagian penting diwujudkan oleh agama. Juga pilihan bangsa itu mengenai cara-cara pelaksanaan pembangunan, langsung bergandengan dengan sistem nilai yang untuk sebagian penting bersumber pada agama. Maka di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun, agama dan kepercayaan ternyata merupakan suatu unsur yang tidak dapat diabaikan, dan tidak cukup dihadapi secara taktis dan manipulatif.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan