Pendidikan, Pasar Tenaga Kerja dan Pembangunan*
Indonesia memasuki Pembangunan Duapuluh-lima tahun Tahap Kedua, dengan harapan akan mencapai laju pertumbuhan industri yang cepat. Tulisan ini memberikan tinjauan tentang situasi pendidikan dan demografi, interaksi antara keduanya, dan angkatan kerja serta pembangunan Indonesia terutama perbandingannya dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Timur. Indonesia memasuki masa transisi demografi pada tingkat pendapatan yang lebih rendah daripada negara-negara lainnya.
Pendahuluan
Banyak pembahasan tentang perencanaan berkisar pada konsep “tinggal landas”, dan sekarang muncul pendapat bahwa Indonesia sedang bersiap-siap untuk memasuki era tinggal landas dalam waktu dekat ini.1 Artikel ini pun menyoroti posisi Indonesia berkenaan dengan perubahan-perubahan demografi, pendidikan dan pasar tenagakerja yang menandai pembangunan ekonomi, tanpa menyinggung secara khusus kegunaan tujuan analitis konsep tinggal landas.
Sejak 1940-an suatu hipotesis telah dirumuskan bahwa dalam proses pembangunan ekonomi, negara-negara biasanya mengalami serangkaian perubahan dalam hal fertilitas, perkawinan, dan mortalitas yang biasanya disebut “transisi demografi.” Transisi demografi ini dipengaruhi oleh banyak faktor; salah satunya adalah pendidikan. Faktor lainnya adalah sosial dan budaya, misalnya nilai-nilai dan agama, serta struktur ketenagakerjaan, terutama proporsi di bidang pertanian, proporsi upah, dan tingkat partisipasi tenagakerja wanita. Faktor-faktor terakhir ini juga dikaitkan dengan laju dan tipe pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, meskipun arah penyebabnya tidak jelas. Laju, tipe dan kualitas pengembangan sumber daya manusia secara jelas juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, meskipun beberapa kaitan kausalnya mungkin juga mendua arah.2
Pembangunan ekonomi, pendidikan, dan demografi saling berkaitan secara kompleks dan sulit dipahami sepenuhnya. Hubungan-hubungan tersebut sungguhpun sangat penting bagi perencanaan pendidikan, terutama untuk jangka waktu yang lebih lama, misalnya 25 tahun. Tulisan ini ingin mempelajari beberapa hubungan yang lebih erat, dan menyarankan terhadap rencana pendidikan jangka panjang di Indonesia. Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa kedua hal yaitu transisi demografi di satu pihak, dan hubungan antara pendidikan, pasar tenaga kerja, dan fenomena demografi di pihak lain di Asia Tenggara dan Asia Timur berbeda secara historis dengan keadaan di Eropa dan Amerika Utara.3 Karena itu fokus tulisan ini akan diambil berdasarkan bahan-bahan yang berhubungan dengan tidak hanya pengalaman Indonesia sendiri, melainkan juga pengalaman ekonomi negara-negara lain di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Penurunan Fertilitas dan Pembangunan Ekonomi: Hubungan Umum
Transisi demografi meliputi periode peralihan penduduk, dari keadaan mortalitas dan fertilitas tinggi, tipe berpendapatan rendah, pra-industri, dan sebagian besar bergerak di bidang pertanian, ke keadaan mortalitas dan fertilitas rendah, tipe berpendapatan tinggi, industri, dan sebagian besar penduduk hidup di perkotaan. Pada tingkat pertama, menurunnya mortalitas (terutama bayi dan anak-anak) diikuti oleh meningkatnya jumlah usia kawin dan menurunnya fertilitas, yang secara tipikal dimulai pada saat menurunnya mortalitas. Bagaimanapun, menurunnya tingkat mortalitas (terutama bayi dan anak-anak), secara tipikal berlangsung setelah tingkat fertilitas mulai turun.
Perbedaan pengalaman Asia Tenggara dan Asia Timur dengan pengalaman Eropa dan Amerika Utara berkisar pada kecepatan transisi besarnya perubahan pada tingkat-tingkat yang penting. Jepang mengalami proses ini lebih dahulu daripada negara-negara lain, sehingga sekarang Jepang tidak hanya memiliki perubahan Angka Fertilitas Total (AFT) yang rendah, seperti halnya di Eropa, namun juga memiliki tingkat harapan hidup yang terpanjang daripada negara lain.
Banyak faktor yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi moderen juga berkaitan dengan perubahan demografi. Banyak hal berhubungan dengan perubahan dalam status ekonomi dan peranan wanita, keluarga, dan anak-anak dalam proses industrialisasi. Masalah tersebut menyangkut kesempatan dan Keadaan wanita dalam bidang ekonomi, harapan dan persepsi tentang dampak ekonomi terhadap keluarga anak-anak, baik ketika masih anak-anak maupun setelah dewasa.
Bila sedikit wanita secara ekonomis bekerja di luar kegiatan rumah tangga dan luar rumah — suatu keadaan yang normal di masa transisi demografi — maka biaya melahirkan dan perawatan anak relatif rendah, terutama bila ditanggung ayah dan suami. Hal ini disebabkan karena kegiatan melahirkan secara tipikal tidak begitu mempengaruhi aktivitas rumah tangga, meskipun diperlukan biaya bagi ibu; sedangkan kegiatan mengasuh anak biasanya juga dilakukan melalui bantuan anggota keluarga tanpa biaya. Tapi bila wanita tinggal di kota dan bekerja di luar rumah atau pada perusahaan milik keluarga sendiri atau kerja upahan di sektor formal, maka biaya melahirkan dan merawat anak akan meningkat secara mencolok, setidaknya bila secara eksplisit ditanggung penghasilan ayah atau suami.
* Artikel ini diterjemahkan oleh Atman Ahdiat dari tulisan berjudul Education, Demographics, The Labor Market, and Development: Indonesia in the Process of Transition?
1 Lihat Boediono “Pengaruh Pergeseran Stuktural Terhadap Pendidikan dan Ketenagakerjaan dalam Periode Tinggal Landas,” Jakarta: Pusat Informatika, Balitbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1992; Sarbini Soemawinata “A Formula for Take off: Development with Equity? dan M. Sadli “That Exclusive Concept of Take-Off,” dalam Prisma No. 48, 1989.
2 Untuk pembahasan tentang alternatif tinjauan yang menyeluruh mengenai hubungan antara penduduk dan pembangunan, lihat Dennis Hodgson “Orthodoxy and Revisions in American Demography,” Population and Development Review, 14(4), December 1988, hal. 541-569; dan Didier Blancet “On Interpreting Observed Relationship Between Population Growth and Economic Growth: A Graphical Exposition,” Population and Development Review, 17(1), March 1991, hal. 105-114.
3 Jean-Claude Chesnais, Human Investment and Population-Related Aspects of Economic Growth in East Asia: A European Perspective, Tokyo, Japan: Nihon University, Population Research Institute, Research Paper Series No. 52, August 1989.