Prisma

Indonesia Menuju Tahun 2000*

Pendekatan masalah

Tulisan ini bersifat sketsa atau suatu contour mengenai beberapa aspek pokok dalam perkembangan keadaan Indonesia dari kini sampai akhir abad ke xx, yaitu menjelang tahun 2000. Dalam bidang permasalahan yang dibahas, ditonjolkan beberapa variabel pokok yang mempengaruhi perkembangan masa depan. Adanya suatu perspektif terhadap masa depan, sekalipun masih samar-samar, akan membantu kita untuk mempersiapkan beberapa persyaratan dan pra-kondisi yang diperlukan bagi kehidupan manusia yang layak. Pandangan itu sudah tentu menyangkut pula unsur normatif. Secara sadar kita harus berihtiar untuk mempengaruhi perkembangan masa depan, sehingga terlaksana suatu kemajuan dan pertumbuhan dalam suasana kestabilan masyarakat dan keadilan sosial. Karena itu senantiasa harus kita sadari bahwa kebijaksanaan dan tindakan yang kita lakukan dewasa ini, secara langsung atau tidak langsung akan ikut mempengaruhi masa depan kita dalam jangka panjang. Keputusan dan tindakan kita pada saat ini, baik atau buruk, pasti akan membawa akibat kepada pola kehidupan masyarakat hingga pada sisa abad ke dua puluh ini nanti. Secara umum, penulis sebenarnya termasuk pendukung dari apa yang disebut “systems approach” dalam menganalisa dan menilai suatu proses perkembangan masyarakat, artinya dengan mengamati totalitas dari segala aspek permasalahan, dan bukannya sekedar memusatkan perhatian pada suatu gejala kemasyarakatan secara berdiri sendiri.1 Sekalipun demikian, dalam tulisan ini dengan sengaja penulis membatasi perhatian kepada dua rangkaian variabel dalam perkembangan (routes of variables) menurut dua garis gerak perkembangan yang kait-mengkait. Kedua garis variabel itu mempunyai satu pangkal tolak bersama, yaitu pertambahan jumlah penduduk. Pun juga kedua garis variabel itu ditelaah dari perspektif satu titik akhir bersama, yaitu tahun 2000. Kita berpangkal pada pertambahan penduduk sebagai satu-satunya faktor dinamik yang paling pokok bagi permasalahan yang dihadapi Indonesia, maka dalam pendekatan pertama dipersoalkan: apa yang merupakan kebutuhan-kebutuhan pokok dalam tahun 2000, yaitu secara fisik dan kwantitatif dalam hal pangan, tempat pemukiman, sandang, kesehatan dan pendidikan. Di sini penulis tidak ingin melibatkan diri dalam perdebatan mengenai soal “kwalitas hidup manusia” atau “quality of life“.


* Tulisan ini pada mulanya adalah prasaran pada Simposium Masalah Energi, Sumber-sumber Alam dan Lingkungan Hidup di Jakarta tanggal 25-28 Februari 1975, dengan beberapa penyesuaian Penulis menyumbangkan artikel ini kepada Prisma

1 Mesarovic dan Pestel menggunakan istilah: pandangan atau pendekatan “holistic”, yang berarti “segala sesuatu seperti tergantung pada segala sesuatu yang lain”. Lihat Mihajlo Mesarovic dan Eduard Pestel, Mankind at the Turning Point, (New York: 1974), hal. 21. Lihat juga Sumitro Djojohadikusumo: “The Future of the Pacific Community”, (Wellington: 1972) dan “Facing the Issues of Growth–Southeast Asian Perspective”, (Toronto: 1973).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan