Prisma

Isyarat Pasar dan Analisis Pasar Tenaga Kerja

Suatu Pandangan Baru*

Isyarat pasar tahun 1982-89 menunjukkan turunnya nilai balik sosial pada investasi pendidikan menengah tingkat pertama dan atas, walaupun masih relatif tinggi. Tingkat pengangguran yang pada awalnya tinggi, kemudian menurun menjadi 1-2% pada usia 29 tahun. Lama waktu mencari pekerjaan tersingkat dialami oleh lulusan SMTP. Tulisan ini memberi saran bagaimana metode untuk menyesuaikan laju kenaikan riil investasi pendidikan sebagai respon terhadap isyarat pasar karena pesatnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

DI SELURUH dunia terjadi perubahan yang cepat dalam usaha meningkatkan standar hidup dari perencanaan rinci kualitas output dengan kuota ke sistem pasar yang lebih responsif. Dengan adanya perubahan ekonomi yang dramatis, di Eropa Timur misalnya, maka jelaslah bahwa sistem perencanaan yang mengabaikan perbedaan biaya dan isyarat pasar lainnya, seperti pendapatan dan jenis-jenis kesempatan kerja baru, tidak memberikan respon yang efisien. Kerugian berbentuk penurunan efisiensi dan lambatnya pertumbuhan standar hidup harus ditanggung karena gagal memantau dan memberi respon terhadap peluang baru yang diisyaratkan oleh pasar tersebut.

Sumber daya manusia yang belum dikembangkan merupakan sumber daya paling potensial; karena itu perencanaan secara efisien sangat diperlukan. Walaupun dalam beberapa sektor Indonesia telah membangun infrastruktur untuk meningkatkan respon sistem yang berorientasi pada pasar, namun pendidikan dan sistem perencanaan tenaga kerja masih bercirikan spesifikasi rinci tentang jumlah tenaga yang mesti dilatih menurut masing-masing bidang. Penerapan penggolongan jenis pendidikan yang kaku serta spesifikasi jumlah pengajar dan murid pada masing-masing bidang pendidikan menyebabkan kelebihan pada beberapa bidang dan kekurangan pada bidang lainnya. Hal ini membatasi kemampuan adaptasi terhadap biaya relatif atau munculnya peluang sehingga menimbulkan inefisiensi dan pemborosan.

Tulisan ini menawarkan “pandangan baru” bagi proses perencanaan guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam ekonomi. Disarankan agar perencanaan diarahkan pada “perencanaan indikatif” yang lebih menyeluruh dan memperkuat infrastruktur agar memungkinkan deregulasi dalam perencanaan detil dan bekerjanya isyarat pasar secara lebih berarti.

Peningkatan respon terhadap tumbuhnya peluang dan efisiensi pengembangan sumber daya manusia yang lebih tinggi melibatkan keleluasaan sistem yang memberikan lebih banyak pilihan kepada individu. Hal ini juga memerlukan kemampuan lembaga pendidikan yang lebih besar untuk memberi respon terhadap kebutuhan ekonomi secara efisien lengkap dengan banyak informasi objektif. Mengingat sebagian besar lembaga pendidikan pada semua jenjang akan tetap dimiliki pemerintah, “pandangan baru” ini memerlukan pemantauan tahunan yang lebih intensif terhadap isyarat pasar, seperti pendapatan relatif, biaya pendidikan, dan lama mencari pekerjaan untuk semua jenjang dan jenis, dengan anggaran yang lebih aktif memberi respon terhadap informasi kebutuhan ekonomi.

Dengan menguatnya hal-hal tersebut dan respon terhadap isyarat pasar maka perencanaan tenaga kerja tidak lagi memerlukan data jumlah tenaga kerja yang harus dilatih menurut bidang dan sektor ekonomi secara rinci. Perencanaan tenaga kerja harus bersifat indikatif terhadap tujuan yang lebih luas dan perencanaan strategis jenis-jenis kemampuan tertentu yang memerlukan jangka waktu sangat panjang. Termasuk di dalamnya jumlah perguruan tinggi teknik yang perlu dibangun serta lokasi dan ciri dari program S-3 yang lebih kecil dan memerlukan biaya tinggi untuk menghindari tumpang tindih. Pemantauan isyarat pasar setiap tahun seperti pendapatan lulusan tiap jenjang, angka pengangguran, dan lama mencari pekerjaan memberi petunjuk dalam menyesuaikan anggaran tahunan sebagai respon terhadap isyarat pasar sehingga menjadi kunci dalam kegiatan perencanaan.

Proses pemantauan isyarat pasar disajikan dengan urutan sebagai berikut. Bagian pertama akan mulai dengan evaluasi estimasi perencanaan tenaga kerja berdasarkan isyarat pasar akibat pertumbuhan ekonomi. Bagian kedua menyajikan bukti-bukti yang diberikan oleh isyarat pasar Indonesia pada tahun 1982-89. Bagian ketiga menggabungkan isyarat pasar dengan diskripsi strategi investasi pengembangan sumber daya manusia yang berorientasi pada pasar, dan ringkasan kesimpulan.

Masalah Estimasi Permintaan Tenaga Kerja

Permasalahan yang dihadapi adalah bahwa metode perencanaan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan data historis Indonesia menghasilkan sisi permintaan yang tidak konsisten dan tidak mengantisipasi kebutuhan pertumbuhan secara akurat. Persyaratan tenaga kerja yang berdasarkan koefisien tetap (atau dinamis) mencerminkan tingginya pemanfaatan tenaga dengan pendidikan sekolah dasar (SD) atau yang lebih rendah di masa lalu. Tetapi pengusaha meningkatkan persyaratan pendidikan tenaga yang dibutuhkan untuk masing-masing jenis pekerjaan mengingat tenaga kerja yang lebih berkualitas makin tersedia.


* Dalam melakukan pengolahan data, penulis dibantu oleh Abas Gozali, Prayitno, Dwina, dan Nelson Xu. Tulisan ini bukan merupakan pendapat pemerintah Indonesia atau kritik terhadap hasil pendidikan, tetapi menyajikan latar belakang yang nyata untuk menyusun kebijaksanaan. Jadi, kesalahan yang mungkin terjadi menjadi tanggung jawab penulis. Tulisan ini adalah ringkasan terjemahan oleh Siti Sofiah dari artikel Market Signals and Labor Market Analysis: A New of View of Manpower Supplies and Demands “dalam Education and the Economy: The External Efficiency of Education,” Pusat Informatikan Pendidikan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1992.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan