Prisma

Jakarta Dibangun Kaum Pendatang

Kaum pendatang di Jakarta

Kaum pendatang di Jakarta banyak memberikan sumbangan bagi pembangunan Ibukota karena jumlahnya yang besar serta kedudukannya. Menurut perhitungan sensus 1971 kaum pendatang merupakan 41% dari jumlah penduduk Jakarta.1 Selanjutnya, karena umumnya perantau tersebut berasal dari golongan dengan status sosial ekonomi yang relatif tinggi setelah berdiam di Jakarta, banyak di antara mereka yang memegang tampuk kepemimpinan. Dengan demikian bisalah dikatakan kaum pendatanglah yang menjalankan roda-roda mesin pembangunan ibukota.

Sebagai Ibukota, pusat pemerintahan dan perdagangan, Jakarta telah mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat. Menurut ketiga sensus yang pernah diadakan di Indonesia, penduduk Jakarta telah berkembang dari 435 ribu orang pada tahun 1930 menjadi 2,9 juta pada tahun 1961 dan 4,5 juta orang pada tahun 1971.2 Angka-angka tersebut menunjukkan rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 6,32% per tahun untuk periode 1930-61 dan 4,58% per tahun untuk dekade enampuluhan.

Dengan cara perhitungan yang agak kasar sudah terlihat bahwa sebagian besar pertumbuhan penduduk Jakarta disebabkan karena adanya migrasi masuk ke Ibukota. Seandainya tingkat pertumbuhan alamiah penduduk Jakarta sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk Jawa maka untuk periode 1930-61 sebesar 73,8% dan untuk periode 1961-71 sebanyak 58,5% dari pertumbuhan penduduk Jakarta disebabkan karena adanya migrasi masuk. Tetapi jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk Indonesia persentase tersebut lebih rendah dan menurun dari 75,95% untuk periode pertama menjadi 56,11% untuk periode terakhir.3

Dibandingkan dengan periode pertama pertumbuhan penduduk migran di Jakarta semakin lambat. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, tingkat pertumbuhan penduduk Jakarta secara keseluruhan menurun. Kedua, tingkat pertumbuhan alamiah penduduk Indonesia meningkat. Sebaliknya, selama dekade enampuluhan sampai dikeluarkannya pernyataan Gubernur DKI pada tahun 1970, tentang ditutupnya Ibukota terhadap mereka yang belum memiliki pekerjaan, umumnya volume migrasi4 meningkat (lihat Tabel 1). Penurunan volume migrasi ke Jakarta terjadi untuk tahun-tahun 1966 dan setelah dikeluarkannya pernyataan gubernur pada bulan Januari 1970. Oleh karena sensus 1971 dilakukan menjelang akhir tahun maka penurunan volume migrasi tercatat untuk dua golongan pertama, yaitu mereka yang telah tinggal di Jakarta kurang dari satu tahun dan satu tahun.


1 Biro Pusat Statistik, Sensus Penduduk 1971, DKI Jakarta Raya, Seri E, No. 09.

2 Departement van Economische Zaken, Volkstelling 1930, Batavia, 1936 dan Biro Pusat Statistik, Sensus Penduduk 1961 Seri SP-II dan Sensus Penduduk 1971, DKI Jakarta Raya, Seri E, No. 09.

3 Tingkat pertumbuhan penduduk Jawa sebesar 1,34% per tahun untuk periode 1930-1961 dan 1,90% per tahun untuk periode 1961-1971. Untuk periode yang sama tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 2,52 dan 2,01% per tahun.

4 Yang dimaksud dengan migran di sini adalah mereka yang pernah tinggal di propinsi lain.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan