Pendahuluan
Sejak berakhirnya Perang Dunia II dan selama perang dingin, Jepang praktis menggantungkan diri kepada Amerika Serikat (AS).
Yang dimaksudkan ialah bahwa, pertama-tama Jepang diduduki oleh tentara Sekutu yang pada hakekatnya, berarti tentara AS sehingga AS-lah yang menentukan nasib bangsa Jepang dalam tahun-tahun yang segera menyusul kekalahan yang terbesar dalam sejarahnya. Kedua, untuk membangun kembali negerinya yang telah dihancurkan pemboman dahsyat angkatan udara AS, Jepang sangat membutuhkan bantuan besar-besaran dari AS. Akhirnya, Jepang tergantung sepenuhnya kepada Amerika Serikat untuk pertahanannya terhadap serangan dari luar selama perang dingin.
Akan tetapi dengan berlalunya waktu terjadilah beberapa perubahan fundamentil yang tidak memungkinkan Jepang untuk tetap menggantungkan diri kepada AS karena ini berarti mengorbankan kepentingan-kepentingannya serta rasa harga dirinya yang sulit dapat diterima oleh Jepang yang sudah menjadi kekuatan raksasa di bidang ekonomi dalam dasawarsa 60-an. Perubahan-perubahan fundamentil yang terpenting ialah:
a. perubahan internasional dari suasana perang dingin—yang menyaksikan konfrontasi dunia komunis dengan dunia anti-komunis yang masing-masing dipimpin oleh AS dan US—ke suasana peredaan ketegangan (detente) antara AS dan US untuk mencegah perang nuklir;
b. pelemahan relatif AS terhadap US sehingga memaksa yang disebut pertama untuk memperbaiki hubungannya dengan RRC yang hubungannya dengan US terus memburuk sejak akhir dasawarsa 50;
c. perubahan sekutu Jepang dan negara-negara Eropa Barat dari pengikut setia AS menjadi saingan serius yang mengancam industrinya serta melemahkan ekonominya yang merupakan dasar kekuatannya. Tanpa membicarakan hal-hal tersebut itu secara terperinci1 di sini ingin disimpulkan bahwa AS merasa harus mengadakan tindakan drastis untuk menghentikan proses erosi kekuatannya dan memperbaiki kedudukannya. Tindakan-tindakan drastis ini dikenal sebagai Nixon shocks dalam sejarah, dan paling memukul Jepang sehingga menyadarkannya tidak dapat tetap seperti sediakala berpegang kepada AS, tetapi harus menempuh jalannya sendiri yang tidak selalu dapat disesuaikan dengan politik atau kehendak AS. Hal ini terbukti dengan tindakan Jepang untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan Peking sebelum AS pada tahun 1972, serta politiknya terhadap negara-negara Arab dalam Perang Oktober 1973.
1 Lihat tulisan saya “Tentang Perubahan Patokan Global: dari Politik Pembendungan ke Politik Ko-eksistensi Damai,” terbitan tak berkala Lembaga Research Kebudayaan Nasional/LIPI, 1972.