Prisma

Kebudayaan dan Pembauran

Pengantar

Dick Hartoko, rohaniawan dan budayawan, berpendapat bahwa dalam berpikir mengenai suatu strategi kebudayaan, hendaknya kita berhati-hati. Yang hendak dikendalikan oleh strategi tersebut adalah manusia yang memiliki akal budi dan keinginan-keinginan. Dia melihat bahwa perlu ada suatu seleksi nilai-nilai dalam merencanakan perkembangan budaya tersebut. Tentang pembauran etnis, Dick Hartoko menyebut bahwa semuanya itu hendaknya dilandasi oleh cinta kasih, sebagai umat dunia.

Untuk masalah pembauran itu pula, K. Sindhunatha, Ketua Umum Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa berpendapat bahwa pemerintah, masyarakat pribumi dan non pribumi, bertanggungjawab di dalamnya. Pembauran masyarakat Cina dengan golongan pribumi, katanya, pernah mengalami kemunduran. Hal-hal inilah menurut Sindhunatha yang harus kita jaga agar jangan sampai terjadi berulang-kali.

Bekas anggota parlemen, salah seorang pemuka dalam peristiwa Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab sebelum kemerdekaan, Abdul Rachman Awad Baswedan melihat masalah kecemburuan etnis tumbuh terhadap golongan Cina, lebih banyak disebabkan oleh perbedaan sosial. Dia mengatakan, dalam soal pembauran, yang harus diciptakan adalah rasa keterlibatan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Pembauran untuk hal-hal yang bersifat kultural, katanya, sulit untuk bisa mencapainya.

Dalam “Dialog” kali ini, dengan ketiga tokoh tersebut kita bicarakan masalah strategi kebudayaan dan masalah etnis, yang sering dipersoalkan. Redaksi

Seleksi Nilai-nilai, untuk Menentukan Arah

Dick Hartoko, Budayawan, rohaniawan, dosen, pengasuh majalah Basis, Yogyakarta.

Hendaknya kita berhati-hati jika berbicara tentang “strategi kebudayaan”. Strategi mengandung makna, bahwa di sana kita bisa membuat rencana, dan mengaturnya sampai tercapai apa yang kita ingini. Strategi kebudayaan tidak sama dengan strategi bermain catur. Dalam catur yang kita gerakkan adalah kuda, pion dan buah yang lain. Tetapi untuk kebudayaan, yang kita gerakkan itu bukanlah benda-benda mati, melainkan manusia yang memiliki akal budi dan kemauan.

Dalam Pembauran, Dibutuhkan Keterbukaan

K. Sindhunatha, Ketua Umum Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB)

Adalah relevan bagi kita sekarang berbicara tentang suatu strategi kebudayaan yang tepat guna mencari atau memantapkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Relevan karena hingga kini kita masih dihadapkan pada kenyataan adanya keanekaragaman pola budaya, baik pola budaya yang berinduk pada daerah atau suku tertentu di Indonesia, maupun pola budaya yang diperlihatkan oleh warga-negara Indonesia keturunan asing yang tentu saja berbeda karena dipengaruhi latar belakang kebudayaan tempat asal leluhur mereka. Dalam konteks ini pula, kita dapat berbicara tentang masalah pembauran.

Jangan Sampai Ada Paksaan, Tapi Harus Ada Tuntunan

A.R. Baswedan, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, anggota Parlemen dari Masyumi (1950), anggota Konstituante (1955), Pendiri dan Pemimpin Partai Arab Indonesia (1934)

Kalau kita mau berbicara mengenai strategi kebudayaan, terlebih dahulu hendaknya kita sadari bahwa tidak ada persoalan kita yang tidak dilatarbelakangi oleh persoalan politik. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) terlihat bahwa masalah sosial budaya tidak kalah pentingnya dengan masalah ekonomi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan