Prisma

Kebudayaan Indonesia di Pusaran Arus Sejarah

Nilai-nilai Indonesia dalam “Dialog” ini dibicarakan dengan Dr. Mochtar Buchori, Deputy Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, dan Mochtar Lubis, wartawan yang juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Tetapi, apakah yang dinamakan “nilai-nilai Indonesia” itu ada?

Dr. Mochtar Buchori mengatakan, “nilai-nilai Indonesia” itu ada. “Ia dalam proses pembentukan”, katanya. Dia menyebutkan, dalam proses pembentukan itu, keaktifan dan kesadaran kita amat diperlukan, supaya kita tidak terseret ke arah yang tidak dikehendaki, misalnya terperangkap oleh “moderenisasi menurut pengertian dunia bisnis”. Dalam hal ini, demikian Muchtar Buchori, pola-pola budaya dalam kelompok etnis tetap diperlukan buat mengisi proses tersebut. Untuk itu harus ada seleksi, meninggalkan yang buruk dan memelihara nilai yang sesuai dengan tuntutan masa sekarang.

Penggalian nilai-nilai yang dahulunya dikenal nenek moyang bangsa Indonesia, juga dipandang perlu oleh Mochtar Lubis. Dalam pemeliharaan nilai-nilai lama itu dia melihat tak terjadi kesinambungan. Penerusan nilai-nilai tersebut terputus. Kemudian, katanya, kita berubah menjadi bangsa yang lunak. Bahkan kini terjadi erosi nilai hampir di semua segi kehidupan. Mochtar Lubis membicarakan nilai-nilai kita ini antara lain dengan membuat perbandingan dengan Jepang. Jika kita tidak ingin diperbudak dalam pergaulan dunia sekarang dan nanti, kata Mochtar Lubis, penemuan kembali identitas Indonesia adalah suatu yang amat diperlukan.

Kedua tokoh itu memberikan pendapatnya, seperti yang dapat diikuti di bawah ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan