Prisma

Kebudayaan Pop Dulu dan Kini

Pengantar

KEBUDAYAAN pop, atau kebudayaan seketika, karena mudahnya diterima dan dinikmati oleh banyak orang, sering dianggap kurang berbobot dibandingkan kebudayaan tinggi (high culture) atau kebudayaan murni. Dra Ina R. M. Suparto M.A., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia, menolak anggapan demikian. Tidak bisa disamaratakan, tandasnya sebab kebudayaan pop itu bertingkattingkat. Ada kebudayaan pop yang berbobot. Biarpun untuk beberapa waktu musik The Beatles dilupakan orang, tapi karena bobotnya ada, kini ia bangkit kembali. Masa populernya lebih panjang dan khalayak penggemarnya lebih luas.

Novel pop yang digemari masyarakat kini, walau dinilai kurang bagus dibandingkan dengan karya sastera sebelum kemerdekaan, menurut novelis wanita Maria Ambar Sardjono, tetap mencerminkan realitas kehidupan manusia. Digarap secara realistis, masuk akal dan mengikuti hukum atau kaidah logika, novel pop termasuk hasil renungannya tetap punya arti bagi pembacanya. Unsur pendidikan terselip di dalamnya. Tuntutan kepada pengarang untuk meningkatkan hasil karyanya, kata ibu dari empat anak ini, masuk akal sebab pembaca pun berkembang dalam memberikan penilaian kepada karya sastera.

Penilaian kepada masyarakat atau audience, selain kepada pencipta kesenian, menurut H. Misbach Jusa Biran, perlu dipertimbangkan untuk menilai mutu karya filem dan sastera. Ada konsep dan ukuran tertentu, yang kata Kepala Sinematek Indonesia, berubah dan berkembang dalam masyarakat Indonesia.

“Dialog” Prisma kali ini mengetengahkan masalah kebudayaan pop, baik di bidang sastera, lagu, filem, gaya hidup dan lain-lain yang melanda masyarakat Indonesia, dulu dan kini. Ada yang baru, ada pula pengulangan yang lama. Redaksi.

Kebudayaan Pop Bertingkat-tingkat, Ina R. M. Suparto, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

KEBUDAYAAN pop itu mudah dicerna dan diserap orang. Target publiknya bersifat massal. Ini berbeda dengan kebudayaan tinggi (high culture) atau kebudayaan murni yang untuk memahami, mengikuti dan menerimanya butuh waktu untuk merenungkannya. Kalau kebudayaan pop dapat diterima orang dengan seketika, maka kebudayaan tinggi membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, publiknya pun hanyalah orang-orang tertentu yang mampu menerimanya. Kebudayaan pop mirip dengan kebudayaan kontemporer, tapi jangka waktunya lebih singkat.

Menulis, Tidak Sekedar Hiburan dan Menghibur Diri, Maria Ambar Sardjono, novelis di Jakarta

SAYA berangkat sebagai penulis “laci”. Tulisan-tulisan itu pada mulanya hanyalah hasil keinginan diri untuk menulis yang kemudian tersimpan di laci meja. Tak tahu akan saya jadikan apa dan dikirim ke mana tulisan itu. Barulah artikel-artikel itu saya kirimkan ke majalah setelah seorang ibu rumah tangga menyarankan agar tulisan itu dipublikasikan. Banyak majalah memuat karangan saya. Kemudian banyak penerbit membukukan cerita bersambung tersebut. Sampai sekarang lebih dari 25 buku telah diterbitkan. Beberapa novel itu bahkan telah difilemkan, misalnya Di Balik Dinding Kelabu, yang disutra dari Sophan Sophian.

Sikap Seniman dalam Industrialisasi Kesenian, H. Misbach, Jusa Biran, Kepala Sinematek Indonesia

PADA kesenian pop yang diutamakan adalah pencapaian audience, sedangkan nilai kesenian itu sendiri tidak banyak dipermasalahkan. Dalam alur pikiran pop, jika kesenian itu banyak mendapat respons dari audience, berarti ia sukses. Dengan bersikap seperti itu, sebenarnya ia mengkhianati konsep-konsep kesenian yang sesungguhnya. Inilah yang membuat nilai karya kesenian tersebut jadi dangkal. Tetapi, agar adil, sebaiknya dalam membicarakan masalah ini kita jangan hanya melihat kepada para pencipta kesenian itu saja. Audience, atau masyarakat penerima kesenian itu sendiri juga harus kita tilik.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan