Media massa di perbatasan
Peranan media massa untuk daerah perbatasan, khususnya Kepulauan Riau, dipandang mutlak dan perlu. Ini adalah kesimpulan penelitian tentang peranan media massa di daerah perbatasan yang dilakukan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia barubaru ini.
Penelitian ini lebih cenderung bersifat sebagai usaha identifikasi, orientasi dan mengenali struktur sosial di daerah perbatasan tersebut. Lokasi yang dipilih adalah perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura, khususnya Kepulauan Riau. Pengumpulan data penelitian ini berjalan dari 10 Februari hingga 15 Maret 1977 yang lalu.
Untuk memperoleh gambaran yang cukup jelas, maka sebagai pembanding dipilih daerah Sumatera Utara (Medan) dan Kotamadya Pekanbaru. Kedua daerah ini dipilih berdasarkan asumsi, bahwa pantai timur Sumatera Utara yang berbatasan dengan bagian barat Malaysia, adalah daerah yang dapat dijangkau oleh daya pancar radio dan televisi negara tetangga itu. Di daerah ini, siaran radio dan televisi Malaysia cukup mungkin untuk ditangkap. Sedangkan Pekanbaru dipertimbangkan sebagai kota propinsi yang terletak agak jauh dari Malaysia dan Singapura, sehingga kemungkinan menangkap siaran radio serta televisi negeri tetangga itu agak tipis. Sungguhpun demikian, penelitian yang dilakukan FIS-UI bukanlah suatu studi perbandingan yang memerlukan teknik tertentu untuk lebih teliti dengan variabel kontrol yang lebih diperhitungkan. Yang dipilih sebagai responden adalah masyarakat umum dan key person, baik pejabat pemerintah maupun tokoh masyarakat. Responden yang terdiri dari masyarakat umum tersebar di daerah Kotamadya Pekanbaru dan Tanjung Pinang, sedangkan key person terutama diambil dari daerah Tanjung Pinang. Untuk Kotamadya Pekanbaru berjumlah 150 orang. Jumlah yang sama, dipilih di daerah Kepulauan Riau dan difokuskan pada tiga kecamatan, yakni Bintan Utara, Bintan Selatan dan Kecamatan Bintan Timur.