Ekonomi dan Pembangunan Riau
Perekonomian Propinsi Riau masih berada dalam struktur yang tidak seimbang, belum terdapat peranan yang besar untuk sektor industri, dan di samping itu prasarana di daerah ini masih perlu ditingkatkan. Kesimpulan ini merupakan sebagian dari pokok-pokok pikiran yang lahir dari Seminar Pembangunan Daerah Riau dalam rangka Persiapan Pelita III. Seminar tersebut diselenggarakan di Pekanbaru atas kerjasama UniversitasRiau (Unri), Bappeda Riau dan IAIN Susqa. Penyelenggaraan diadakan dari 21 hingga 23 Februari 1978 yang lalu, pada dies natalis Unri yang ke-15.
Struktur perekonomian Riau yang tidak seimbang, terlihat dari pembagian pendapatan di masing-masing sektor di luar minyak bumi. Perinciannya adalah: pertanian (41 persen), perdagangan (29 persen), pertambangan (7,5 persen), dan sektor-sektor industri, bangunan, listrik, pengangkutan dan komunikasi (11,5 persen).
Sektor industri belum memperlihatkan peranan yang besar. Sektor ini hanya menyumbang 1,1 persen dari seluruh pendapatan regional propinsi ini. Sementara itu, keadaan prasarana yang telah menunjukkan perbaikan, masih dirasa perlu ditingkatkan, terutama pembukaan jalan baru ke kantong-kantong produksi pertanian dan perlunya peningkatan fasilitas pelabuhan serta pembangunan irigasi. Kurang lebih 85 persen penduduk Riau masih tinggal di desa-desa. Sebagian besar dari mereka hidup dalam sektor pertanian, dengan pendapatan yang relatif rendah. Pendapatan per kapita di propinsi ini rata-rata Rp 32 ribu per tahun untuk 1971, dan tahun ini diperkirakan sekitar Rp 48 ribu. Seminar ini menyimpulkan, bahwa masih terdapat keterbatasan akan dana pembiayaan pembangunan, baik dari pemerintah maupun dari sumber-sumber yang ada dalam masyarakat.
Sementara itu dalam peningkatan modal pengusaha, terasa peranan kredit dalam menggerakkan usaha-usaha pembangunan untuk pihak swasta masih kurang, terutama Kredit Industri Kecil dan Kredit Modal Kerja Permanen. Peranan itu dirasakan kurang, antara lain disebabkan oleh prosedur yang harus ditempuh dalam memperoleh kredit tersebut.
Perikanan Hingga saat ini ada beberapa dugaan yang berbeda-beda tentang luas serta potensi perairan daerah ini. Berdasarkan metode yang dipakai dalam penaksiran, dapat disimpulkan bahwa luas perairan Propinsi Riau (dari Selat Malaka Riau sampai Laut Cina Selatan Riau) adalah 243.405 kilometer persegi, dengan perkiraan potensi sebesar 383.142 ton hasil laut pertahun. Luas perairan darat (rawa, danau dan sungai) adalah 268.830 hektar dengan perkiraan potensi sebesar 22.214 ton per tahun. Pada tahun 1976, diperkirakan sumber perikanan yang telah dieksploitasi baru mencapai 134.040 ton, yang terdiri dari; 126.536 ton hasil perairan laut dan 7.504 ton dari perairan darat. Itu berarti tingkat eksploitasinya baru mencapai 33 persen, yang masih jauh dari potensi perairan Riau. Dan berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa perairan Selat Malaka Riau telah mencapai tingkat “lebih pungut” (overfishing). Seminar menganggap, untuk mengembalikan kelestariannya perlu diadakan pengaturan dan pembatasan jumlah, jenis, ukuran alat-alat penangkapan serta waktu penangkapan.