Prisma

Kegiatan Ilmiah

Arus komoditi pertanian di Kalimantan Barat

Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional dengan tenaga-tenaga peneliti Buyung Achmad Sjafei, Januar Batubara dan P. Hutabarat, bulan Agustus 1976 telah menyelesaikan suatu penelitian mengenai arus komoditi pertanian di Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan penelitian jangka pendek di bidang tata-niaga hasil pertanian yang merupakan salah satu prioritas penelitian yang ditentukan oleh Menteri Negara Riset. Penelitian ini dititikberatkan pada tiga jenis komoditi, yaitu kayu, karet dan kelapa, yang sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan perekonomian daerah tersebut.

Kesimpulan umum penelitian mengungkapkan bahwa sekalipun komoditi tersebut memegang peranan penting bagi kehidupan perekonomian daerah, namun dalam beberapa hal komoditi itu masih dalam kondisi yang rawan. Misalnya saja dalam pemeliharaan hutan, sejak Pelita I sampai tahun pertama Pelita II hanya 0,013 persen (1.350 hektar) kawasan hutan yang berhasil dihijaukan. Padahal luas tanah gundul di Kalimantan Barat sekitar 3,2 juta hektar. Menurut penelitian itu kondisi komoditi karet dalam keadaan kritis. Hal ini disebabkan karena 59 persen (157,056 hektar) dari areal seluruh perkebunan karet adalah tanaman tua, yang sudah berumur antara 21 sampai 40 tahun. Sedangkan tanaman produktif hanya sekitar 19 persen (50,577 hektar), sisanya tanaman usia lanjut dan tanaman muda. Pemeliharaan dan peremajaan komoditi kelapa masih kurang mendapat perhatian yang wajar dan layak. Hal ini disebabkan karena luas areal yang dimiliki petani kelapa relatif kecil dengan produktivitas yang jauh di bawah rata-rata. Dalam mata rantai pemasaran, mereka hanya menerima sekitar 50 persen dari harga ekspor.

Untuk menanggulangi hal itu disarankan agar fihak-fihak yang berkepentingan mulai memikirkan bagaimana caranya agar segala bentuk pungutan yang ada digunakan untuk peningkatan kembali hasil komoditi tersebut. Misalnya pungutan yang berasal dari kayu, seyogianya dimanfaatkan bagi tujuan penghijauan dan reboisasi. Pungutan dari karet dan kelapa agar digunakan bagi pemeliharaan serta peremajaan tanaman dan juga dimanfaatkan untuk mendidik para petani agar mereka bersedia berusaha secara menetap dengan mengikuti teknologi pertanian yang tepat. Khusus tentang kayu mengingat harganya kian membaik akhir-akhir ini, penelitian itu memperingatkan perlunya penggalakan diversifikasi ekspor ke negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Timur Tengah. Selama ini ekspor kayu daerah itu (Indonesia pada umumnya) sebagian besar terarah ke Jepang.

Tata-niaga dan transportasi

Dalam hal tata-niaga, penelitian tersebut berkesimpulan bahwa petani produsen pada umumnya tidak menduduki posisi tawar-menawar yang kuat. Kondisi tersebut terutama disebabkan karena adanya fluktasi harga barang-barang keperluan sehari-hari yang secara langsung akan mempengaruhi rasio antara bahan kebutuhan pokok tersebut dengan komoditi yang mereka hasilkan. Untuk mengatasinya, penelitian tersebut menyarankan agar pembinaan BUUD/KUD sebagai organisasi petani produsen ditingkatkan. Pemerintah hendaknya menetapkan kebijaksanaan penentuan harga serta pemberian subsidi untuk membantu mereka, dan seyogianya fihak Bank mulai memikirkan pemberian kredit bagi mereka yang membutuhkannya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan