Prisma

Kegiatan Ilmiah

Partisipasi rakyat tergantung pada ulama

Ulama adalah satu-satunya korps teknokrat Aceh di zaman kesultanan, dan kini pengaruh mereka di masyarakat sesungguhnya dapat dikatakan masih besar, terbatas dalam hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan keagamaan.

Ini adalah kesimpulan Drs. H. Baihaqi dari IAIN Syah Kuala Aceh, anggota tim peneliti “Peranan Agama dan Sistem Pendidikan Islam” yang dilakukan Leknas-LIPI. Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional (Leknas) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian ini bekerjasama dengan Departemen Agama. Daerah yang menjadi sasaran adalah Aceh, Sumatera Barat, DKI Jaya, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Penelitian diharapkan akan menghasilkan rekomendasi yang akan memberikan beberapa alternatif bagi kebijaksanaan pemerintah.

Drs. Baihaqi dalam laporannya yang berjudul “Ulama dan Madrasah di Aceh” menyebutkan, bahwa kaum ulama di zaman kesultanan dahulu, memiliki ilmu dalam berbagai disiplin dan memanfaatkannya untuk kepentingan pendidikan, kebudayaan, politik, sosial, ekonomi, pertanian dan lain-lainnya. Sultan Aceh ada yang pernah menjadi murid, atau sekurang-kurangnya pernah memohon petunjuk dari para ulama.

Monografi yang ditulis Drs. Baihaqi lebih lanjut mengungkap peranan agama dan sistem pendidikan Islam itu sebagai berikut:

Kaum ulama yang merupakan satu-satunya kaum pendidik pada waktu itu mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang sebagian besar dibangun dengan usaha mereka sendiri, dan kadang-kadang dengan bantuan penguasa.

Sejak masa itu sampai zaman penjajahan Belanda para ulamalah yang sering mengepalai pembukuan areal tanah persawahan baru, pembangunan irigasi, penyusunan kampung, jalan-jalan dan sebagainya. Mereka ini menjadi pendidik-pendidik yang terus menerus membuktikan pengorbanan-pengorbanan mereka untuk memimpin rakyat membela kebenaran. Bahkan pada waktu Aceh diserang Belanda, para ulama gigih bertahan. Mula-mula bersama Sultan sebagai lambang kerajaan, kemudian setelah sultan dan polim terpaksa menyerah pada tahun 1903, mereka melanjutkan perjuangan selama lebih dari 30 tahun di bawah pimpinan ulama-ulama Tiro.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan