Prisma

Kegiatan Ilmiah

Pendidikan Islam dan perubahan sosial

Hasil penelitian ”Sistem Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial” yang dilakukan Leknas-LIPI, dilokakaryakan baru-baru ini. Para peneliti di Aceh, Sumatera Barat, Kediri, Tapanuli Selatan, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan membawa laporannya pada lokakarya tersebut. Fokus penelitian yang dilakukan oleh Nur Anas Djamil di Sumatera Barat adalah berkaitan dengan aliran-aliran tasauf dan pengaruhnya, khususnya pengaruh tarekat dan suluk di daerah itu. Penelitian itu dikhususkan pada Tarekat Syattariah dan sasarannya adalah Surau Tarekat di Mata Air yang diberi nama Ruangan Pendidikan Islam Pesantren Luhur. Surau tersebut dipimpin oleh Ungku Abdurazak yang kini berusia 60 tahun. Menurut catatan tahun 1974, jumlah aliran tarekat yang hidup di Sumatera Barat mencapai 17 buah. Selain itu ada 12 aliran lain yang dahulunya pernah ada, tetapi kini dinyatakan terlarang. Perkiraan jumlah dari seluruh anggota jemaah aliran tarekat yang digolongkan dalam ”Tarekatul Muktabaran” menurut keadaan tahun 1974 adalah 113.179 orang. Ini berarti 3,98 persen dari penduduk Sumatera Barat yang menganut agama Islam. Pemeluk Islam di propinsi itu tercatat 2,8 juta jiwa. Jumlah masyaikhnya 424 orang, dan surau-surau guru tempat kegiatan tarekat mencapai jumlah 411 buah. Kenagarian yang dijadikan sampel dalam penelitian ini di samping merupakan suatu unit terendah dari administrasi pemerintahan di Sumatera Barat, juga merupakan satu unit dalam lembaga adat di daerah itu. Dilihat dari sudut sosial kulturil sangat erat kaitannya dengan agama Islam. Pengaruh timbal-balik antara adat dan syarak (Islam) saling berkait berkelindan, adat jo syarak sanda menyanda, syarak mangato, adat mamakai. Dalam hal ini yang hendak diketahui adalah corak hubungan antara keduanya dengan memperhatikan perkembangan nagari, keadaan sosial ekonomi dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan penduduk. Di usahakan memperoleh gambaran yang lengkap tentang pola-pola fikiran yang berkembang antara ulama Kaum Tua (golongan tarekat) berhadapan dengan adat menurut versi Syattariah dan Naksyabandiah. Juga diperhatikan pola fikiran ulama Kaum Muda (Muhammadiyah). Hambatan yang cukup menyulitkan dalam penelitian aliran tarekat ini adalah kerahasiaan dalam beberapa segi dari pokok ajarannya. Mereka cenderung menutup diri terhadap orang-orang yang bukan anggota kelompok mereka dalam melaksanakan upacara tertentu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan