Prisma

Kegiatan Ilmiah & Seminar

Penelitian kesejahteraan sosial di pedesaan

Suatu penelitian tentang masalah kesejahteraan sosial di pedesaan akan diselenggarakan pada tahun anggaran 1976/1977 ini oleh Departemen Sosial dan Biro Pusat Statistik (BPS). Menurut Dra. Uturi MSW dari Biro Penelitian dan Pengembangan Departemen Sosial, penelitian tersebut akan mengambil responden antara 12.000 sampai 16.000 kepala rumah tangga di Jawa, Bali, Lampung dan Bengkulu. Direncanakan biaya akan meliputi sekitar Rp. 30,– juta. Tujuan penelitian tersebut ialah mendapatkan kondisi indeks dan proporsi kemiskinan di pedesaan serta mengidentifisir masalah yang dihadapi golongan berpenghasilan rendah agar didapatkan cara dan sistem penanggulangannya di masa depan. Sebagai persiapan untuk melaksanakan penelitian utama itu, pada awal tahun 1976 ini diadakan penelitian percobaan di desa Cikatomas (Bogor), dengan mengambil responden 2.140 kepala keluarga. Hasil sementara dari penelitian itu menyimpulkan bahwa dalam menghadapi kekurangan anggaran rumah tangga, para responden mengatasi masalahnya dengan jalan: menjual barang (5%), berhutang (30,5%), kebingungan (tidak tahu cara mengatasinya) 35,5%, dan sisanya tidak menjawab. Tingkat kematian anak-anak usia 0-4 tahun sangat tinggi (81,5%). Sedangkan anak-anak yang sama sekali tidak bersekolah sekitar 30%, dan putus sekolah sebesar itu juga.

Penelitian anggaran rumah tangga dan pendidikan

Proyek Serpong Universitas Indonesia tahun 1975 yang lalu telah mengadakan penelitian “Anggaran Rumah Tangga dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan di Desa Rawabuntu”. Kegiatan itu bertujuan, untuk mengetahui potensi masyarakat desa terhadap pendidikan dalam usaha memperbaiki tingkat hidupnya melalui studi pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Penelitian tersebut mengambil responden 100 rumah tangga dari 583 keluarga di desa Rawabuntu (Tangerang). Menurut hasil penelitian, tanah yang dimiliki bukan merupakan sumber penghasilan. Ini karena kurangnya sarana pertanian terutama pengairan. Di samping itu sikap masyarakat sendiri yang memandang pekerjaan tani sebagai kerja sambilan. Mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh pasir di sungai Cisadane. Akibat pengaruh musim penghasilan mereka tidak stabil dan sangat rendah, sekitar Rp. 15.000,– rata-rata sebulan. Tingkat penghasilan sebesar itu, 89,17% digunakan untuk makanan, 6,49% pakaian dan sisanya (4,34%) bagi pendidikan serta amal. Mungkin karena itu tingkat persentase anak usia sekolah yang tidak sempat bersekolah relatif tinggi sekitar 51,31%. Penelitian tersebut dilaksanakan oleh Dra. Masliana Bangun S, dan Dra. Anidal Hasyir dari Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia. Proyek Serpong adalah proyek penelitian dan latihan interdisipliner hasil kerjasama antara Universitas Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang dan Universitas Leiden (Negeri Belanda). Program tersebut telah berakhir tahun lalu, dan kini dikembangkan menjadi Proyek Pedesaan Universitas Indonesia.

Pendidikan tanpa gelar di Universitas Indonesia

Pendidikan tanpa gelar (non-degree) bagi kepala sekolah lanjutan tingkat atas yang diselenggarakan Universitas Indonesia telah dibuka dari tanggal 1 sampai 19 Maret 1976 yang lalu. Program tersebut bertujuan antara lain memberikan latar belakang pengembangan ilmiah secara multi-disipliner dan menambah pengetahuan praktis mengenai aspek-aspek pengajaran dan pendidikan tinggi serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelanjutan dan keserasian antara jenjang-jenjang pendidikan dalam menuju sistem pendidikan nasional. Angkatan pertama untuk tahun akademis 1975/1976 tersebut diikuti 40 peserta. Syarat utama sebagai peserta program tersebut selain menjabat kepala sekolah, juga berpendidikan minimal sarjana muda, berumur antara 30 sampai 50 tahun dan memahami bahasa Inggris. Bagi semua peserta yang memenuhi kriteria tersebut dan lulus dalam testing yang diadakan, disediakan beasiswa dalam bentuk pembebasan uang kuliah, dan transpor serta buku-buku. Pelaksanaan program pendidikan tanpa gelar tersebut diselenggarakan oleh Pusat Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Sebagai pengajar pada program tersebut antara lain, Dr. Soedjatmoko, Dr. W.P. Napitupulu, Dr. Setiadi, Dr. G. Parangtopo, dr. Partomo M. Alibasyah, Mardjono Reksodipoetro SH, MA, dan lain-lain.

Penelitian Hubungan Sosial Pribumi dan Non-Pribumi

Suatu penelitian tentang hubungan sosial antara penduduk pribumi dan non-pribumi telah diselenggarakan dari bulan Oktober 1975 sampai Februari 1976 yang lalu. Penelitian tersebut diadakan oleh Badan Pembina Kesatuan Bangsa Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Tujuan dari kegiatan itu, antara lain mencari dan mengumpulkan data dan kenyataan yang berupa faktor-faktor pendorong atau penghambat usaha pembauran hubungan sosial golongan pribumi dan non-pribumi. Lokasi penelitian ditetapkan Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora (Jakarta Barat). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sumber-sumber konflik antara kedua golongan tersebut berkisar pada masalah perselisihan kecil seperti persoalan kenakalan anak-anak, perlakuan yang berbeda, sikap dan pandangan masing-masing golongan. Mengenai hambatan yang ada untuk menuju ke arah pembauran, antara lain: kurang dikembangkannya sarana komunikasi seperti organisasi sosial, karang taruna dan lain-lain. Dan begitu juga mengenai pandangan negatif terhadap hubungan sosial, seperti misalnya sikap menutup diri dari warga non-pribumi. Mereka lebih senang berdiam di rumah atau menggantinya dengan uang daripada mengikuti tugas-tugas sosial (kerja bakti, ronda malam dan lain-lain). Dalam soal perumahan dan tempat tinggal, pada umumnya penduduk non-pribumi masih menggunakan tembok-tembok tinggi dengan pagar besi yang kuat. Ini menimbulkan kesan golongan tersebut kurang senang menyelami masyarakat sekitarnya.

Menurut penelitian tersebut, potensi untuk menuju pembauran cukup dimiliki oleh kelurahan itu, seperti: adanya hubungan yang harmonis di kalangan anak-anak dan remaja, kerjasama dalam pekerjaan, pinjam meminjam, saling mengunjungi pada hari-hari besar, menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari, dan lain-lain. Kelurahan Jembatan Lima yang berpenduduk 4.707 jiwa, terdiri atas 67,9% pribumi dan 32,1% non-pribumi. Latar belakang pendidikan 29,7% tidak bersekolah, 48,4% sekolah dasar, 11,2% sekolah lanjutan pertama dan sisanya 5,3% sekolah lanjutan atas. Sarana pendidikan meliputi 5 sekolah dasar dan 5 madrasah. Penelitian tersebut dipimpin Drs. Bastomi Ervan, anggota Badan Pembina Kesatuan Bangsa DKI dan pengajar jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan