Strategi pengembangan ilmu-ilmu sosial
Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS) dari tanggal 20-21 Agustus 1976 yang lalu di Jakarta telah menyelenggarakan lokakarya mengenai “Strategi Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia”. Lokakarya itu merumuskan empat keputusan masing-masing di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi dan dokumentasi.
Di bidang pendidikan, lokakarya mengeluarkan rekomendasi antara lain; seyogianya dalam membina ilmiahwan sosial yang dapat bekerja sejalan dengan kebutuhan masyarakat hendaknya disertai dengan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum lembaga-lembaga pendidikan ilmu-ilmu sosial. Untuk itu HIPIS perlu mengadakan kegiatan khusus bagi petugas yang akan menyusun silabus serta literatur untuk menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu sosial itu.
Mengenai arah penelitian, menurut keputusan lokakarya tersebut, sebaiknya himpunan memusatkan titik beratnya pada penelitian dasar. Karena penelitian terapan sudah banyak dijalankan, baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta. Begitu juga dalam usaha meningkatkan mutu penelitian, seyogianya himpunan lebih memusatkan perhatian pada upaya merangsang peningkatan kwalitas, melalui hadiah penelitian ilmiah dan sarana lainnya.
Lokakarya telah mengidentifisir beberapa masalah yang dihadapi, antara lain persoalan etika penelitian, keseimbangan penelitian dasar dan terapan, pengembangan konsep dan istilah-istilah ilmu-ilmu sosial, kwalitas penelitian, penelitian masalah-masalah yang kurang mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat, dan sebagainya. Dalam usaha mendapatkan informasi dari tangan pertama tentang kebijaksanaan pemerintah di semua bidang, himpunan akan mengusahakan kontak-kontak langsung dengan para perumus kebijaksanaan di Indonesia, demikian antara lain keputusan di bidang pengabdian masyarakat. Selain itu, himpunan akan mendirikan semacam badan dan konsultasi yang tugasnya memberikan bantuan ilmiah, baik pada pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta. Juga akan diprakarsai pertemuan antara penerbit majalah-majalah ilmu-ilmu sosial profesionil maupun populer yang ada di Indonesia.
Rekomendasi yang dihasilkan dalam bidang dokumentasi dan publikasi antara lain agar pemerintah mengusahakan berdirinya Perpustakaan Pusat Ilmu-ilmu Sosial dan Kemanusiaan, yang diharapkan dapat memberikan pelayanan bagi kebutuhan penelitian, pendidikan dan konsultasi. Pembentukannya seyogianya dihubungkan dengan kebijaksanaan yang terpadu dalam program nasional pelayanan perpustakaan, dokumentasi dan informasi ilmiah.
Menurut Ketua Panitia Lokakarya, Nico L. Kana kegiatan itu diselenggarakan dengan tujuan untuk menghasilkan rencana kegiatan himpunan dalam empat aspek tersebut. Untuk itu beberapa kertas kerja telah dibahas, yakni masalah pendidikan oleh Herqutanto Sosronegoro, penelitian oleh Prof. Koentjaraningrat, publikasi dan dokumentasi oleh Abdurrachman Soerjomihardjo dan pengabdian masyarakat oleh Prof. Harsoyo.
Menurut catatan, sarjana ilmu-ilmu sosial di Indonesia berjumlah 21.333 orang yang dihasilkan dari tahun 1970 sampai 1973 oleh 26 universitas negeri. Jumlah ini terbagi atas 6.029 sarjana ilmu ekonomi, 9.587 sarjana hukum, 4.364 sarjana ilmu sosial dan politik, 1.101 sarjana ilmu-ilmu kemanusiaan, dan 302 sarjana psikologi. Namun yang tercatat sebagai anggota HIPIS baru 132 orang.