Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dari tanggal 8-10 November 1976 di Jakarta menyelenggarakan kongres dan seminar ilmiah. Kongres yang baru pertama kali diadakan bertujuan antara lain untuk menyempurnakan jalannya organisasi agar partisipasinya dalam pembangunan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat mempunyai arah yang mantap. Sedangkan seminar akan membicarakan kesehatan masyarakat di pedesaan dan perkotaan, yang bertujuan antara lain untuk menyumbangkan gagasan dan fikiran bagi usaha pemecahan kesehatan di dua sektor tersebut.
Khusus mengenai seminar ini, menurut dr. R. Widodo Talogo MPH, ketua panitia pengarah kongres dan seminar, akan dikupas juga masalah pengobatan tradisional yang belum mendapatkan tempat sewajarnya dalam dunia pengobatan di Indonesia. Padahal peranan mereka yang melakukan pengobatan tradisional seperti dukun ber-salin, dukun patah, dukun urut, sinse, tabib dan sebagainya cukup besar. Begitu juga perhatian terhadap obat-obatan tradisional, seperti jamu dan lain-lain, walaupun sudah terlihat, tapi masih terbatas. Di Afrika, menurut dr. Widodo, eksistensi pengobatan tradisional sudah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Masalah lain adalah mengenai Puskesmas yang hingga kini sudah tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Menurut penilikan beberapa ahli kesehatan masyarakat, Departemen Kesehatan dalam mengelola pusat kesehatan itu terlalu bertitik berat pada segi medis teknis. Sedangkan aspek manajemen kurang diperhatikan. Ini terlihat misalnya dalam pembuatan buku penuntun, dan sebagainya. Juga dalam hal koordinasi seringkali di suatu daerah yang sebenarnya sudah cukup dilayani dengan satu Puskesmas, masih saja didirikan Puskesmas baru, baik itu oleh swasta maupun lembaga semi pemerintah lainnya. Tentunya hal ini mengakibatkan pemborosan dana dan fasilitas kesehatan yang tak perlu, dan tumpang-tindihnya pelaksanaan program.
Menurut rencana seminar akan membahas lima kertas kerja. Tentang kesehatan masyarakat di pedesaan dibahas oleh Prof. Dr. J. Sulianti Saroso, sedangkan kesehatan masyarakat di kota dikupas oleh dr. Herman Soesilo MPH. Tiga masalah lainnya, yaitu kesehatan masyarakat ditinjau dari segi psikologi, sosiologi, dan ekonomi dikupas oleh Dr. Saparinah Sadli, Paulus Tandilintin dan Drs. Saukat Sacheh.
IAKMI didirikan pada tanggal 17 April 1971 di Jakarta dan merupakan cabang keahlian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang dewasa ini beranggotaan 30 orang ahli kesehatan masyarakat. Berapa sebenarnya jumlah ahli kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia belum diketahui. Namun menurut catatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, sampai bulan Juli 1976 yang lalu jumlah alumninya 209 orang. Seperti diketahui lembaga pendidikan ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang mendidik calon-calon ahli kesehatan masyarakat dan didirikan pada tanggal 1 Juli 1965.