Pengantar Dialog:
Sejauh mana ilmu sosial berkembang dan bagaimana menyikapi kehadiran “pascamoderenisme” dan “pascastrukturalisme”? Apakah keduanya dapat dikatakan antitesis. Apakah dapat pula dikatakan jika basis praktis, filosofis, dan metodologis ilmu sosial yang berlaku sekarang ini telah mendapat sejumlah gugatan. Kemudian, dalam perkembangannya sendiri apakah arah pascastrukturalisme, sekaligus pascamoderenisme, layak diragukan relevansinya.
Dengan kerangka tersebut, rubrik “Dialog” mencoba memperkenalkan pascamoderenisme dalam penelitian dan pengkajian sosial di Indonesia yang belakangan ini tengah dikerjakan. Bukan secara kebetulan jika Prisma pada akhir Nopember 1991 mengadakan sebuah acara yang perbincangannya sarat dengan pascamoderenisme dan pascastrukturalisme. Acara yang ketika itu mengambil bentuk diskusi panel menghadirkan empat orang pembicara, masing-masing: Emmanuel Subangun, peneliti pada Resource Productivity Centre; Tamrin Amal Tomagola, staf pengajar Jurusan Sosiologi FISIP-UI; Iwan Fridolin, staf pengajar Jurusan Sastra Cina FSUI; dan Gadis Arivia, staf pengajar Jurusan Filsafat FSUI.
Keempat pembicara di atas menyampaikan pokok-pokok pikirannya secara lugas. Setelah melalui sedikit penambahan, maka tiga pembicara pertama disajikan dalam rubrik ini sedangkan Gadis Arivia dihadirkan dalam bentuk artikel.
Kepekaan Baru dalam Keterhimpitan, Emmanuel Subangun, Peneliti pada Resource Productivity Centre

SAYA sebetulnya kurang begitu paham bagaimana masalah pascamoderenisme dapat kita tempatkan di dalam konteks masyarakat Indonesia sekarang ini. Karena saya kurang begitu paham, maka saya akan mengambil prosedur yang agak memutar.
Dalam kepustakaan pascamoderenisme, yang semangat awalnya terjadi sekitar tahun 1960an, Habermas mengeluh tentang semakin habisnya ruang terbuka, public spheres. Ketika itu Eropa memasuki masa konsumsi massal. Semua segi kehidupan sangat didominasi oleh interest beranak-pinaknya modal. Seolah-olah hanya ada satunya hukum yang menguasai masyarakat: hukum gerak modal. Inilah puncak zaman moderen. Dalam bentuk apapun moderenitas dilukiskan, tiga unsur ini: negara, pasar dan teknologi dengan padanannya stabilitas, alokasi efisien dan produktivitas – tak akan terelakkan lagi. Tiga bidang inilah yang kelak, dalam pascamoderenisme Lyotard, disebut ‘metanarasi.’
Jika moderenisme dilihat dalam keseluruhan sistem sosial yang terus berubah, ternyata ia memiliki akar terdalam pada kesiasiaan manusia moderen untuk membangun sangkar yang aman, sehingga terus menerus orang tenggelam dalam perasaan krisis (entzauberung). Pertama, kosmos yang nyaman berubah makna oleh otonomisasi (sekularisasi), sehingga rasa aman lenyap. Kedua, masyarakat yang nyaman dirobek-robek karena individu mendesakkan diri sebagai pusat semesta. Ketiga, kebersamaan nilai goyah karena ‘liberation’ atau protes individual. Keempat, birokrasi dan waktu (jarum jam) menggantikan tokoh mistis dan waktu mitologi. Dan, kelima, di atas segalanya ‘pribadi’ menemukan diri sendiri secara amat kuat, sehingga Berger berkata tentang ‘lonely crowd.’








Kemajuan dalam Pemahaman ataukah Langkah Mundur Penuh Putus-asa?
Tamrin Amal Tomagola, Pengajar pada Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia

Secara jujur harus diakui, saya “seorang murid pemula” dalam pascastrukturalisme dan baru membaca beberapa “Buku Pengantar” saja dalam bidang ini. Karena itu, yang saya kemukakan lebih merupakan pertanyaan ketimbang sebuah jawaban. Saya akan lebih menekankan sociology of knowledge melihat gejala pemunculan suatu “pengetahuan” baru. Cara penglihatan ini lebih cenderung melihat permasalahan yang menjadi concern disiplin sosiologi. Karena itu, perlu disinggung kondisi sosial-politis dari tanah-kelahiran pascastrukturalisme serta relevansi pikiran-pikiran pascastrukturalisme untuk Indonesia.
Sejarahnya
Saya mendapat kesan sangat kuat bahwa kemunculan pascastrukturalisme, dan sekaligus juga pascamoderenisme, merupakan manifestasi puncak dari gelombang kekecewaan yang menumpuk di kalangan beberapa generasi intelektual Eropa Barat. Sebenarnya, sejak awal pergantian abad ini di Eropa Barat telah mulai bersemi berbagai harapan akan terjadinya perubahan yang cukup memberi peluang bagi terciptanya suatu masyarakat rasional yang adil-bahagia. Tetapi, harapan tersebut mendapat tamparan telak dengan meletusnya Perang Dunia I. Untungnya, menjelang berakhirnya Perang Dunia I, muncul suatu revolusi di Rusia yang memberi harapan, Revolusi Oktober 1917. Keberhasilan Revolusi Bolsjevhik ini kembali membangkitkan harapan akan kemungkinan diwujudkannya suatu “masyarakat rasional yang adil-bahagia.” Harapan ini terutama hidup di kalangan para pendiri dan pengikut Frankfurt School.
Sejarah kemudian menunjukkan bahwa kebangkitan harapan kedua ini pun tidak bertahan lama, gagal. Terlihat dari gagalnya kebangkitan kesadaran kelas di kalangan buruh yang menjadi tumpuan utama harapan mereka. Tidak berhasilnya Partai Komunis Jerman mengambil-alih kekuasaan di Jerman, sehingga memunculkan kembali Hitler ke puncak kekuasaan, memudarkan harapan tersebut. Terlebih lagi, ketika Hitler menandatangani perjanjian tidak saling menyerang dengan Stalin dalam tahun 1939, malah membenamkan mereka ke dalam kekecewaan akan munculnya suatu “dunia baru” yang rasional, adil dan bahagia.
Sesudah Perang Dunia II, para intelektual muda Eropa Barat kembali menaruh harapan pada pikiran-pikiran Marxis yang mungkin dapat menyelamatkan umat manusia dari ketertindasan dalam masyarakat kapitalis. Tetapi, mereka harus menyaksikan fakta tingkah laku negara Uni Sovyet terhadap negara-negara baru di Eropa Timur dan khususnya tindakan ofensif KGB terhadap masyarakatnya sendiri. Praktek politik Uni Sovyet ditambah dengan gagalnya berbagai gerakan demonstrasi flower generation, di tahun 60-an telah mengantarkan generasi intelektual muda Eropa Barat ke puncak kemuakan mereka pada setiap rencana besar yang pada awalnya kelihatannya menjanji’kan sesuatu. Ketidakpercayaan mereka kepada setiap ‘rencana besar.’ Kekesalan terhadap praktek-praktek Partai Komunis Sovyet, KGB dan negara Uni Sovyet umumnya yang terlihat pada kenyataannya berbagai kritik terhadap ‘grand plans‘ selalu diarahkan ke Uni Sovyet, tapi tidak pernah ke ‘rencana besar’-nya Amerika Serikat yang dicanangkan oleh siapa pun ini, dibarengi pula dengan kesadaran bahwa individu sebenarnya tidak berdaya terhadap sistem dan struktur yang ada.
Kita Gesek Biola Sementara Rumah Kita Terbakar, Iwan Fridolin, Pengajar pada Jurusan Sastra Cina Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Pascamoderenisme adalah gambaran sebuah tipe masyarakat baru. Gambaran yang diangkat dari perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Barat setelah Perang Dunia II, atau masyarakat pasca-industri.
Selama empat setengah dasawarsa terakhir ini, ilmu dan teknologi makin memberikan perhatian pada bahasa: teori linguistik, komunikasi dan sibernetika, komputer, penyimpanan informasi dan bank data. Ciri khas zaman ini, menurut Lyotard, adalah fragmentasi berbagai permainan bahasa. Tidak ada metabahasa. Tak seorang pun dapat memahami secara keseluruhan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat.
Berbagai transformasi teknologis mempunyai dampak luas pada pengetahuan. Pengetahuan menjadi komponen utama dalam persaingan kuasa. Pada masa lalu, perang dilakukan untuk mengontrol wilayah-wilayah geografis tertentu. Kini, beberapa negara akan berperang demi pengawasan atas informasi. Sekarang ini pengetahuan tidak lagi menjadi tujuan tapi diproduksi untuk dijual. Ciri lain, penyusutan jumlah pabrik dan pekerja pertanian, dibarengi peningkatan jumlah pekerja profesional dan teknis, sehingga terjadi perubahan dalam komposisi tenaga kerja. Perusahaan multinasional menjadi bentuk baru sirkulasi modal.
Kemajuan luar biasa dalam bidang teknologi mengakibatkan terjadinya loncatan tekanan dari berbagai tujuan-tindakan ke cara-tindakan. Teknologi menjadi permainan yang tak lagi bertujuan mencapai kebenaran dan keadilan, tapi terarah pada efisiensi, menambah dan memperbesar kekuasaan. Bank-bank data adalah ensiklopedia masa depan. Inilah moderenisme. Pengetahuan naratif dalam masyarakat tradisional, seperti cerita rakyat, mitos, legenda, yang dulu berfungsi sebagai legitimasi pranata sosial dan pengikat pertalian sosial dalam komuniti, kini semakin surut ke belakang, terbentur pada pengetahuan keilmuan masyarakat kontemporer.