Perkembangan teknologi di bidang ilmu hayat pada abad ke enam belas telah membuka lembaran baru pula di bidang ilmu kedokteran. Dengan teknik yang bekerja berdasarkan penguraian secara analitik terhadap struktur dan fenomena yang terjadi pada setiap sel atau unsur yang membentuk tubuh manusia itu, perubahan-perubahan yang terjadi pada sel yang sakit dapat diketahui. Dengan demikian, proses terjadinya sakitpun dapat diketahui. Tetapi ternyata hal-hal tersebut belum dapat dipergunakan sebagai ukuran yang sempurna untuk menetapkan “sakit atau tidaknya” seseorang. Keterbatasan itu ditimbulkan oleh kenyataan bahwa ilmu yang didasarkan kepada penemuan-penemuan eksperimentil tersebut ternyata tidak dapat mencakup sifat hidup manusia secara keseluruhan: sifat hidup yang dinamis, yang berubah bersama perubahan lingkungannya. Penemuan-penemuan di bidang bakteriologi pada akhir abad ke sembilan belas mengungkapkan penyebab serta penjalaran penyakit yang menular dari lingkungan hidup manusia. Perkembangan industrialisasi juga ikut menyumbangkan masalah-masalah baru di bidang kesehatan, seperti kecelakaan, gangguan kejiwaan, pencemaran, dan penyakit-penyakit lainnya.
Oleh karena itu, kini masalah-masalah kesehatan tidak dapat lagi ditangani berdasarkan penelaahan terhadap unsur-unsur serta reaksi tubuh manusia terhadap serangan penyakit saja. Sehat dan sakit kini dianggap sebagai penampilan hasil interaksi antara berbagai aspek sifat manusia secara keseluruhan dengan lingkungan tempat ia hidup. Sebagai misal, seorang yang terserang penyakit tuberkulosa paru-paru, selain telah terkena infeksi kuman-kuman tbc dari keluarga atau teman dekatnya, agaknya juga karena lingkungan, makanan, cara hidup, suasana rumah tangga dan barangkali juga keadaan emosinya telah melemahkannya. Dalam pengobatan, faktor-faktor itu harus pula diperhatikan.