Pengantar
Dialog kita kali ini menampilkan dua sastrawan dari dua periode berbeda. Yang pertama, Ayip Rosidi, 41 tahun, adalah orang yang punya perhatian dan melakukan penelitian untuk sastra daerahnya: Sunda. Yang kedua, Sutan Takdir Alisyahbana, 72 tahun, sastrawan pelopor Pujangga Baru. Mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang kebudayaan daerah dan nasional.
Ayip tetap tak mau meninggalkan keindonesiaan dalam melihat kebudayaan daerah. Dia melihat ada usaha “kurang sadar” yang pernah dibuat orang dalam menghidupkan kembali kesenian daerah, antara lain mengembalikan feodalisme. Dan memelihara kebudayaan daerah bagi Ayip sendiri-dia sendiri pernah merekam pantun-pantun Sunda-tak menimbulkan regionalisme.
Takdir pun mencintai kesenian daerah. Dia memiliki sanggar kesenian Toya Bungkah, Bali. Namun bagi Takdir, kebudayaan daerah dan nasional sekarang haruslah bersumber pada ilmu. Kebudayaan sekarang, katanya, adalah soal kesatuan dunia, kesatuan umat manusia. Redaksi.
Kebudayaan daerah dan keindonesiaan, Ayip Rosidi, 41 tahun, sastrawan
Banyak sudah usaha yang ingin menghidupkan kebudayaan daerah. Tetapi, usaha itu sering hanya didorong oleh keinginan untuk melanjutkan yang biasa-yang sudah ada-dan sering pula tidak dihubungkan dengan keindonesiaan. Kegiatan kesenian dan kebudayaan seperti itu, seperti tidak tahu, bahwa daerah sesungguhnya sudah lain dalam suatu kesatuan Indonesia. Dan mereka yang melakukan kegiatan ini, banyak yang tak sadar bahwa banyak nilai daerah-yang menurut mereka dianggap baik-sebetulnya tidak cocok lagi dengan cita-cita kebangsaan yang hendak kita tegakkan. Masalah demokrasi adalah salah satu contoh.
Kita kini sepakat untuk menegakkan asas demokrasi. Pada dasarnya, asas itu ada di tiap-tiap daerah, dengan tipis tebal yang berbeda, serta latarbelakang yang berlainan. Tetapi, di beberapa daerah, feodalisme lebih menonjol. Bagi mereka nampaknya, antara feodalisme dan demokrasi tak ada persoalan prinsipil. Dalam situasi 1950-an, ketika mengagung-agungkan Indonesia, jika ada orang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak cocok lagi, mereka akan tersinggung. Walaupun begitu, karena kebudayaan daerah itu terdapat di seluruh Indonesia, ia memang perlu digali. Saya berasal dari daerah Sunda, karena itu saya menggali kebudayaan Sunda. Kecenderungan saya menulis dalam bahasa Sunda juga menimbulkan ejekan dari beberapa kawan. Ada yang menyebut saya sebagai “Si Sunda.” Tapi di balik itu, dalam lingkungan kebudayaan Sunda lama, saya juga tidak diterima dengan baik. Kalau pun saya diterima, penerimaan itu disertai dengan kecurigaan. Ada malah yang menulis, bahwa saya adalah “monyet” yang datang dari daerah lain dan tak bisa memahami masalah yang sebenarnya. Tragis. Saya terjepit. Dan pada tahun 1950-an-saat yang masih dekat dengan masa revolusi-setiap usaha dan kegiatan yang berbau daerah dapat dianggap sebagai kaki tangan van Mook. Ini pandangan politis, karena van Mook mendirikan negara boneka. Pada saat begitu, sulit bagi kita untuk membicarakan kebudayaan daerah. Tapi kini keadaan seperti ini masih nampak pada orang-orang yang berasal dari perjuangan 1945. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan daerah dianggap bertentangan dengan cita-cita nasional. Jadi, unsur daerah masih dilihat sebagai sesuatu yang membahayakan Indonesia sebag ai nation. Pandangan ini keliru. Pada tahun 1960-an, kesenian daerah mulai bangkit. Hanya saja ia dipergunakan secara politis oleh Lekra. Organisasi itu mendirikan sanggar, dan dalang yang sebetulnya tidak memiliki pandangan politis jadi senang sekali. Tempat latihan yang tak pernah mereka bayangkan, mereka peroleh. Banyak orang terjebak. Dalam pada itu organisasi seperti LKN dan Lesbumi masih membatasi pada jenis kesenian tertentu, dan belum menjamah wayang serta topeng.

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu, Sutan Takdir Alisjahbana, 72 tahun, sastrawan
Sebenarnya terjadi kekacauan dalam mengambil pengertian tentang kebudayaan nasional Indonesia. Banyak di antara kita tidak memiliki pengertian kebudayaan yang jelas. Dalam arti sempit, kebudayaan adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Dalam arti luas-yang sebenarnya relevan pada zaman sekarang-kebudayaan itu melingkupi segala perbuatan manusia, yang membedakannya dengan hewan. Budi daya atau kebudayaan tak lain daripada hasil budi manusia. Dan bila kita lihat kebudayaan Indonesia dalam arti luas ini, perubahannya akan jelas sekali: dari suatu konfigurasi yang dikuasai agama, seni, solidaritas dan kekuasaan politik, pindah ke suatu bentuk yang dikuasai ilmu, ekonomi, yang bersama-sama melahirkan teknologi dan menumbuhkan solidaritas serta susunan politik yang baru. Bagi saya jelas sekali perbedaan kebudayaan Indonesia lama, kebudayaan Indonesia baru, dan kebudayaan Indonesia moderen. Pusat kebudayaan itu adalah universitas.
Kini titik berat pembangunan kita berada pada bidang ekonomi. Dan karena pusat kebudayaan itu sekarang adalah universitas, maka ia menghendaki naiknya derajat bangsa Indonesia dalam bidang ekonomi. Ini tidak berarti bahwa agama tidaklah penting. Dalam hal ini, seni dan agama mendapat penekanan pada tahap berikutnya.
