Sejarah yang Lebih Manusiawi
Sekarang ini pelajaran sejarah di sekolah menengah sangat memprihatinkan. Sebenarnya banyak faktor yang menjadi penyebab, tetapi “kurikulum” dan “metode pengajaran” yang lebih banyak dituding orang. Akibatnya, “sejarah” itu sendiri harus ikut prihatin, karena “diemohi” oleh banyak murid di sekolah menengah. Padahal, beberapa saat yang lalu Presiden Suharto menganjurkan agar pelajaran sejarah bisa ikut menumbuhkan rasa kebanggaan nasional pada diri anak-anak didik.
Di tengah-tengah keprihatinan itulah saya masih tetap menjadi pecinta pelajaran sejarah, karena selama ini saya merasa dibantu oleh majalah Prisma dalam mengikutinya. Seandainya tidak dibantu, mungkin juga saya sudah terbawa arus seperti kebanyakan sikap kawan-kawan di sekolah menengah, karena memang pelajaran sejarah yang sekarang ini disajikan di bangku sekolah terasa sangat kering.
Keringnya penyajian pelajaran sejarah itulah menyebabkan banyak murid menjadi “emoh” mengikutinya dengan baik. Bagi saya sendiri tidak hanya terasa kering, tapi juga terasa “tidak manusiawi”. Lebih-lebih sejarah “kontemporer” di mana penulisnya terasa masih semrawut dan kurang obyektif. Mungkin karena datanya belum lengkap.
Maksud saya tidak manusiawi adalah dalam hal penggambaran tokoh-tokoh sejarah, di mana sang tokoh dikesankan hanya dalam satu dimensi. Misalnya, tokoh A mendapat kesan putih, sedangkan tokoh B hitam. Antara hitam dan putih ini tidak pernah menjadi satu, tetapi untuk seterusnya berdiri di titik mereka masing-masing Sebagai contoh; sebelum membuka Prisma Nomor 5 tahun 1982 yang memuat tokoh Kartosuwiryo saya memperoleh kesan bahwa orang bernama Kartosuwiryo adalah pemberontak dan pengacau yang ingin mendirikan negara Islam Indonesia tapi akhirnya gagal. Jadi dalam kehidupan politiknya seolah-olah Kartosuwiryo berada dalam “dunia hitam”.
Apa yang terjadi setelah saya membaca Prisma edisi tersebut? Walhasil, saya menjadi tahu bahwa Kartosuwiryo pun pernah menjadi pejuang melawan kolonialisme Belanda. Dia tidak hadir begitu saja sebagai pengacau. Pendeknya Kartosuwiryo yang juga tokoh sejarah ini dihadirkan secara penuh dari lahir sampai meninggal. Tidak sepotong-potong.
Selain itu dari Prisma edisi “Manusia dalam Kemelut Sejarah” yang menggemparkan itu saya jadi makin mengenal siapa itu Soekarno, Syahrir, Tan Malaka, H. Agus Salim, Amir Syarifuddin dan sebagainya. Dari edisi “Pergolakan Politik dalam Sejarah” saya menjadi tahu apa itu “Peristiwa 17 Oktober 1952”, yang lalu saya hubungkan—ini berdasarkan penalaran saya sendiri—dengan “Dewan Jenderal” dan “Peristiwa G-30-S/PKI”, yang kemudian saya tanyakan kepada guru sejarah saya. Tapi guru sejarah itu hanya menjawab: “Memang nalar. Tapi untuk fakta masih perlu ditanyakan buktinya. “Namun guru saya menghargai sekali pertanyaan saya itu.
Maka kiranya bukanlah pujian yang kosong bila kemudian saya berkata bahwa, pendekatan penulisan sejarah di Prisma terasa lebih manusiawi. Semoga dipertahankan. BUDIAWAN Kelas III Bahasa, SMA de Britto Yogyakarta.