Prisma

Kritik dan Komentar

Hersri dan Joebaar tak kenal Sejarah?

Dari sekian kali Prisma menampilkan rubrik tokoh, Hersri S sudah menulis dua kali. Untuk terakhir ini dia bersama Joebaar Ajoeb mengetengahkan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo sebagai orang yang ditokohkan pada Prisma nomor 5 edisi Mei 1982.

Secara pribadi saya sangat tertarik dengan penuturannya. Selain gaya bahasanya yang khas tokoh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo jarang juga diungkap orang. Namun tulisan Hersri S dan Joebaar Ajoeb (selanjutnya HJ, singkatan dari penulis) tidak secara detail apalagi tuntas dengan konklusi yang jelas, walau masih jauh dari itu, tetapi nilainya tak kurang sebagai suatu hasil kajian yang sungguh-sungguh, meski disana banyak kebengkokan yang harus diluruskan.

Sebenarnya melihat kadar yang dipunyai oleh Bung HJ berdua diharapkan dapat menyumbangkan pikiran dari hasil telaahan yang dalam untuk menjernihkan masalah nampaknya tabu ini, malah jadi sebaliknya. Kalau tak salah hal inilah himbauan Bung Tomo tempo hari. Memang dampak dari kebrutalan SM Kartosuwiryo si gembong NII/DI—TII dirasa sampai kini masih menjadi lembaran hitam yang sering dipakai untuk memojokkan posisi Islam.

Pada halaman 82 kolom II tertulis;

. . . Di samping Islamisme, yang secara tradisi memang menolak penjajahan, tetapi tidak menolak kapitalisme.

Bung HJ, apakah saudara berdua sudah fakih terhadap Islam, kok keburu berani membuat natijah begitu. Secara ekplisit Islam tidak mengajarkan pada pemeluknya hubungan bersifat tradisi, baik dengan Khaliq maupun sesama manusia, harus bertumpu pada akal-pikiran waras dengan dasar yang sudah qot’i (baca Qur’an dan Sunnah).

Tak perlu saudara HJ merasa cemburu terhadap kegetolan para syahid yang secara faktual telah mendominir lembaran sejarah di bumi pertiwi ini. Perjuangan mereka adalah ikhlas atas dasar tuntutan manusiawinya, yang dikodratkan sebagai Khalifah fil-ardhi. Jadi pengorbanan mereka bukan layaknya seperti tumbal. (tulisan HJ halaman 96 kolom II). Lagi, Islam tidak menolak kapitalisme. Boleh saja saudara HJ berkeyakinan demikian, tetapi sayang presepsi saudara HJ tidak anda jelaskan lebih lanjut. Jangan-jangan akan mengundang interpretasi berkepanjangan.

Taruhlah batasan yang dicoba oleh Marxisme dengan memakai kriteria yang obyektif. Yakni: termasuk golongan kapitalis, ialah semua orang yang memiliki dan menguasai alat-alat produksi (modal atau kapital) di dalam masyarakat. Tetapi ukuran ini sebenarnya tidak ada artinya sebagai ukuran yang obyektif, sebab menurut ilmu ekonomi, modal adalah tiap-tiap alat yang dapat menghasilkan atau menambah barang-barang keperluan hidup manusia. Kalau kita mengambil paham tentang modal atau kapital sebagai ukuran kelas, maka tiada seorang pun yang luput daripada arti kapitalis. Atau kapitalisme baru dari Revolusi Perancis yang menjadi sasaran Marxisme. Kapitalisme baru itu sendiri lebih lanjut memberi jalan untuk timbulnya berbagai monopoli baru yang dipegang oleh orang dan badan-badan (trust, kartels dan sebagainya) yang besar dan amat berkuasa, yang tidak kurang kejam dan tamaknya daripada kapitalis dari abad delapan belas dan sebelumnya. Ini tidak masuk akal.

Kemungkinannya adalah Islam tidak menganjurkan dan memperuncing perbedaan atau pertentangan di dalam masyarakat. Tidak membujuk dan menghasut untuk membasmi dan memusnahkan sesama manusia yang termasuk golongan kapitalis.

Islam mencoba tidak menghapuskan (cetak miring), sebab tidak mungkin, melainkan hanya meringankan penderitaan kaum lemah, miskin dan tertindas, dengan meletakkan beberapa beban dan kewajiban yang berat kepada golongan yang lebih berbahagia dalam hal kebendaan. Kaum Muslimin yang hartawan wajib, menurut kreteria tertentu, membayar zakat dan bersedekah kepada golongan yang kurang rezekinya. Karena ukuran-ukuran dan syarat-syarat itu, sebagai dasar untuk membayar zakat/fitrah dan bersedekah, bisa diketahui secara obyektif dan berlaku bagi tiap-tiap muslim, maka soal golongan atau kelas itu menjadi sekunder, tidak begitu penting. (Bapak Syafruddin Prawiranegara; Islam Dalam Pergolakan Dunia — halaman 15, 27 dan 14).

Halaman 93 kolom II pada dokumen ke I ayat Al-Quran yang dicuplik tertulis; Infiru chilafan wa taiqalan wa jahidu diamwalikum wa aufusikum fi sabilillah. Cuplikan ayat ini adalah potongan ayat 41 surat At-Taubah. Bunyi ayat tersebut banyak kesalahan tulisnya. Sedang sebenarnya adalah; Infiru hifafan wa tsiqolan wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum fi sabilillah.

Halaman 94 kolom I, syahadat pada teks Proklamasi NII tertulis; Asyhaduallailaha ilaha ilallah wa asyahaduana Muhammadar rasulullah, sedang Syahadat yang benar adalah; Asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.

Sayang pada kedua dokumen tersebut sudah memakai ejaan yang disempurnakan, sehingga di mana letak kesalahan sebenarnya, apa dokumen aslinya atau saudara HJ sebagai penyalin sulit juga dicari. Yang jelas redaksi kurang korek, nyatanya hal ini tidak ada ralat. Mestinya lebih berhati-hati apalagi menyangkut ayat suci.

Halaman 95 kolom I tertulis;

. . . Dengan resmi ia telah menukar jalannya. Jalan itu ternyata jalan yang telah menyesatkannya ke hutan-hutan pegunungan Jawa Barat. Jalan itu memang bernama jalan Islam.

Menurut saudara HJ berbaliknya SM Kartosuwiryo dari pejuang menjadi pemberontak, pengacau yang biadab tak kenal perikemanusiaan, atau lengkapnya Sekarmaji, tersesat karena telah memilih jalan baru, yakni Islam. Kemungkinan analisanya dengan melihat keradikalan Sekarmaji di dalam PSII berikut beralih mengisolir diri dengan mendirikan institut suffah untuk menggembleng para pengikutnya. Halaman 90 kolom 2 tertulis;

di Malangbong ini menukar jalannya sendiri dengan mendirikan Negara Islam Indonesia. Memang ada saja kemungkinan, dan kemungkinan itu besar juga, . . .

hal ini bertambah jelas dengan konklusi akhir saudara HJ pada halaman 96 kolom 2 tertulis;

. . . , barangkali dapat merupakan kaca benggala kehidupan seorang politikus Indonesia berkeyakinan Islam.

Bila diambil pengertian secara umum apa yang termaktub di atas tadi saudara HJ berkeyakinan bahwa, SM Kartosuwiryo adalah type seorang muslim yang berkomitmen terhadap agamanya, Islam. Sekarmaji ingin jihad dalam menegakkan dan memperjuangkan eksistensi Islam dengan segala kekuatan. Untuk sementara boleh begitu.

Tapi tak habis mengerti kalau saya telusuri lagi dari sesuak-suak tulisan saudara HJ, seperti pada halaman 80 kolom 2;

. . . , begitu pula gerakan kebangkitan nasional. Pada masa-masa inilah agaknya pemuda Marijan mulai “ditenung” amarah gerakan kebangkitan nasional, seperti yang terlihat pada tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto dengan Sarikat Islamnya laksana mercu-suar bagi gerakan nasional di kala itu . . .

berikut halaman 84 kolom 2 tertulis;

. . . Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo disrupi kisah-kisah babad sejarah kebesaran demak Islam, di mana ia membayangkan dirinya sebagai seorang Falatehan yang mengislamkan Jayakarta . . .

juga pada halaman 81 kolom 1 tertulis;

. . . mudah dipahami mengapa jika pada tahun 1927-tahun meletusnya pemberontakan Komunis di Jawa dan Sumatera Barat,dan ketika ia sudah duduk pada tahun keempat di Sekolah Dokter Jawa Marijan diusir dari Nederlandsch — Indische Artsen School (NIAS). Padanya ditemukan buku-buku tentang sosialisme dan Komunis.

dan terakhir pada halaman 91 kolom 1 tertulis;

. . . Surat tersebut menunjukkan masih adanya ketundukan Kartosuwiryo kepada Republik Indonesia, sedangkan tentang “Negara Islam Indonesia” katanya dipergunakan sebagai kedok dan alat untuk memobilisasi kekuatan melawan Belanda.

Setelah menyimak lebih jauh apa yang digambarkan oleh saudara HJ dapat kita ambil kesimpulan-kesimpulan; Pertama, apakah mungkin Kartosuwiryo yang terkena tenung dan kesurupan itu dapat dikatakan orang waras. Sedang menurut bahasa agama ( — baca ‘ Islam), dia sudah termasuk “rufial — qolam“, maknanya orang yang sudah bebas dari tanggung-jawab dan tuntutan. Kalau toh, itu cuma istilah kata, katakanlah sarkasme, maka saudara HJ telah memperkosa pengertiannya sendiri. Kedua, bukan tidak mungkin bahwa SM Kartosuwiryo sebarisan dengan Semaun, Alimin, Tan Malaka. Nota bene Sekarmaji adalah murid dari pamannya sendiri Mas Marco Kartodikromo, wartawan dan sastrawan dan tokoh terkemuka komunis. Ketiga, menurut penuturan ex kapten Sidik sendiri bahwa NII adalah “kedok” atau “alat” untuk mengelabui masyarakat Jawa Barat. Ini baru satu orang padahal masih banyak tokoh terkemuka masyarakat yang masih hidup menjadi saksi mata atau terlibat langsung dengan Kartosuwiryo. Mengapa ini tidak dimanfaatkan oleh saudara HJ? Keempat, melihat “wahyu Cakra Ningrat” berupa rangkaian kalimat syahadat yang dipakai oleh Kartosuwiryo untuk meninggikan martabat pribadinya di mata pengikutnya (halaman 83 kolom 1), maka jelas ini merupakan singkretisme, mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil. Inikah yang dinamakan angan-angan Sekarmaji untuk menggunakan Islam seutuhnya? (halaman 90 kolom 1).

Rupanya saudara HJ lupa atau memang tidak mencantumkan bahwa di antara sebab terkucilnya Sekarmaji dari pemimpin-pemimpin SI adalah kecenderungannya pada mistik. Konon, pada akhir hayatnya, dibalik keputusasaannya, Sekarmaji sudah memperhambakan diri pada sebilah keris yang dipandang sebagai penerang cita dan citra hidupnya.

Menurut Mohammad Iqbal; mana mungkin “api Islam” akan tergali pada diri seseorang yang kredibilitas Islamnya skeptis dan mistis ini. Lantas Islam yang mana, menurut saudara HJ yang diperjuangkan oleh anak manusia bernama Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo.

Sebelum menutup tulisannya saudara HJ menegaskan pada halaman 96 kolom 2 adalah;

Tulisan ini tidak bertujuan untuk menambahkan keadilan pada keadilan, . . . .

Saya tak bertanya di mana relevansi dari konteks ini, ibarat saudara HJ berangan-angan jadi “Pikulun Narada” saja. Saya tak dapat untuk tidak mengatakan bahwa akhirnya ini menjadi bumerang bagi saudara HJ sendiri. Ingatkan sama pesan Wodhrow Wilson;

Sejarah adalah politik yang cepat, Politice adalah sejarah saat ini, dan boleh ditambah penulisan sejarah adalah melegitimasi politik masa kini. (mohon tambahan ini di Inggeriskan, Red’)

Mudah-mudahan Kang Mas Hersri S dan Bung Joebaar Ajoeb sarujok’.

Kemenh. Sulton Amien Mhs. Fkis. Ikip Muhammadiyah Jln. KH Samanhudi 81 Sidoarjo, Surabaya. Terima kasih atas koreksi anda untuk Redaksi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan