Prisma

Kritik dan Komentar

Koreksi Penulisan Sejarah

Tinjauan S.I. Poeradisastra atas Karya Leo Suryadinata “Peranakan Chinese Politics in Java” yang dimuat pada majalah Prisma edisi No. 6 Juni 1982 halaman 89, dengan ini kami ingin memberikan sekedar ralat dan penjelasan.

Beliau menulis pada halaman 12, bahwa Boedi Oetomo (BO) ditipifikasikan sebagai suatu organisasi yang dimaksud “untuk mempromosikan status budaya dan ekonomi orang Jawa dan pada dasarnya merupakan organisasi bangsawan Jawa”. Saya ingin bertanya “Apakah justeru bukan suatu organisasi kaum menengah-awal atau proto-middle class?”. Karena Wahidin Soedirohoesodo pemrakarsa B.O. —hanya bergelar Mas, sedangkan Soetomo hanya Raden dari daerah tanpa kesultanan (Nganjuk) Goesti Pangeran Harya, Bandara Pangeran Harya, Bendara Raden Mas, Kanjeng Raden Toemenggoeng, Raden Mas yang merupakan kaum Bangsawan (aristokrat) tidak ada dalam B.O.

Menurut dugaan kami S.I. Poeradisastra yang terhormat tidak mengetahui secara tepat, bahwa yang secara absah menggunakan gelar Raden Mas adalah keturunan kelima atau generasi kelima (vijfde graad) dari salah satu Raja Jawa yang pernah bertakhta yakni (para Soenan Solo, para Mangkoenagara, para Sri Sultan Yogya, para Pakoelam Yogya, atau raja-raja Majapahit. Selanjutnya yang berhak menggunakan gelar Raden adalah keturunan kelima daripada seorang Raden Mas yang paling akhir (apabila ia tidak kawin dengan seorang wanita yang lebih tinggi “graad“-nya). Kalau isterinya sama-sama dari graad kelima atau lebih rendah graad-nya, maka anak-anaknya hanya dibolehkan pakai gelar Raden. Selanjutnya gelar Raden ini hanya dibolehkan sampai lima generasi saja. Kalau tidak ada perkawinan dengan wanita sepadan atau lebih tinggi graad-nya, maka anak-anaknya harus pakai gelar Mas. Maka para Raden diharuskan mempunyai “sara-silah” dari nenek moyangnya untuk menunjukkan ke-absahannya.

Jadi yang sungguh secara absah berhak memakai gelar Raden atau Mas, pada hakekatnya adalah keturunan dari para bangsawan. Hal ini tidak diketahui dengan jelas oleh orang Jawa masa kini.

Boedi Oetomo berdiri (didirikan) pada tahun 1908. Hendaknya diketahui, bahwa di Stovia, sebelum itu, dan sekitarnya, sudah ada para aristokrat yang menjadi murid.

Kami pernah kenal mereka selama sama-sama menjadi murid di Stovia. Supaya dapat dicek kebenarannya nama mereka dapat disebutkan di sini yaitu R.M. Abdulkadir, R.M. Marwata, R.M. Mawardi, R.M. Marsadi, R.M. Goembrek, R.M. Moekadi, dan sekitar 1908 dan sesudahnya antara lain R.M. Dhirdjosoegondo, R.M. Gondhosoemeno, R.M. Gondosoeweno, R.M. Wirasmo, R.M. Notopratomo, R.M. Soewardi Soerianingrat, R.M. Marsaid. Mereka semuanya pada waktu itu lazimnya dipanggil dengan nDara-ndara oleh rakyat jelata yang mengetahui asal-usulnya, karena tetap dianggap bangsawan, walaupun para aristokrat ini sudah hidup dekat garis kemiskinan. Penulis adalah saksi hidup. Di antara mereka yang disebut di atas kiranya banyak yang sudah tidak ada lagi. Mereka semuanya adalah murid-murid ikatan dinas Stovia. Tidak! pada waktu B.O. didirikan, mereka masih murid kelas rendahan atau kelas atasan para aristokrat yang masih ada di Stovia waktu itu tidak disebut-sebut. Yang disebut hanya R. Soetomo dan R. Goenawan Mangoenkoesoemo. Tapi menurut keyakinan kami, mereka setidak-tidaknya semuanya jadi pendukung atau pengikut (simpatisan).

Selanjutnya Poeradisastra menulis bahwa kaum bangsawan biasanya meneruskan belajar dari Europese Lagere School ke HBS (Hoogere Burgerschool). Sebagian mereka belajar di Nederland. Stovia merupakan sekolah yang biayanya ringan, jauh lebih murah ketimbang HBS. Untuk masuk Onderbouw (bagian persiapan) yang tiga tahun, seorang pelajar hanya disyaratkan punya ijazah Eerste Klasse School (pendahulu HIS) tapi hanya 6 tahun, sedangkan HIS 7 kelas.

Kami ingin memberikan ralat dan penjelasan bahwa Onderbouw Stovia namanya Voorbereidende Adeeling = VA. Persyaratan masuk Stovia adalah telah lulus ELS atau HIS, dan lulus ujian “toelatings-examen voor de Stovia“. Bahkan para murid lulusan MULO dan lulusan kelas 3 dari HBS apabila hendak masuk “Geneeskundige Afdeeling” atau GA harus menempuh ujian tambahan Goneometrie, trigoneometrie dan Stereometrie. Kalau tidak lulus hanya diterima untuk kelas 3 dari VA. Ini sejak tahun 1913. setelah Stovia dibuka untuk siswa-siswa segala bangsa dan bebas ikatan dinas.

Yang merupakan pendahulu HIS adalah “Inlandsche School der Eerte Klasse” dengan 6 kelas, yang setelah lengkap jadi HIS mempunyai 7 kelas. Di ibukota karesidenan Banyumas misalnya, HIS baru dirintis mulai tahun 1909. Europeesche Lagere School der Eerste Klasse sudah ada sejak tahun 1898. ELS di Banyumas pada tahun 1905 mempunyai 8 kelas, Yang terendah adalah “Aanvantste klas“. Bahasa Belanda yang aneh, yang dimaksud “voorklas = Freubel klas“. Selanjutnya kelas 1 sampai 7.

Berikut Poeradisastra menulis bahwa setelah tamat Stovia seorang belum menjadi dokter (ralat : belum jadi Arts. — Pen.) melainkan baru Indische Arts (Ralat: Indisch Arts — Pen). Untuk menjadi dokter (Ralat : Arts — Pen) diperlukan kuliah lagi tiga tahun pada fakultas kedokteran (Sebelum tahun 1927 hanya ada di Nederland). Banyak siswa Stovia belajar dengan bea-siswa. Ralat dan penjelasan kami, bahwa fakultas kedokteran di Batavia (Geneeskundige Hoogeschool) didirikan pada tahun 1926. Beberapa guru-guru Stovia diangkat menjadi Hoog-Leeraar atau Professor, antara lain guru-guru kami dari S Stovia : Prof. dr. de Waard, Prof. C.D. de Langen, Prof. Dr. Radsma, Prof. Dr. Boerma, dan Prof. Dr. Lesk bekas Leeraar NIAS. Pada saat itu yang masih merupakan murid-murid dari Stovia, disilahkan memilih mengikuti pelajaran AMS, atau pindah ke NIAS. Yang lulus pelajaran AMS kemudian diterima sebagai mahasiswa Geneeskundige Hoogeschool. Jadi yang lulus Arts kemudian di antaranya adalah bekas murid Stovia, nama ejekannya “klepek”, pembauran perkataan Perancis “eleve“. Para Indisch Arts yang dikirim ke Nederland oleh Pemerintah Hindia-Belanda, atau yang pergi atas biaya sendiri, diberi waktu$1\frac{1}{2}$sampai 2 tahun untuk memperoleh diploma Arts di Universiteit Amsterdam, Groningen, Leiden atau Utrecht. Rata-rata mereka lulus sekitar$1\frac{1}{2}$tahun, kecuali mereka yang berkehendak memperoleh gelar Dokter (Doctor). Antara lain yang penulis kenal Dr. Latumeten, Dr. Sardjito, Dr. Moh. Saleh, Dr. Boentaran, Dr. Seno Sastroamidjojo, Dr. Amir dan Dr. J.S. Warouw.

Tentang bea-siswa, Semua siswa Stovia yang diterima sampai tahun 1913 adalah siswa ikatan dinas “dienst-verband-leerlingen” Baru setelah tahun 1913 ada “vrije leerlingen“, dengan bayaran sekolah sebanyak Fl. 15. (vijftien gulden) tiap bulan. Setelah lulus mereka mendapat diploma Indisch Arts. Seorang Indisch Arts bergelar: Genees-, Heel-en Verloskundige. Bevoegd tot de uitoefening der Geneeskunde in haar Vollen Omvang. Jadi bevoegdheidnya sama saja dengan para artsen lulusan Nederland. Arts maupun Indisch Arts sama-sama dipanggil dengan kata “Dokter”. Dokter adalah kata panggilan Vocativus bukan gelar. Sekarang lulusan fakultas kedokteran di Indonesia saking bingungnya, memberi nama apa bagi yang lulus ujian terakhirnya, bukan dengan Arts karena ini nama Eropa, tapi diberi gelar Dokter (dr.) Hingga sekarang dokter merupakan gelar dan juga merupakan panggilan. Padahal gelar Drs. tetap dipergunakan. Sedangkan Arts adalah lebih tinggi daripada Doktorandus Medicus.

S.I. Poeradisastra selanjutnya mengatakan bahwa oleh karena itu sekalipun seorang siswa Stovia itu kebetulan Raden, namun kelompok penghasilan (income bracket) orang tuanya — sebagai pauperized aristocrats — hanya masuk golongan menengah di dalam pergeseran status sosial sebagai akibat sistem pendidikan Barat. Inilah status sosial para anggota Boedi Oetomo yang sebenarnya ….

Sic transit gloria mundi!! Jadi Poeradisastra mengaku sendiri, bahwa mereka itu adalah golongan bangsawan miskin, Yah! Tuan S.I. Poeradisastra yang terhormat, bangsawan tingkat tinggi atau aristokrat tingkat menengah atau aristokrat tingkat rendah atau bangsawan miskin, mereka adalah dan tetap bangsawan, bukan?

Jadi tafsiran Leo Suryadinata “pada dasarnya benar” yaitu, B.O. adalah suatu organisasi yang dimaksud “untuk mempromosikan status budaya dan ekonomi orang Jawa dan pada dasarnya merupakan organisasi bangsawan Jawa“, adalah benar menurut kami.

Apakah S.I. Poeradisastra akan lebih setuju, apabila di belakang tafsiran Leo Suryadinata diberi catatan yang rintik-rintik halus yang berbunyi …..: (meskipun sangat banyak dari mereka sudah miskin!).

Perkenankanlah pada penulis ini menyampaikan rasa hormat dan respek setinggi-tingginya kepada almarhum Dr.R.Soetomo pendiri Boedi Oetomo, dan bekas “boss” penulis sebagai chef de clinic daripada bagian dermato-venerologie di R.M. Simpang di Surabaya pada tahun 1929, dan respect pada beliau sebagai leerraar pada NIAS.

Siapa tahu? Beliau, Dr.R.Soetomo, Nasionalis kaliber besar, yang gigih sebagai pemimpin Indonesische Studie-club menentang dan mengritik De Vaderlandsche Club yang sangat angkuh, adalah keturunan sambernyawa atau keturunan banyakwide?

Terimakasih diucapkan pada Redaksi Majalah Prisma yang berkenan memuatnya sehingga dapat dikoreksi oleh siapa saja yang menginginkannya. Sekian. Wassalam. Abu Bakar, Jl. Dr. Sutomo No. 6, Kediri.

Mana Golongan Kiri di Indonesia

Buat rekan-rekan Redaksi Prisma, ada sedikit pertanyaan dari saya yang berhubung dengan isi jurnal bulanan Prisma bulan Agustus 82. Menurut jurnal bulanan Prisma bulan Juli 82, pada bulan Agustus Prisma akan menurunkan topik utama dengan judul “Golongan Kiri di Indonesia”. Tetapi alangkah terkejutnya kami ketika bulan Agustus tersebut terbit Prisma dengan judul “Indonesia di Tengah Dunia”.

Perubahan judul tanpa pemberitahuan ini tentu mengejutkan kami pecinta jurnal bulanan Prisma. Kami yakin dan percaya bahwa Prisma tentu sangat berbeda dengan TEMPO. Bagaimanapun isi Prisma akan berkisar di seputar soal-soal yang lebih ilmiah sifatnya ketimbang isi TEMPO yang akan populer dan agak kurang analisanya.

Perubahan isi yang mendadak ini menimbulkan spekulasi dalam pikiran kami, mungkin Prisma kekurangan bahan, atau ada “telephon” dari penguasa negeri ini. Bila ini disebabkan telephon dari atas, kami benar-benar prihatin, sebab bagaimanapun kami yang ketika terjadi G-30-S masih kecil, ingin mengetahui apa dan bagaimana golongan kiri itu.

Semoga jawaban dari redaksi Prisma kelak akan melegakan kami, dan tidak menghilangkan kepercayaan kami pada majalah bulanan yang berbobot ini. Akhirnya selamat bekerja dan berkarya !!, Sudirman, Sekeloa Utama 222/152C, Bandung.

* Bukan karena telepon. Lebih atas pertimbangan redaksi. Red.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan