Antara Mitos dan Realitas
Konon mitos tentang superioritas dan dominasi ekonomi non-pribumi telah dipatahkan dan sasaran kambing hitam telah dipulihkan. Kemudian dianjurkan pembauran bisnis (Prisma 4/81).
Beranjak dari sana tapi dengan tema yang bergeser sedikit maka catatan kecil ini mencoba memaparkan secuil pengamatan dan barangkali sekedar pengamatan pribadi yang perlu kajian ulang atau mengundang kajian bersama untuk menjelaskan duduk soalnya secara jernih dan tidak berpihak serta bebas dari prasangka rasial. Masih sederet mitos yang belum tumbang, mengundang pertanyaan, menyandang kecurigaan serta menyimpan keprihatinan yang pada gilirannya bergulir ke keresahan, kerawanan dan kekerasan, antara lain sikap mendua di kalangan non-pri yang masih berkiblat secara mental ke negeri leluhurnya di satu pihak dan di pihak lain masih bergaul secara sentral dengan sesamanya. Dalam hal cinta dan perkawinan masih tertutup kaum wanita mereka yang membaur dengan pri, kalaupun ada masih sedikit sekali dibanding dengan wanita pri yang masuk ke lingkungan mereka.
Begitupun dalam bermasyarakat, mereka belum melebur secara kental dengan sesama warga yang pri karena tidak atau belum berpartisipasi secara fisik dalam jaga malam dan kerjabakti. Paling-paling mengandalkan partisipasi finansial dan merasa cukup dengan setidaknya mengirimkan wakil yang notabene pri yang kebetulan bekerja untuk mereka.
Yang lainnya adalah kecenderungan untuk beranak banyak karena merasa mampu secara ekonomis dan hal ini memperlebar jarak sosial dengan lingkungan sekitar yang menilai itu sebagai tidak menunjang “pertumbuhan penduduk terkendali” alias KB. Inilah beberapa hal yang disodorkan untuk disimak, yang lebih merupakan penguakan daripada pengakuan tentang itu, yang lebih merupakan pertanyaan daripada pernyataan setuju. HARRY J. TAMPI Jl. IKIP no 24 Manado
Dikotomi Ras?
Perkenankanlah saya mengungkapkan perasaan saya yang kurang sreg, membaca judul Prisma edisi April: “Ekonomi Pribumi mencari paket politik.”
Saya merasa kurang sreg sebab sebagai muslim kita tidak boleh membuat dikotomi berdasarkan ras. Kita harus mengangkat yang lemah, yang miskin, yang bodoh, tanpa mengingat warna kulit, agama atau keturunan. Kita harus memakai kriteria taqwa, atau karakter/sifat mental manusia. Tidak peduli betapa kedudukan, kekayaan ras maupun agamanya.
Karena Prisma bergerak dari dikotomi di atas, maka saya melihat sedikit kejanggalan. Misalnya dalam membaca apologi Christianto Wibisono yang dengan berapi-api menulis tentang runtuhnya mitos dominasi non-pribumi. Disusul pandangan yang bertolak-belakang oleh T. Mulya Lubis (Buku). Sudah diakui karangan tersebut “emosional” menurut pengarangnya sendiri (hal. 41). Dan keduanya memakai bahasa yang kadang-kadang sudah “keluar jalur ilmiah” atau bernada polemis. Saya heran, biasanya Prisma menganut garis tegas, pendiriannya, identitasnya. Dengan menampung dua pandangan yang berlawanan ini, bagaimana pandangan Prisma sendiri?
Mengenai karangan Bapak Kaptin Adisumarta, saya kira semua pembaca setuju atas isinya yang berupa garis-besar gambaran umum “mengubah manusia Indonesia menjadi manusia pengusaha”. Tetapi tanpa kelengkapan fakta dan data, tanpa catatan kaki sama-sekali, dan kurangnya faktor-faktor alternatif, karangan tersebut saya anggap di bawah kadar yang biasa beliau tulis di Kompas.
Mungkin Prisma nomor ini sangat laris. Tetapi ada bahaya, supaya populer identitas sedikit dilehkan. Mudah-mudahan bahaya yang saya sinyalir itu tidak menjadi kenyataan. IMAM MUSA PROJOSISWOYO Otista II Rt. 003/09 n. 7 Bidara Cina Jatinegara Jakarta Timur.
Sistem Peladangan dan Jenis Tanah
Studi kasus ihwal sistem peladangan Suku Kantu’ di Kalimantan yang ditulis Michael R. Dove (Prisma no. 4, April 1981), memang cukup menarik. Hal itu terutama bila dikaitkan dengan program transmigrasi yang kini tengah kita galakkan. Studi tersebut dapat dipakai tolok ukur dalam penentuan kebijakan pembukaan kawasan pemukiman baru transmigran.
Ada suatu hal yang luput (barangkali sengaja tidak dimasukkan ke dalam tulisan?), yang sebetulnya sangat menentukan corak bertani penduduk yang berdiam di sekitar hutan tropik pada umumnya, yakni jenis tanah.
Piere Gourou (1961) menyimpulkan bahwa tanah di daerah tropik rata-rata bersifat masam dan kekurangan fosfor. Kemudian Spencer menyatakan tanah di daerah tropik sering mengalami proses podsolisasi. Podsolisasi tersebut menyebabkan hanyutnya senyawa garam-garam besi dan aluminium dari lapisan atas (tanah atas). Akhirnya yang tertinggal adalah bahan sedimen silikat (lempung dan pasir lebih dominan). Tanah yang mengalami proses podsolisasi disebut podsolik. Tersebar luas di daerah tropik dengan ketinggian 0 — 2.000 m dan curah hujan 2.500 — 3.500 mm.
Menurut hasil survai yang pernah kami lakukan di daerah Kalimantan Tengah (1981), bahwa memang tanah di sana sebagian besar termasuk podsolik. Adalah wajar dalam kondisi tanah demikian, maka kegiatan pertanian lebih mengandalkan lapisan humus, sebagai hasil pelapukan daun-daun. Jadi, sistem peladangan “tebang-bakar”, agaknya akan terus dipertahankan selama daerah tersebut belum disentuh mekanisasi dan intensivikasi pertanian.
Memang, secara sadar, kita tidak berkeinginan sistem peladangan “tebang-bakar” dipertahankan. Bukankah itu menunjukkan bahwa peradaban kita masih rendah? JUNIARSO RIDWAN Jl. Jurang 587/181 Bandung.