Masih Banyak Kemungkinan buat Subchan dan Arief
Saya sependapat dengan saudara Arief Mudatsir, penulis tokoh Subchan Z.E. yang dimuat di majalah Prisma No. 10 bulan Oktober 1983, terutama pada bagian akhir, yang bagai orang kebingungan mencoba mengandai-andai, yakni bagaimana andaikata Subchan masih hidup… belum meninggalkan kita. Mungkin dia masih akan banyak berbuat. Tetapi, Tuhan lebih tahu mengapa harus memanggil Subchan.
Saya ingin memberikan catatan kecil dalam tulisan ini, baik terhadap penulis, maupun untuk menanggapi pendapat Subchan yang mungkin agak keliru. Ini mengenai bantuan luar negeri, yang oleh Subchan, menurut penulis, sulit untuk memperoleh bantuan sebesar 325 juta dollar dalam memenuhi anggaran tahun 1968/1969, adalah karena negara-negara investor kurang merasa aman bila negara bersangkutan belum bersih benar dari korupsi dan vested. Mungkin ini salah satu beberapa kemungkinan yang anda sebut, bahwa Subchan juga terpeleset dalam membaca situasi ekonomi dan politik di Indonesia masa datang, karena ternyata bantuan luar negeri tetap mengalir dan bertambah besar, kendati korupsi meledak, dan terjadi di hampir semua sektor kehidupan. Bahkan ada suara yang mengatakan, bahwa kebocoran sudah begitu membengkak, hampir mendekati 40 persen, atau mungkin juga lebih, dari anggaran. Terutama, setelah bung Subchan meninggal, korupsi dalam jumlah besar makin banyak yang terbongkar. tidak, ini salah satu kemungkinan yang mungkin belum terlihat oleh Subchan ketika mengeluarkan pendapatnya.
Kini korupsi bukan lagi milik orang-orang yang duduk di bangku pemerintahan. Korupsi juga datang dari pihak swasta. Ini mungkin juga karena terlalu panjangnya birokrasi di negara kita, sehingga pihak swasta ikut-ikutan pula menggelapkan sebagian dari pajak dan sebagainya. Di sini masih satu mungkin, yakni, mungkin korupsi akan bisa diatasi apabila prosedur pembayaran pajak tidak bertele-tele.
Salah satu “mungkin” yang juga buat saya perlu diperhatikan oleh bung Arief adalah, bahwa tulisan anda akan lebih menarik lagi andaikata dapat dilengkapi lagi misalnya, bagaimana sih ke-play boy-an bung Subchan karena di awal tulisan anda disebutkan, bahwa Subchan sebagai santri sekuler adalah orang yang mendapat julukan play boy. no, mungkin tulisan anda akan lebih menarik lagi, kalau misalnya urusan ini anda gambarkan dalam beberapa baris, atau satu dua alinea, apalagi mengingat bung Subchan almarhum belum lagi menikah…. . Adityakelana, Sumedang