Prisma

Kritik dan Komentar

Buat Ms Baron dan M. Farid

Saya tidak tahu apakah saya dianggap menulis artikel lengkap ataukah saudara Baron dan Farid memang membutuhkan definisi dan pembatasan istilah untuk membaca komentar, bukan kritik (alinea 8 “Soal Ivan Illich”, “Kritik dan Komentar,” Prisma 8/81. Tulisan itu saya bagi menjadi 16 alinea untuk mempermudah, termasuk 3 alinea kutipan. Menulis untuk majalah ini tentunya disertai asumsi bahwa pembacanya menguasai peristilahan umum. Hanya saja, kelemahan tulisan kecil semacam itu adalah sangat mudah menimbulkan interpretasi yang luas.

Saya rasa yang harus ditangkap dari tulisan itu adalah “jiwanya” (lihat alinea terakhir tulisan ini) dan bukannya menyimpulkan adanya struktur baru (alinea 3 tulisan Saudara-saudara) dan menyatakan adanya distorsi (alinea 2 dan 3 tulisan itu), yang dikatakan hanya didasarkan pada satu aspek, kemudian dikembangkan sendiri. Begitu membaca alinea 2 baris 6 tulisan itu, saya yakin prasangka telah mendahului pendapat Saudara setelah membaca nama dan alamat saya, dan ini membuat penarikan kesimpulan terlalu tergesa-gesa.

Misalnya, dianggap bahwa mental saya simpulkan sebagai sebab. Kalau kita teliti sebab atau akibat adalah tergantung dari mana kita melihatnya dalam rangkaian proses. Begini, belajar, merasa pintar, sombong, menyendiri, saya kecam (apakah perlu dijelaskan dulu definisi belajar, merasa pintar, sombong dan menyendiri?). Sombong merupakan akibat dari merasa pintar, tetapi menjadi sebab dari menyendiri. Ini tidak akan terjadi kalau ada mental kuat. Redaksi memberi judul tepat “Mental: Soal Utama” untuk tulisan itu. Mohon diperhatikan bahwa judul itu bukan “Mental: Sebab Utama” seperti penafsiran Saudara-saudara. Mengapa menyendiri? Karena sekolah dipandang “memberi justifikasi atas pengkastaan masyarakat”, lewat sertifikat yang diberikan pada kasta yang tidak bisa dijangkau kebanyakan orang (diantara tanda petik adalah alinea 13 tulisan itu). Mengapa menyendiri? Karena mentalnya kerdil! Karena perlu meresmikan kasta feodal elite baru! Apakah ini tidak menggiurkan masyarakat kita, yang masih menyukai kulit—dan bukannya esensi—moderenisasi? Lantas ijazah dikejar jatuh bangun, ijazah palsu pun, yang dapat melegalisir keanggotaan pada kasta ini. Kebanggaan palsu yang tetap disukai!

Inilah mental kerdil itu. Menyendiri dalam kotak kaca (sungguh, alangkah keringnya dunia hiruk-pikuk ini tanpa kegenitan kata, yang sering akan memperjelas maksud) dan memandang kelompok di luarnya lebih rendah. Apakah ini bukan eksklusivisme yang harus dihilangkan, sebab kita lebih menyukai keterbukaan (Catatan: “kita” adalah manusia-manusia yang jujur terhadap hati nuraninya)? Kesombongan semacam inilah yang tidak pernah menyebabkan tuntasnya implementasi ilmu. Adalah tahyul moderen kalau ijazah merupakan jaminan segala-galanya, terutama terhadap status. Nonsens besar semacam ini tak pernah saya pegang dalam jabatan sebagai penyeleksi sekian banyak pencari pekerjaan, sebab, saya selalu percaya bahwa karya tidak ditentukan hanya oleh secarik kertas.

Apakah mengatasinya cukup dengan kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian sosial? Tentu saja tidak. Saya masih membuka kemungkinan lain dengan memilih kata “mungkin” dalam tulisan saya itu. Menghayati KKN, dan bukannya piknik 3 bulan di desa, akan membuat seseorang berpikir—selama ia masih mampu menangkap getaran sekelilingnya—bahwa ilmu yang dikuasainya hanyalah salah satu dari sekian banyak tiang penyangga kehidupan. Ini seharusnya menghilangkan kekerdilan mental yang saya sebut. Jadi spesialisasi sempit, misalnya mengagungkan ilmunya dan almamaternya sendiri dalam eksklusivisme pula, tidak pernah menduduki tempat teratas dalam daftar preferensi saya. Apalagi untuk sudi berjalan di atasnya.

Illich memang hanya merupakan pembuka saja di awal tulisan saya itu, bukan untuk mengupas atau membicarakannya.

Saya beberapa kali menulis tentang hasil pendidikan, tentang dosen, pendidikan dan lapangan kerja. Pengulangan ide? Memang. Bukankah ide berkembang dan mengkristal akibat pengalaman? WIDYARTO ADI Ps Staf Personalia PT Gramedia PO BOX 615/DAK, Jakarta

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan