Prisma

Kritik dan Komentar

Kyai Hasyim Asy’ari, Antara Tradisional dan Modern

Setiap tulisan Dr. Zamakhsyari Dhofier muncul di majalah ini, saya selalu mengikuti secara saksama. Terus terang saya banyak dapat informasi baru dan wawasan yang luas dari tulisan-tulisannya, terutama pandangannya tentang Islam tradisional. Kupasan yang begitu mendetail juga ditunjang oleh: 1. Latar belakang hidup beliau yang tidak dapat dipisahkan dari pesantren (basis pendidikan Islam tradisional); 2. Tesis yang diajukannya untuk mencapai gelar Doktor dalam bidang antropologi, memang membahas tradisi pesantren dan pandangan hidup kyai-kyai tradisional. Jadi jelas penulisnya betul-betul ahli dalam bidang ini. Hal inilah barangkali yang menyebabkan tulisan-tulisannya reaktif dan apologis terhadap pandangan kaum yang menyatakan diri sebagai Islam modernis tentang Islam tradisional. Tetapi yang jelas sebagai seorang ilmuwan, penulisnya dituntut untuk jujur dan bukan apologi.

Tulisan Zamakhsyari Dhofier tentang tokoh Kyai Hasyim Asy’ari dalam Prisma No. 1/1984, terasa kering dari informasi baru. Walaupun mencoba menuangkan pandangan secara luas sampai pada tahap-tahap perubahan sosial, kultural, dan politik yang pernah dilewati oleh Kyai Hasyim Asy’ari. Pokok-pokok pikiran itu jika kita kaji merupakan pemindahan dari tulisan Zamakhsyari sendiri, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1980).

Pada pokoknya saya sependapat dengan Pak Zamakhsyari Dhofier, bahwa kyai Hasyim mempunyai pengaruh yang begitu besar di kalangan Islam tradisional (baca: NU). Tetapi pengaruh itu tidak hanya terbatas di kalangan Islam tradisional saja, melainkan sampai menembus pada kalangan Islam modernis. Sepanjang yang saya ketahui, dalam masalah madzhab, beliau sangat moderat. Hal ini dapat saya ketahui dari teks pidato beliau pada salah satu muktamar NU yang menyerukan pada segenap ulama-ulama NU untuk melepaskan diri dari kefanatikan mereka untuk berpegang teguh pada madzhab (baca: taqlid). Pendapat yang dikutip oleh Pak Dhofier dari Qonun asasi Nahdlatul Ulama, yang menyatakan bahwa menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama madzahib, hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, itu menurut saya bukan pendapat Kyai Hasyim pribadi, tetapi pendapat ulama NU secara keseluruhan. Karakteristik ulama-ulama NU—yang bersikeras untuk memegang teguh ajaran madzhab dan tidak mungkin lagi pada masa kini ada orang yang memenuhi syarat untuk dapat menjadi mujtahid mutlak—bukanlah pengaruh dari pikiran Kyai Hasyim Asy’ari, tetapi dari pikiran Kyai Abd. Wahab Hasbullah atau Kyai Sirajuddin Abbas (tokoh PERTI), sebuah organisasi keagamaan yang berpegang teguh pada madzhab Syafi’i. Tulisan-tulisan Kyai Sirajuddin Abbas banyak digunakan sebagai landasan berpikir oleh warga NU.

Dalam masalah Tharekat, Kyai Hasyim melarang santri-santri Tebuireng untuk mengikuti gerakan itu apa pun bentuk dan alirannya, bahkan beliau pernah berdebat dengan salah seorang mursyid Tharekat yang mengaku wali. Pandangan beliau tentang tharekat dan wali dapat dibaca dalam buku karangannya berjudul Al-Durorul Muntasiroh, yang sudah diterjemahkan dan diberi kata pengantar oleh Dr. Thalhah Mansoer SH dengan judul Taburan Mutiara Berharga (Menara Kudus, 1971). Sikap kyai Hasyim ini diikuti oleh santri-santrinya seperti Kyai As’ad Sukorejo, Kyai Abdul Karim Lirbaya dan Kyai Abu Rasyad Sampang, yang melarang para santri mereka mengikuti gerakan Tharekat.

Pikiran-pikiran Kyai Hasyim itu banyak tidak diketahui umum, mereka mengira karakteristik NU merupakan pikiran Kyai Hasyim. Padahal jika kita pelajari pikiran-pikiran beliau, amalan-amalan warga NU pada umumnya jauh dari yang dicita-citakan oleh Kyai Hasyim. Justeru itulah tidak heran, jika banyak di antara eks santri Tebuireng yang aktif dan menjadi pimpinan Muhammadiyah (Islam moderen). Dengan demikian saya beranggapan bahwa pengaruh Kyai Hasyim tidak hanya menonjol di kalangan Islam tradisional, tetapi juga di kalangan Islam moderen.

Semoga dalam waktu-waktu mendatang ada ilmuwan yang tertarik untuk meneliti dan menulis buah pikiran Kyai Hasyim tersebut secara mendalam. Atau barangkali Pak Dhofier, juga Gus Abdurrahman dapat memberi penjelasan ala kadarnya. Kata Ghazali, Mahasiswa Fak. Adab IAIN Sunan Ampel Jl. A. Yani 117 Surabaya.

Jawaban Zamakhsyari

Saya sangat menghargai komentar Sdr. dan setuju sekali dengan pikiran bahwa masih perlu pengkajian lebih lanjut buah pikiran Kyai Hasyim dalam karya-karya beliau yang sebetulnya masih banyak belum diterbitkan. Tentang pengaruh beliau di kalangan kaum modernis sudah tentu cukup besar dan beliau sebenarnya juga menghendaki penyegaran pikiran seluruh kaum muslimin Indonesia, termasuk mereka yang terpaku oleh praktek-praktek tarekat yang keliru.

Yang beliau maksudkan bermadzhab, memang sebenarnya tidak dalam bentuknya yang jumud, tetapi mempelajari pikiran para ulama masa lalu dan berusaha memahami bagaimana penafsiran yang benar. Sebab tanpa referensi dari mereka (tidak berarti terbelenggu) penafsir masa kini akan terlalu dipengaruhi kondisi subyektif. Mudah-mudahan anda mafhum yang saya maksudkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan