Prisma

Kritik dan Komentar

Kekurangan dan Ketidakteraturan Leo dalam Kwee

Membaca tulisan Leo Suryadinata dalam Prisma No. 7. Th. 1984 tentang “Kwee Hing Tjiat: Nasionalis Tionghoa, Tokoh Asimilasi” jelaslah tampak Leo menguraikan pikirannya secara kronologis. Memang tiadalah gading yang tak retak. Walaupun penulis Tokoh ini seorang cendekiawan sejarah. Orang dapat bertanya secara bodoh, kapan tokoh itu lahir dan mati? Jawabnya tentu sudah ada pada halaman awal dan akhir.

Sang Tokoh (Kwee) pada tahun 1911 menerbitkan mingguan Asia di Surabaya, 1913 mendirikan mingguan Bok Tok juga di tempat yang sama, 1914 Bok Tok menjadi Tjhoen Tjhioe, 1915 menerbitkan Pelita di Yogyakarta, pada tahun ini pula Kwee pindah ke Jakarta dan memimpin harian Sin Po, 1923 menjadi seorang anggota redaksi Hoakiao—sebuah majalah terbitan Surabaya yang ada di Shanghai (75). Setelah tahun ini sampai tahun 1934, Kwee tidak lagi ikut campur secara aktif dalam urusan media massa. Baru pada tahun 1934 dia mendapat kepercayaan dari Oei Tjong Hauw untuk memimpin sebuah surat kabar—Mata Hari namanya yang terbit di Semarang. (78).

Kalau dari uraian itu orang tahu kapan Sin Po (yang terpenting buat saya karena umurnya paling panjang, 1915-1934 masih ada) mulai, tapi orang tak tahu kapan Sin Po gulung tikar. Melihat umurnya yang begitu panjang jelaslah harian ini paling penting peranannya dalam menyebarkan semangat Nasionalisme Tionghoa yang bahkan kedua pemimpin harian ini—setelah Kwee—sangat bertentangan dengan pendapat Kwee. (75 dan 81).

Penulis pun kurang tampak mengemukakan mengapa Kwee tidak setuju dengan THHK. Kwee memberikan cara pemecahan (76) terhadap masalah pendidikan. Katanya: THHK tidak ada yang beres, pengurusnya banyak yang tidak karena dan tidak bertanggung jawab; masyarakat Tionghoa tidak mendukung THHK; program THHK tidak sesuai dengan keadaan di Indonesia . . . hanya membuntut pada cara di Tiongkok.

Kutipan di atas saya kira ada lanjutannya. Mungkin Kwee dalam Doea Kepala Batoe-nya mengemukakan juga bagaimana program pendidikan di Tiongkok, organisasinya, manajemennya, dan sebagainya.

Melihat cara pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Kwee jelaslah, bahwa Kwee suka pada pendidikan kejuruan (76). Kwee berontak karena di THHK tidak ada itu. Meskipun alasan-alasan di atas tadi penting tapi yang terpenting adalah karena program. Rupanya Kwee ingin sekali menjadikan “Baba”—komunis. (77).

Jika saya diberi buku niscaya saya akan mencari bagaimana program pendidikan di Tiongkok yang diikuti THHK sehingga THHK tidak sesuai dengan keadaan Baba tempo dulu di negeri ini. Itulah yang saya maksud dengan kekurangan.

Sedang ketidakteraturannya terletak pada pandangan Kwee tentang penguburan THHK dan ketidaksetujuannya dengan CHS, karena menurutnya sekolah itu tidak mencerminkan semangat Nasionalisme Tionghoa. (76). Tetapi pada halaman yang sama penulis tokoh ini menulis bahwa CHS lebih cocok untuk penghidupan orang Tionghoa yang ingin tetap tinggal di Hindia (Indonesia). Jelas pandangan penulis kontradiktif. Semoga ada manfaatnya bagi penulis., Suhadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya Jl. Monginsidi 46 Surakarta

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan