Islam dan Kerapuhan Umat
Saudara Faisal Haq dalam menanggapi tulisan Dewi Fortuna Anwar (Kritik dan Komentar,” Prisma No. 8, 1984) pada intinya menekankan perlunya eksplisitas ideologi Islam sebagai fondasi tegaknya kekuatan umat Islam, yang dalam hal ini menunjuk Masyumi di masa lampau. Saya setuju bahwa memang ideologi Islam yang dijadikan acuan oleh Masyumi saat itu belum jelas dan sistematis. Namun yang menonjol sekali, perpecahan umat di Masyumi tidak hanya terletak pada ideologi an sich, bahkan lebih jauh lagi, umat Islam telah dilahirkan di atas situasi struktur budaya yang beraneka. Keragaman budaya, pengalaman sejarah, dan tingkat pendidikan, telah menyeret umat Islam kepada adaptasi dan penetrasi doktrin teologis yang berbeda. Hal ini pula yang kemudian mengkristal dalam kelompok-kelompok yang saling berbeda dalam memahami relevansi Islam dengan kehidupan sosial-politik dan budaya.
Penekanan yang berlebihan terhadap doktrin hukum Fiqh telah membawa umat Islam Indonesia pada situasi yang kurang menguntungkan dalam segi politik. NU dan Muhammadiyah sebagai contoh, dua figur organisasi Islam yang selalu konflik, terutama di daerah-daerah. Keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1950-an, saya kira tidak terletak pada ideologi yang belum jelas, melainkan mengakar pada perbedaan mereka tentang Fiqh. Sebenarnya hal itu terlalu kecil untuk dijadikan alasan, sehingga pada saat Masyumi dibubarkan pemerintah pada tahun 1960 tidak ada satu pun organisasi Islam yang merasa terpanggil untuk menyatakan solidaritasnya. Mitos keberhasilan Masyumi merupakan kenangan historis, yang di dalamnya penuh dengan kerapuhan umat.
Komunalisme Islam yang fragmentaris di Indonesia memberikan kesan yang berbeda terhadap kehidupan politik. Ada yang bersifat responsif, akomodatif, bahkan apatisme. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya untuk dicatat, bahwa ketidakberhasilan umat Islam dalam menggalang persatuan umat dewasa ini, tidak hanya bertumpu pada perbedaan persepsi belaka, melainkan lebih berpangkal pada hilangnya kesempatan dan porsi yang memadai untuk memobilisasikan kekuatan politik secara layak. Itulah yang tergambar dalam pikiran saya. Ramlan Ruvendi, Masjid Al Hijriah Universitas Ibnu Khaldun Jl. R.E. Martadinata 2 Bogor.