Prisma

Kritik dan Komentar

Wahid Hasyim: Dimana Bakat Kepemimpinan dan Pendiriannya

Tulisan Dr. Zamakhsyari Dhofier dalam rubrik “Tokoh” Prisma No. 8 Th.1984 yang berjudul “K.H.A. Wahid Hasyim, Rantai Penghubung Peradaban Pesantren dengan Peradaban Indonesia Moderen,” cukup menarik perhatian saya. Mengikuti tulisan Dhofier, saya dapat melihat karir Wahid Hasyim yang menanjak dengan cepat, dari Penulis NU di Cukir, kemudian menjadi Ketua Cabang NU, dan akhirnya menjadi anggota PB NU. Semuanya diraih dalam waktu hanya dua tahun. Terhadap keberhasilan ini Dhofier berpendapat: “Topangan kemasyhuran orangtuanya tentu memberikan andil besar atas sukses tersebut. Namun bakat kepemimpinannya jauh lebih besar” (hal. 74).

Di sini saya berpendapat justeru sebaliknya. Topangan ayahnya lebih menentukan, jika dibandingkan dengan kepemimpinannya. Untuk memperkuat pendapat itu, misalnya, diutusnya Wahid Hasyim untuk mewakili ayahnya memimpin kantor urusan agama yang didirikan Jepang (hal. 74). Mirip sebuah takhta yang diwariskan kepada anaknya, bukankah peran ayahnya sangat besar dan menentukan, seperti Rajiv menggantikan ibunya, Indira Gandhi, karena diberi peluang cukup besar.

Dalam BPUPKI, Wahid Hasyim mengajukan dua usul. Pertama, agar presiden dan wakilnya harus beragama Islam. Kedua, agama negara adalah agama Islam… dan seterusnya (hal. 76). Kedua usul itu tak diterima alias kandas. Walau akhirnya terjadi dua versi, kalau dilihat dari tidak adanya reaksi dari Wahid Hasyim dapat diartikan bahwa beliau menyetujui. Dan diangkatnya beliau menjadi menteri agama dalam Kabinet Hatta menunjukkan sebelumnya ada bargaining antara kedua tokoh itu. Dari sudut ini saya sependapat dengan versi Hatta.

Kasus menarik lagi, adalah keluarnya NU dari Masyumi. Wahid Hasyim mengecam Masyumi karena terlalu tenggelam dalam permainan politik (hal. 80) yang menyebabkan keluarnya NU dari Masyumi, dan beliau menjadi NU sebagai partai politik yang terpisah dari Masyumi. Akibat keasyikannya berpolitik, justeru NU yang melupakan sektor-sektor yang seharusnya digarap. Di sini Wahid Hasyim dan NU termakan oleh kata-katanya sendiri.

Dengan melihat kasus-kasus ini, saya menjadi bertanya di mana kemantapan pendirian beliau, sejak kandasnya dua usul beliau di BPUPKI, juga kecaman yang dilancarkan terhadap Masyumi karena terlalu banyak terlibat dalam politik, karena ternyata beliau sendiri menjadikan NU sebagai partai politik. Sampai di sini saya menyimpulkan, beliau tak teguh dalam pendirian.

RAZIKU AMIEN Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Guru Kami Kalang Kabut

Saya baru tiga tahun terakhir ini membaca majalah Prisma. Setiap kali selesai membaca, saya lantas merasa menjadi manusia yang paling terkebelakang dalam hal membaca dan mengetahui apa yang terjadi di sekitar saya. Prisma dengan tulisan-tulisan yang merangsang keingintahuan dan pemikiran ini membuat saya merasa rugi apabila tidak membaca setiap kali terbit. Saya pikir hal yang sama pasti dirasakan oleh masyarakat politik, budaya dan ekonomi. Menurut saya, Prisma memang majalah yang tepat bagi lulusan SLTA ke atas, karena menyajikan artikel-artikel untuk studi. Bagi saya sendiri, Prisma menjadi buku pegangan kedua setelah buku pelajaran sekolah. Boleh dikatakan, Prisma melengkapi pelajaran-pelajaran di Sekolah Menengah Atas jurusan IPS, bahkan menjadi penunjang utama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pelik di sekolah.

Setelah membaca Prisma, saya sering membuat guru kelabakan dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Ini dari hasil membaca Prisma. Setelah membaca saya memang menjadi aktif berdiskusi, dan menambah cakrawala pemikiran. Juga secara tidak langsung membimbing saya, bagaimana memubat paper dan tulisan ilmiah populer.

Menurut saya, kalau saja guru juga membaca Prisma dan menganjurkan murid untuk ikut membacanya, saya yakin, murid-murid pasti akan lebih haus lagi dengan informasi yang tidak basi. Tentu saja dalam bidang ilmu tertentu, disamping Pak Guru sendiri tak akan kelabakan menghadapi murid yang “nakal” seperti saya. Andi M. Kelas III IPS 2 SMA PGRI I Jl. Panglima Sudirman 26 Bojonegoro Jawa Timur

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan