Prisma

Kritik dan Komentar

Manusia Berkualitas, Manusia Pancasila

Setelah membaca makalah-makalah mengenai “Kualitas Manusia” dalam majalah Prisma No. 9 Th. 1984, saya berkesimpulan bahwa para penulis berharap lahirnya manusia Indonesia yang memiliki kualitas, agar dalam Pelita VI, bangsa Indonesia dapat tinggal landas dalam pembangunan nasionalnya. Hanya saya sayangkan para penulis tidak meletakkan cara pembahasannya pada pola pikir yang terdapat pada TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 dan TAP MPR No. II/MPR/1983 tentang GBHN.

Pembangunan nasional kita berlandaskan pada pandangan hidup Pancasila. Ini berarti berhasil atau tidaknya pembangunan nasional tergantung pada kualitas manusianya dalam mengamalkan Pancasila disetiap perilaku dan tindakannya. Manusia Indonesia yang tidak hanya memahami baiknya pandangan hidup Pancasila, tetapi juga memahami akan kebaikan pada dirinya sendiri sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, akan secara bersemangat mengamalkan pandangan hidup Pancasila. Sementara manusia Indonesia belum mencapai kualitas tinggi untuk tinggal landas, berbagai upaya diprogramkan dalam Pelita yang meliputi berbagai bidang, terutama bidang agama, sosial dan budaya.

Melalui pembangunan bidang agama, sosial dan budaya ini diharapkan lahir manusia Indonesia berkualitas tinggi. Sedangkan pada ekonomi dan Polkam, pembangunan sangat tergantung pada terwujud atau tidaknya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, yang disebut manusia Pancasila sejati, atau manusia yang mengamalkan Pancasila secara utuh.

Sebaiknya para penulis “Kualitas Manusia” melakukan pembahasan tentang manusia Pancasila sejati, misalnya apa ciri-cirinya, bagaimana mempersiapkannya dalam Pelita IV dan V dan mulai berapa umur manusia tersebut dipersiapkan.

Dalam hal ini instansi BP7 sangat berperan dalam pembahasan-pembahasan untuk melahirkan Manusia Pancasila sejati yang menentukan kualitas manusia. Apabila karena tanggapan ini dibutuhkan penjabaran lebih lanjut tentang manusia Pancasila, dengan kerendahan hati saya sebagai Penatar BP7 DKI Jakarta akan membantu memberikan masukan yang diperlukan. Ir. Tranggono,  Jl. Wijaya XVI/21. Kebayoran Baru Jakarta Selatan

Dimensi Sosial Islam

Prisma nomor ekstra “Arah Baru Islam: Suara Angkatan Muda: benar-benar menarik. Sejumlah cendekiawan muda muslim menyoroti Islam dalam dimensi sosial politik. Kesadaran baru di kalangan kaum muda muslim? Tampaknya memang begitu.

Selama ini kita banyak menyaksikan pembahasan Islam yang menitikberatkan studi ilmu Kalam dan Fiqh, tapi jarang menyoroti dimensi sosial Islam. Pembahasan yang disajikan Prisma — tanpa meremehkan kedua ilmu di atas — merupakan angin segar bagi umat Islam Indonesia untuk berusaha menyadari betapa penting dimensi sosial Islam di mana sekarang ilmu sosial berkembang pesat.

Kita semua, kaum muslimin, menyadari ajaran keseimbangan berbagai aspek Islam. Menitikberatkan salah satu studi Islam dengan menutup mata terhadap studi lain membuat kita berpandangan sempit. Perhatian cendekiawan muda muslim terhadap dimensi sosial Islam patut disambut gembira, karena dengan meningkatnya kegiatan intelektual muslim yang penuh semangat itu, dimensi sosial Islam pun perlu mendapat perhatian tanpa melupakan nama Ibnu Khaldun.

Prisma mungkin dapat disebut pelopor dalam memulai perluasan pemikiran cendekiawan muda muslim untuk memahami masalah-masalah sosial umat Islam Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya.

Prisma telah banyak mendorong saya dalam mempelajari Islam. Analisa yang tajam, kritis, obyektif dan tidak terkurung dalam dogmatis, membantu saya menambah pengertian berbagai pemikiran yang berbeda. Di tengah pergulatan Islam dengan isme-isme lain semoga cendekiawan muda muslim mau memerangi kemalasan intelektual yang membelenggu mereka. Harnang Widodo Siswa III IPS1 SMA Negeri 10 Jl. Jemur Wonosari Surabaya

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan