Prisma

Kritik dan Komentar

Kristen, Iran dan Islam di Indonesia

Setelah membaca tulisan M. Amien Rais (Prisma No. Ekstra, 1984) saya ingin menyumbangkan gagasan balik yang mungkin ada sedikit manfaat untuk suatu forum yang terbuka seperti majalah ini.

Tentang Agama Kristen Mungkin bagi suatu kepentingan lain adalah tanpa masalah untuk memberi arti bagi agama itu dengan sekedar mencomot satu ayat dari kitab suci dan terus dianggap itu sebagai yang pokok (dalam hal ini ayat tentang “kaisar” dan “Allah”). Tetapi jika dicamkan bahwa tanpa saya harus mengingatkan pergulatan pokok pada teori acak dalam statistika tradisional, agaknya dengan mudah orang melihat di mana Amien Rais salah langkah dalam logika. Apalagi kalau orang menilik barang sekejap saja sistem dogmatik Kristen dalam jalur disiplin exegese, maka kesimpulan operasional penulis itu teramat jauh dari yang tertera.

Sedangkan tentang agama Kristen dalam waktu dan ruang yang menurut penulis itu adalah perwujudan langsung dari konsepnya yang dicomot begitu saja itu, saya kira setiap mahasiswa sospol paling tidak pernah kenal dengan nama Max Weber dengan Etik Protestan atau Emile Durkheim dengan Bunuh Diri. Dua buku klasik ini, satu dalam bahasa Jerman dan satunya dalam bahasa Perancis, ditulis oleh dua orang perintis dalam sosiologi moderen yang berbicara tentang “nilai” dan karena berkenaan dengan Eropa, lalu tentang agama Kristen. Paling tidak, kalau penulis itu pernah mendapat kuliah pengantar sosiologi, saya yakin bahwa semangatnya untuk menyederhanakan gejala agama Kristen itu akan surut. Akan halnya agama Budha, mungkin pembaca pernah dengar nama Niels Mulder yang membuat analisa dalam tradisi antropologi sosial Cicourel tentang agama itu di Muangthai dalam perbandingannya dengan Jawa, atau bahkan orang bisa ingat soal agama itu yang masuk Cina dan Jepang, dan melihat yang terpampang sekarang. Mungkin skema Amien Rais akan tampak mengapa demikian.

Tentang Iran Saya tidak punya pengetahuan memadai tentang Iran; tapi jika saya omong-omong dengan segala rupa orang Iran di sini, baik “yang Shah”, “yang Khomeini” maupun “yang Mujahidin Kalq atau Bani Sadr” dan terlebih jika disimak pemikiran Ali Shariati yang dikembangkan dari sebuah sekolah di Paris, dan guru dia terutama Jacques Berque dari Ecole Des Hautes Etudes en Science Sociale (EHESS), maka revolusi Iran itu jauh lebih bernuansa dan penuh hal yang terduga. Tapi paling tidak, menganggap tokoh seperti Shariati bersama tradisi politik Bazargan dari gerakan pembebasan Iran bersama ulama Taleghani sebagai satu wadah dengan Rafsanjani dan Montazeri (yang pertama itu oleh orang Iran disebut rushanfekran dan kedua disebut fayzieh) menurut hemat saya adalah terlalu menyederhanakan proses sosial yang jauh lebih pelik di Iran. Agama Islam Syi’ah itu tidak hadir hanya berkat power-relation. Dan pembacaan pemikiran Shariati akan menegaskan hal itu, terutama jika diingat bahwa inspirasi metodologis Shariati adalah sekolah Perancis, begitu juga kelompok rushanfekran yang lain yang sekarang banyak berkumpul di Paris.

Tentang Islam di Indonesia Setelah tulisan-tulisan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, M. Dawam Rahardjo dan lain-lain dalam Prisma nomor Ekstra/1984 itu, dan Amien Rais menyandarkan telaah tentang Islam dari orang Belanda jenis Ernst Utrecht (dan jenis apa paham pak Utrecht ini?), bersama “ahli” lain tentang Indonesia, maka tak mengejutkan kalau gejala Islam serta-merta terbingkai dalam sebuah analisa materialis-tanpa-sadar yang tak lain adalah kerangka acuan “struktur bawah dan atas” dari marxisme yang paling ortodoks!

Kalau saja Amien Rais tidak terburu-buru dengan kesimpulannya dan ingin tetap dalam jalur analisa marxis, maka dalam lingkungan anglo-saxon sebaiknya dicatat nama Skocpol, sedangkan untuk Eropa kontinental Sekolah Frankfurt dan kelompok Ecole Normale Superieure; maka akan dapat ditemukan di mana marxis ortodoks itu berdiri!

Hal Akhir Dari ketiga catatan tadi, saya sama sekali tak bermaksud untuk menyentuh ‘isi’ wawasan Amien Rais yang dipaparkan dalam tulisan itu. Saya hanya mau mengingatkan soal; 1) dasar statistika inferens yang disebut teori acak, 2) disiplin pemikiran rushanfekran yang ditimba dan dikembangkan dari tradisi ilmu sosial Perancis, 3) aneka ragam telaah marxis, yang eksplisit atau tidak.

Dengan kata lain, begitu agama diterima sebagai gejala dalam tata pergaulan masyarakat, sebagai gejala kemasyarakatan, maka untuk menghindarkan segala rupa kerancuan, sebaiknya kesiagaan metodologis lebih tajam disiapkan; karena hanya atas dasar demikian sebuah dialog yang cerdas dimungkinkan.

Akan tetapi, bahwa telaah seperti dilakukan dalam Prisma kali ini (sejauh saya tidak salah) memang baru pertama kali ini dilakukan, maka “langkah keseleo” seperti terdapat dalam tulisan Amien Rais, sebenarnya adalah hal yang biasa saja. Karena wawasan “Islam Indonesia” seperti diungkapkan oleh penulis-penulis lain memang banyak memberikan keterangan yang amat berharga, dan karena itu dialog dapat terus dilakukan. Emmanuel Subangun 104, av Pierre Brossolette 92240 Malakoff Prancis


Mengapa Tak Kondisi Negara Debitur

Secara garis besar, tulisan Dr. Tawang Alun dalam Prisma No. 1/1985 cukup menarik, walau terasa terlalu singkat sehingga hal yang penting terlewatkan. Dalam tulisan berjudul “Hutang Dunia Ketiga: Prospek dan Masalahnya”, disimpulkan bahwa penafsiran terhadap berbagai indikator hutang negara Dunia Ketiga harus dilakukan secara berhati-hati, sebab penilaian yang berbeda dapat menghasilkan pengertian yang tidak saling mendukung. Kesimpulan ini antara lain diperkuat oleh penemuan koefisien korelasi dari berbagai indikator yang pada umumnya kurang dari 0,5. Kesimpulan ini cukup tepat, mengingat kondisi antara negara debitur sangat berbeda. Tetapi mengapa justeru hal ini yang tidak dibahas?

Suatu tinjauan yang bersifat perspektif akan lebih baik kalau didasarkan pada sesuatu yang berkedudukan pendukung. Dalam kaitan dengan hutang berikut potensi pelunasannya, tinjauan terhadap struktur ekonomi — khususnya ekspor negara yang bersangkutan — patut diutamakan. Hal ini tidak tampak dalam tulisan itu, sehingga bisa menimbulkan kesan bahwa Indonesia akan lebih selamat ketimbang Malaysia mengingat rasio hutang terhadap GNP yang lebih kecil (Indonesia 21,1 persen, Malaysia 31 persen). Kesan ini tentu salah, mengingat struktur ekspor Malaysia lebih sehat ketimbang Indonesia. Ekspor Indonesia selama beberapa tahun terakhir (dan selanjutnya) masih didominasi minyak dan gas bumi, sedangkan struktur ekspor Malaysia jauh lebih fleksibel sehingga Malaysia memiliki andalan sumber devisa yang lebih stabil dan dengan banyak pilihan. Kondisi ini tidak ada pada ekspor Indonesia, sehingga ketika harga minyak bumi mulai lesu beberapa tahun yang lalu sampai sekarang, berbagai proyek terpaksa dijadwalkan kembali.

Singkatnya, peninjauan terhadap struktur ekspor negara Dunia Ketiga akan lebih dapat memberikan gambaran tentang potensi meminjam maupun pelunasan hutang, dan penyajian berbagai rasio untuk memperkuat analisa. Johane Willivart Saragih (Mahasiswa FE—UI) Cijantung RT 007/07 No. 19 Jakarta Timur

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan