Prisma

Kritik dan Komentar

Hilangkan Kerancuan dengan Kesiagaan Metodologis

Membaca tulisan M. Amien Rais (Prisma Ekstra/84) maka saya ingin menyumbangkan gagasan yang mungkin ada manfaat untuk suatu forum yang terbuka seperti majalah ini.

Tentang Agama Kristen

Mungkin bagi suatu kepentingan lain adalah tanpa masalah untuk memberi arti bagi agama itu dengan sekedar menyomot satu ayat dari Kitab Suci lalu dianggap sebagai yang pokok (Dalam hal ini ayat tentang “kaisar” dan “Allah”). Tetapi jika dicamkan bahwa (tanpa saya harus mengingatkan pergulatan pokok pada teori acak dalam statistika tradisional) agaknya dengan mudah orang melihat di mana Amien Rais salah langkah dalam logika. Apalagi kalau menilik sistem dogmatik Kristen dalam jalur disiplin exegese, maka kesimpulan operasional penulis itu teramat jauh dari yang tertera.

Sedangkan tentang agama Kristen dalam waktu dan ruang yang menurut penulis itu adalah perwujudan langsung dari konsepnya yang dicomot begitu saja itu, saya kira setiap mahasiswa sospol paling tidak pernah dengar nama Max Weber dengan Etik Protestan atau Emile Durkheim dengan Bunuh Diri. Dua buku klasik ini, satu dalam bahasa Jerman dan satunya dalam bahasa Perancis, ditulis oleh dua orang perintis dalam sosiologi moderen yang berbicara tentang “nilai” yang berkenaan dengan Eropa, lalu tentang agama Kristen. Paling tidak kalau penulis itu pernah mendapat kuliah pengantar sosiologi, saya yakin bahwa semangatnya untuk menyederhanakan gejala agama Kristen itu akan surut. (Akan halnya agama Budha, mungkin pembaca pernah dengar nama Niels Mulder yang membuat analisa dalam tradisi antropologi sosial Circourel tentang agama itu di Muangthai dalam perbandingannya dengan Jawa, atau bahkan orang bisa ingat soal agama itu yang masuk Cina dan Jepang, dan melihat yang terpampang sekarang; mungkin skema Amien Rais akan tampak mengapa demikian;)

Tentang Iran

Saya tidak punya pengetahuan memadai tentang Iran. Tapi, jika saya omong-omong dengan orang Iran di sini, baik yang Syah, yang Khomeini maupun yang Mujahidin Kalq atau Bani Sadr dan terlebih jika disimak pemikiran Ali Shariati yang dikembangkan dari sebuah sekolah di Paris, dan guru dia terutama Jacques Berque dari Ecole des Hautes Etudes en Science Sociale (EHESS), maka revolusi Iran itu jauh lebih bernuansa dan penuh hal yang tak terduga. Paling tidak menganggap tokoh seperti Shariati bersama tradisi politik Bazargan dari gerakan pembebasan Iran bersama ulama Taleghani sebagai satu wadah dengan Rafsanjani dan Montazeri (yang pertama itu oleh orang Iran disebut rushanfekran dan kedua disebut faqzieh) menurut hemat saya adalah terlalu menyederhanakan proses sosial yang jauh lebih pelik di Iran. Agama Islam Syi’ah itu tidak “hadir” hanya berkat power-relation; dan pembacaan pemikiran Shariati akan menegaskan hal itu, terutama jika diingat bahwa inspirasi metodologis Shariati adalah sekolah Perancis, begitu juga kelompok rushanfekran yang lain yang sekarang banyak berkumpul di Paris.

Tentang Islam di Indonesia

Setelah tulisan-tulisan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo dan lain-lain dalam nomor Ekstra itu, dan Amien Rais menyandarkan telaah Islam dari orang Belanda jenis Ernst Utrecht (dan jenis apa paham Pak Utrecht ini?) bersama “ahli” lain tentang Indonesia, maka tak mengejutkan kalau gejala Islam serta merta terbingkai dalam sebuah analisa materialis-tanda-sadar yang tak lain adalah kerangka acuan “struktur bawah dan atas” dari Marxisme yang paling ortodoks!!

Kalau saja Amien Rais tidak ingin terburu-buru dengan kesimpulannya dan ingin tetap dalam jalur analisa Marxis, maka dalam lingkungan Anglo-Saxon sebaiknya dicatat nama Skocpol, sedang untuk Eropa Kontinental sekolah Frankfurt dan kelompok ecole normale superieure; maka akan dapat ditemukan di mana Marxis Ortodoks itu berdiri!

Hal Akhir

Dari ketiga catatan di atas, saya sama sekali tak bermaksud untuk menyentuh ‘isi’ wawasan Amien Rais yang dipaparkan dalam tulisan itu. Saya hanya mau mengingatkan soal; 1. dasar statistika inferens yang disebut teori acak; 2. disiplin pemikiran rushanfekran yang ditimba dan dikembangkan dari tradisi ilmu sosial Perancis; 3. aneka ragam telaah Marxis, yang eksplisit atau tidak.

Dengan kata lain, begitu agama diterima sebagai gejala dalam tata pergaulan masyarakat, sebagai gejala kemasyarakatan, maka untuk menghindarkan segala rupa kerancuan sebaiknya kesiagaan metodologis lebih tajam disiapkan; karena hanya atas dasar demikian sebuah dialog yang cerdas dimungkinkan.

Akan tetapi bahwa telaah seperti dilakukan oleh Prisma kali ini (sejauh saya tidak salah) memang baru pertama kali ini dilakukan, maka langkah keseleo seperti terdapat dalam tulisan Amien Rais, sebenarnya, adalah hal yang biasa saja. Karena wawasan “Islam Indonesia” seperti diungkapkan oleh penulis-penulis lain memang banyak memberikan keterangan yang amat berharga, dan karena itu dialog dapat terus dilakukan. Emmanuel Subangun, Paris

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan